
"Sayang?" panggil Axel pada Sarah, kini mereka sudah kembali berada di mobil dalam perjalanan menuju pulang ke rumahnya sendiri.
"Hum?" gumam Sarah yang tengah asik menikmati rujak buah yang tadi di belinya dan tak sempat dia makan karna lebih fokus mendengarkan cerita Jeni. Yang masih kekeh bertahan di rumah itu walau dia hanya tinggal sendiri, Sarah sudah meninggalkan nomor teleponny dan meminta Jeni mengabari jika terjadi apa-apa. Bahkan tanpa sepengetahuan Axel Sarah juga memberi beberapa lembar uang untuk Jeni.
"Pak Ismail ... bukannya nama suaminya si Lasmi? Yang sekarang kerja di rumah kita?" tanya Axel.
Sarah mengangguk membenarkan. "Iya, tapi ... lebih tepatnya sih mantan suami. Lasmi sudah di talak sama Pak Ismail setelah rumahnya aku beli itu loh, Mas. Makanya Lasmi jadi kerja tetap di rumah kita, padahal awalnya aku cuma mau minta dia bantu-bantu pas acara pernikahan kita dulu itu aja."
"Terus rumah itu sekarang mau di apakan, Sayang? Bukannya mubazir kalo di biarkan kosong?"
Sarah tampak berpikir sejenak. "Yah, bener juga sih, Mas. Cuma mau di kontrakin kok rasanya sayang ya? Bagus gitu rumahnya. Nanti di kontrakin ke orang malah jadi jelek lagi."
Axel turut berpikir, lalu tanpa sengaja sebuah ide melintas di kepalanya.
"Saran Mas sih, kita sewakan aja. Tapi ... penyewanya kita yang tentukan, gimana?"
"Kalau Mas maunya gitu ya silahkan, lagipula aku juga belum ada plan untuk rumah itu. Kemarin beli karna kebetulan aja dapat harga murah. Hitung-hitung investasi ya kan?"
Axel mengangguk dan mengelus rambut halus Sarah yang dibiarkan tergerai. Setelahnya tak ada lagi obrolan di antara mereka sampai mereka sampai di rumah. ( Sarah tidur soalnya)
****
"Ya ampun , kenapa lama sekali sih kalian? Momy sampai khawatir tau." Nyonya Ellen yang membukakan pintu untuk mereka tampak memasang raut wajah kesal, apalagi melihat Sarah yang masih dalam kondisi mengantuk masuk ke rumah dengan sempoyongan.
Axel memapah istrinya dan dengan perlahan membaringkan lagi Sarah di atas sofa empuk di ruang keluarga. Pak satpam yang di mintanya membantu membawakan makanan dan es tadi mereka beli masuk dengan tergopoh-gopoh.
"Makasih, Pak." Axel tersenyum pada sang satpam yang langsung saja kembali keluar setelah meletakkan semua bungkusan itu.
"Kalian dari mana aja sih, Ax? Kenapa pulangnya lama kalo cuma ke rumah sakit?" cecar Nyonya Ellen lagi kali ini sambil duduk di atas kepala Sarah yang malah kembali terlelap.
"Tadi ketemu temen di jalan, Mom. Makanya mampir dulu ke rumahnya," jawab Axel apa adanya tanpa menyebutkan siapa teman yang dia maksud.
"Terus gimana hasil USG nya? Sudah berapa minggu cucu Momy?" tanya Nyonya Ellen antusias.
__ADS_1
Axel tersenyum sambil memegang perut istri yang kini tampak sedikit menonjol karna dia berbaring telentang itu. Terasa sedikit gelenyar di sana, pertanda adanya kehidupan di dalamnya.
"Hei, di tanya malah senyam senyum. Kamu kira kamu aja yang mau seneng, bagi-bagi dong." Nyonya Ellen menepuk lengan menantunya.
Axel tertawa pelan dan mengambil kertas hasil USG yang tadi di letakkan Sarah di tas kecilnya. Dan memberikannya pada Nyonya Ellen.
Seketika mata nyonya Ellen yang di Pagari eyeliner tipis itu melebar dengan senyuman yang tak bisa lagi dia tahan.
"Sarah beneran hamil? Momy bakalan jadi nenek?" gumam Nyonya Ellen terharu.
"Iya, Mom. Tapi ... ada satu kabar gembira lagi loh, ada di situ apa Momy nggk lihat?" tukas Axel menunjuk kertas hasil USG yang masih ada di tangannya.
Dahinya berkerut karna sebenarnya juga kurang paham membaca hasil USG, Nyonya Ellen hanya tahu melihat usia kandungannya saja.
"Apa, Ax? Momy nggak paham? Coba kamu jelasin aja kenapa sih? Seneng banget bikin momynya penasaran." Nyonya Ellen memanyunkan bibirnya namun matanya tak lepas menatap hasil USG calon cucu pertamanya itu.
"Coba Momy lihat lagi hasil USG nya, di situ bayinya nggak cuma satu loh, Mom yang berkembangnya."
Mata nyonya Ellen membulat. "Jadi ... cucu Momy kembar?"
Tak lama para calon kakek kakek dan nenek nenek itu pun kembali berkumpul di ruang keluarga, namun anehnya seberisik apapun mereka Sarah seolah tak terganggu bahkan tidurnya semakin lelap saja.
"Nak, beneran calon cucu Mama kembar?" cecar Sonia.
"Kamu nggak bohong kan, Ax? Ini beneran kan?" Tuan Bryan turut bersuara.
"Wah, ini pasti karna jamu yang waktu itu Papa kasih ke kamu kan, Nak? Wah ternyata manjur juga ya. Langsung bisa dapat anak kembar," kekeh Andrew dengan mata berbinar.
Axel yang kelimpungan dengan semua pertanyaan calon kakek nenek itu langsung berdiri dan mengangkat tangan.
"Sebentar Tuan-tuan dan Nyonya-Nyonya, ada satu lagi yang harus saya sampaikan. Tolong jangan di sela," ucap Axel sambil berdiri.
Wajah wajah berseri pada calon kakek nenek itu pun menatap Axel dengan tak sabar.
__ADS_1
"Buruan ah, jangan lama-lama kalo mau ngasih kabar gembira tuh." Sonia protes, padahal belum apa-apa dasar calon nenek-nenek. Eh
"Sabar Mama, iya ini Axel sampaikan ya. Calon anak kami memang kembar, tapi ... bukan cuma dua melainkan kembar tiga!"
"Alhamdulillah!" seruan itu menggema seusai Axel selesai menyampaikan beritanya.
.
Semua gembira menyambut calon anggota baru keluarga mereka yang akan langsung membuat rumah itu menjadi sangat ramai dan rusuh nantinya.
****
Sesuai kesepakatan para kakek dan nenek itu, malam itu juga mereka langsung mengadakan pengajian untuk mendoakan kehamilan Sarah yang di harapkan akan lancar hingga tiba waktunya melahirkan.
Mereka mengundang para tetangga dekat juga anak yatim yang ada di yayasan yang tak jauh dari rumah Sarah dan Axel.
Pengajian berjalan lancar, bahkan makanan konsumsi yang Andrew pesan dari warung nasi goreng Axel sendiri yang langsung di kerjakan oleh satrio sebagai karyawan kepercayaannya langsung ludes tanpa sisa, bahkan kini mereka meminta tambahan konsumsi dari cabang yang lain untuk segera mengirimkan ke rumah Sarah.
"Nasi goreng ini sejak dulu memang selalu juara, wajar aja kalo sekarang cabangnya ada di mana-mana," ucap salah satu tamu di pengajian yang tak sengaja di dengar Sarah.
Sarah tersenyum, dia bersyukur apa yang di rintis suaminya sejak sebelum mereka bersama kini sudah menampakkan hasil yang luar biasa. Bahkan semua orang pun mulai mengenal dan memuji nasi gorengnya.
"Mbak Sarah memang beruntung, punya suami yang penyayang dan mapan. Saya aja mau kalo di kasih satu yang kaya Mas Axel itu," sahut salah satunya lagi sambil terkikik pelan agar nasi yang baru saja ia suapkan ke mulut tidak berhamburan keluar.
Sarah sebenarnya masih ingin mendengar lebih banyak pendapat orang-orang tentang suaminya, namun desakan dari kantung kemihnya ternyata jauh lebih tak tertahankan.
"Hah, padahal lagi seru-serunya," kekeh Sarah sambil beranjak masuk ke kamar mandi.
Namun baru saja akan melangkah suara dering ponsel miliknya berbunyi nyaring, Sarah terlebih dulu melihat siapa penelponnya sembari berniat meninggalkan ponsel di meja sebelum masuk ke kamar mandi.
.
Tapi entah kenapa panggilan dari nomor tak di kenal itu malah membuatnya ingin menerima panggilan sekarang juga.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum," ucap Sarah.
"Wa ... wa'alaikumsalam, Mbak Sarah tolong ... a- aku, Mbak. Aku ... mau melahirkan!"