
Sesuai rencana sebelumnya, malam ini Jeni sudah mulai tinggal di lingkungan pesantren. Menjadi salah satu dari beberapa pembantu rumah tangga dan pondok yang ada di sana. Dia membawa bayinya menuju kamar yang sudah di bereskan di sana.
"Mbak, Asy tinggal dulu ya. Mau ngerendam cucian biar besok gampang di cucinya," pamit Asyiah setelah meletakkan semua pakaian Jeni dan anaknya ke dalam lemari, sejak tadi memang gadis itu selalu cekatan membantu Jeni ini dan itu padahal Jeni sudah melarangnya.
"Iya, As. Makasih ya sudah bantu Mbak. Besok tolong di jelasin aja ya As, tugas Mbak apa aja," tukas Jeni sambil menyusui bayinya.
Asiyah mengangguk, tapi kemudian dia teringat akan sesuatu yang penting.
"Ummm, Mbak. Maaf, tapi tadi Asy lihat di antara semua baju baju yang Mbak bawa, kok nggak ada satupun jilbab yang Asy lihat ya? Maaf, tapi ... apa Mbak Jen emang nggak punya?" tanya Asiyah hati-hati.
Jeni merunduk, tampak gelayut mendung meraba di wajahnya. Sambil menatap wajah bayinya yang terlelap dia mengangguk pelan.
"Iya, As. Sejak dulu saya bahkan tidak pernah berjilbab, saya ... saya bukan wanita baik-baik, As. Tapi ... apa salah kalau saya mau berubah?" cicit Jeni rendah diri .
Asiyah mendekat dan memegang bahu Jeni, senyum lembut terbit di wajahnya yang ayu dan manis.
"Semua orang berhak memulai hidup baru menjadi lebih baik dari sebelumnya, Mbak. Nggak ada yang salah dengan itu, seburuk apapun masa lalu seseorang kalau dia sudah berniat berubah insyaallah akan ada pertolongan Gusti Allah untuknya. Jadi, yakin aja sama keputusan Mbak ya, masalah jilbab nanti Asy bisa pinjamkan sampai nanti Mbak bissa beli sendiri. Maaf, Asy belum bisa kasih cuma cuma soalnya Asy sendiri sudah nggak punya orang tua, Mbak. Kerja di sini sambil mondok juga buat bisa meneruskan hidup yang tinggal seberang kara ini," papar asiyah lirih.
Jeni terenyuh, ternyata di balik deritanya masih ada jiwa lain yang ternyata lebih menderita dari padanya. Tak ingin menambah beban hati Asiyah, akhirnya Jeni hanya mengangguk dan berterima kasih atas bantuannya.
"Terima kasih banyak ya, As. Mbak beruntung kenal kamu," tukas Jeni lembut.
Asiyah tersenyum dan gegas meninggalkan kamar Jeni agar dia bisa beristirahat mengingat hari sudah semakin larut. Asiyah lanjut melakukan tugasnya merendam cucian saat tanpa sengaja Gus Musa masuk ke dapur dan menegurnya.
"Asy, si Mbak Jen udah masuk?" tanyanya.
Asiyah menoleh dan mengangguk dengan tangan tetap sibuk merendam cucian yang baru akan di cuci besoknya.
"Udah, Gus. Udah saya antar ke kamarnya juga," sahut Asiyah.
__ADS_1
"Anaknya jadi di bawa?" Gus Musa bertanya lagi.
Asiyah mengangguk. " Jadi, Gus. Itu ada di kamar sama Mbak Jen. Udah tidur kayaknya."
Gus Musa tak lagi menyahut, saat Asiyah menoleh ke tempat pria muda tampan anak kyai itu tadi berada tempat itu sudah kosong tanpa ada siapapun di sana.
"Huh, kebiasaan kalo ngobrol pasti suka langsung ngilang. Gus ... Gus ...." Asiyah geleng-geleng kepala dan terus melanjutkan kegiatannya.
Selang berapa lama, tampak Gus Musa kembali menyibak tirai menuju dapur dengan membawa beberapa barang di tangannya.
"Asy," panggilnya saat Asiyah baru saja menyelesaikan tugasnya dan sedang mencuci tangan di keran.
"Injih, Gus?" sahut Asiyah sopan, walau bagaimanapun yang sedang berhadapan dengannya adalah anak kyai kondang di seluruh kabupaten itu.
"Sini sebentar," lanjut Gus Musa sambil memilah beberapa barang di tangannya, sebagian ada yang masih berada dalam plastik kresek hitam.
"Ada apa, Gus?" tanya Asiyah setelah berada di dekat Gus Musa dan duduk dengan sopan di lantai di bawah kursi yang di duduki Gus Musa.
"Ini, tolong kamu kasihkan ke Mbak Jen, sepertinya dia bakalan butuh. Kamu bantu juga dia pasang ayunan di kamarnya buat anaknya, biar anteng tidurnya. Pakai kursi yang ada di ruangan belakang, hati hati jangan sampe jatuh. Gimana? Paham?" papar Gus Musa tegas.
Asiyah mengangguk dan menerima semua bungkusan plastik hitam dari tangan Gus Musa, setelahnya Asiyah pamit undur diri untuk melakukan apa yang di pinta Gus Musa.
"Eh ya, As." Gus Musa menyela.
Asiyah kembali berbalik, padahal dia sudah ada di depan pintu keluar.
"Injih, Gus?" tanyanya.
"Bilang saja semua itu dari Umi."
__ADS_1
Asiyah mengangguk. "Baik, Gus."
Gus Musa mengangguk dan mempersilahkan Asiyah untuk keluar, kembali ke asramanya.
Asiyah melangkah gontai di sepanjang jalan setapak menuju kamar Jeni yang berada di paling ujung bangunan pondok yang di khususkan untuk para pengabdi di 'ndalem'. Setelah sampai di depan pintu Asiyah mengetuknya perlahan, karna takut membangunkan bayi Jeni.
"Mbak, Mbak Jen. Mbak Jen sudah tidur?" panggil Asiyah pelan.
Namun suasana malam yang sudah cukup larut membuat suaranya yang sebenarnya pelan menjadi lumayan bergema di seluruh bagian bangunan. Mungkin jika ada yang masih bangun saat ini, akan langsung melongok untuk melihat siapa yang bicara.
Tak lama pintu kamar terbuka, tampaklah Jeni dengan rambutnya yang awut-awutan dan mata merah seolah menahan kantuk.
"Ah, kamu As. Maaf Mbak ketiduran, soalnya si dedek baru mau merem, dari tadi nangis aja soalnya nggak biasa tidur di bawah," tukas Jeni sambil mempersilahkan Asiyah untuk masuk ke kamarnya.
"Memangnya kenapa, Mbak?" tanya Asiyah setelah duduk di lantai beralaskan tikar busa yang di berikan Umi untuk alas bermain di kecil.
Jeni duduk di sebelah anaknya tampak berguling tak nyaman di atas kasur.
"Biasalah, Mbak lupa bawa ayunannya. Biasanya dedek tidur di ayun baru bisa anteng. Di sini nggak ada jadinya susah ini tidurnya," terang Jeni sambil mengusap punggung bayinya, dan sesekali menepuk lembut pahanya agar bayi itu bisa tidur nyaman.
"Wah, kok bisa kebetulan gini ya, Mbak. Ini tadi ada titipan dari Umi, katanya buat Mbak sama dedek bayi. Tadi Asy lihat ada ayunannya juga Mbak, cuma ayunan manual harus di gantung di atas dulu." Asiyah mulai membongkar barang yang di berikan Gus Musa tadi dan mengeluarkan satu set ayunan yang tampak masih baru itu.
Jeni beringsut mendekat, fokusnya hanya tersita ke ayunan tersebut yang kini memang sangat di butuhkan ya.
"Alhamdulillah, Umi baik sekali ya, As. Sampai hal kecil begini pun di perhatikan," ujar Jeni menyentuh ayunan itu dan tak sabar untuk menggunakannya.
Asiyah tersenyum dan membuka bungkusan lain yang juga di bawa. "Iya dong, Mbak. Lihat ini, bahkan Mbak juga di kasih baju sama jilbabnya loh, jadinya Mbak nggk usah pake bekas pakenya Asy. Mbak udah punya yang baru."
Jeni menatap beberapa pasang pakaian itu dengan terpana, jika biasanya seorang majikan akan memberikan baju bekas yang sudah tak muat di pakai, ini justru pakaian baru yang di berikan Umi padannya, padahal Jeni saja belum mulai bekerja. Berulang kali Jeni mengucapkan hamdalah di hatinya.
__ADS_1
Berharap suatu saat dia bisa menjadi sebaik orang yang sudah menolongnya.