
Gus Musa sontak berbalik dan mendapati Jeni, istrinya sudah duduk di atas ranjang pasien dengan wajah berseri-seri.
"Dek Jen? Kamu sudah sadar?" Gus Musa berjalan tegas menuju ke arah ranjang Jeni dan merangkul pundaknya.
"Le, Jeni kenapa?" tanya Umi Nafisah yang ternyata masih mendengar suara mereka karena sambungan telepon yang belum di matikan.
Gus Musa kembali menempelkan ponselnya di telinga.
"Alhamdulillah, dek Jen sudah sadar, Um. Tadi soalnya sempat pingsan pas di pemakaman, tapi Alhamdulillah ada hikmahnya juga peristiwa itu, kita jadi tahu lebih cepat kalau dek Jen kembali hamil," tukas Gus Musa dengan senyum simpul wajah tampannya.
"Ya sudah, biar Umi susul ke sana ya. Sekalian bawa Abbas, dia udah kangen sama ibunya ini sepertinya."
"Eh nggak usah, um. Ini juga sepertinya nggak perlu nginap kok, sebentar lagi juga kami pulang," sela Gus Musa cepat.
"Oh, ya sudah kalau begitu. Umi mau masak kesukaannya Jeni dulu saja kalau begitu, supaya dia semangat lagi," pungkas Umi Nafisah sebelum mematikan sambungan teleponnya setelah mengucapkan salam.
Gus Musa memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya, dan merekuh sang istri ke dalam dekap hangatnya.
"Mas," panggil Jeni lirih.
"Hmm?" sahut Gus Musa sembari mengecup kening sang istri lama sekali.
"Apa benar yang kamu bilang lagi kalau Jeni hamil lagi?" tanya Jeni setelah Gus Musa menjauhkan wajahnya, dan menatap netranya dalam.
"Kamu nggak percaya sama Mas?"
Jeni menggeleng pelan dan tersenyum manis pada suaminya, bibir yang sebelumnya tampak pucat kini sudah mulai terlihat kemerahan kembali.
"Nggak, hanya ... rasanya masih belum percaya, Mas. Jeni seneng sekali kalau itu benar," pungkasnya pelan.
Gus Musa kembali menangkup wajah sang istri dengan keduanya tangannya, membuat hati Jeni kembali berdesir seperti layaknya pertama kali Gus Musa menyentuhnya.
"Bagaimana kalau kita langsung periksakan saja? Mumpung di rumah sakit, supaya lebih yakin juga."
Jeni mengangguk dengan bersemangat.
"Ayo, Mas."
Gus Musa memapah Jeni turun dari ranjang, walau masih merasa lemas namun demi mengetahui kebenaran akan kehamilannya Jeni sekuat tenaga berjalan beriringan dengan sang suami. Menuju ke meja informasi dan selanjutnya ke ruangan dokter sp. Og.
__ADS_1
"Permisi," ucap Gus Musa sambil menuntun Jeni masuk ke ruangan serba putih itu.
"Silahkan, ada yang bisa saya bantu Pak, bu?" tanya seorang dokter perempuan dengan wajah ramah dan lembut pada mereka.
Di bantu Gus Musa, Jeni duduk di hadapan dokter itu dan menyampaikan maksudnya.
"Saya, mau periksa kehamilan, Dok. Ah, maksud saya apakah saya betul hamil atau tidak." Jeni menjawab dengan suara yang masih lemah, namun semangatnya tampak menggebu dari binar matanya yang menampakkan kegembiraan dan pengharapan.
Dokter itu tersenyum dan mengambil sebuah wadah kecil dari bawah laci mejanya.
"Sebelumnya, apa ibu ingat kapan terakhir kali datang bulan?" tanya dokter itu sebelum memberikan wadah itu pada Jeni.
Jeni tampak berpikir sesaat.
"Kalau tidak salah sepertinya, bulan lalu, dok."
"Baiklah, kalau begitu silahkan ke kamar kecil dulu untuk menampung urinenya ya. Silahkan di sana." Dokter itu menunjuk ke sudur ruangan dimana ada sebuah kamar mandi kecil di sana yang tampak bersih dan wangi.
"Mas bantu ya, dek," ujar Gus Musa dengan sigap memegangi tangan dan pundak sang istri saat Jeni mulai bangkit.
"Nggak papa, Mas. Jeni bisa sendiri kok," tolak Jeni halus, hingga membuat dokter itu tersenyum menyaksikan kemesraan mereka berdua.
Jeni mengalah, dan membiarkan Gus Musa mengantarnya hingga ke depan pintu kamar mandi.
"Di sini aja, Mas. Jeni bisa kok di dalam sendiri," ucap Jeni pelan namun tegas tak bisa di bantah, belum sempat Gus Musa melarang Jeni sudah meninggalkannya masuk ke dalam kamar mandi dan menutup pintunya rapat-rapat.
Hampir lima menit lamanya Jeni berada di dalam sana, Gus Musa sudah cemas sekali sambil berkali kali melihat ke jam di tangannya.
"Dek Jen, sudah belum?" tanyanya entah untuk yang ke berapa kalinya.
Jeni tak menjawab, bukan tanpa alasan. Tapi semenjak tinggal di pondok dia tahu haram hukumnya mengajak bicara atau menyahut omongan seseorang saat berada di kamar mandi.
Ceklek
Jeni membuka pintu kamar mandi perlahan, dan dengan cepat Gus Musa langsung menyambutnya dengan memapahnya kembali ke tempat duduk.
Jeni menyerahkan kembali wadah kecil yang telah terisi urinenya itu ke pada sang dokter, dokter itu mencelupkan sebuah stik kecil ke dalamnya dan menunggu beberapa saat.
"Hasilnya positif, itu artinya Ibu betul hamil. Untuk lebih jelasnya tentang kondisi bayi di kandungan apa mau sekalian kita lakukan USG?" tanya sang dokter lagi.
__ADS_1
Jeni menutup mulutnya tak percaya, sedangkan Gus Musa serta merta langsung memeluk Jeni dengan air mata bahagia di wajahnya.
"Iya, dok. Sekalian USG saja, saya mau lihat calon anak saya," sahut Gus Musa penuh semangat.
Dokter itu tersenyum simpul lalu mengarahkan Jeni untuk mengikutinya dan berbaring di atas sebuah ranjang dengan layar monitor di dekatnya.
"Perutnya Ibu masih rata, kemungkinan belum akan terlalu terlihat, Pak." dokter itu berkata sambil mengoleskan gel khusus ke permukaan perut Jeni.
"Maksudnya bagaimana, dokter? Saya kurang paham?" tanya Gus Musa yang memang baru pertama kali akan mempunyai anak kandungnya sendiri itu.
"Mungkin baru akan terlihat kantong janinnya saja, Pak. Karna usia kandungannya yang kelihatan masih awal, nanti kalau sudah masuk bulan ke lima baru bisa melihat bentuk wajah bayinya," jelas dokter itu dengan sabar.
"Ya sudah tidak apa-apa, dok. Saya mau lihat perkembangan calon anak saya dari awal," sahut Gus Musa dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya.
Sang dokter mulai menggerakkan alat USG itu di atas perutnya Jeni, terlihat di layar sebuah kantong janin sudah mulai terbentuk.
"Ini kantong janinnya sudah terbentuk dan sudah berkembang ya Pak, Bu. Usianya kandungannya sudah enam minggu, dan kondisinya sehat."
Gus Musa menangkupkan tangan di wajahnya mendengar penjelasan sang dokter. Tak sabar rasanya untuk segera pulang dan mengabarkan kabar bahagia lainnya ini pada orang tuanya dan terutama Abbas, putra pertama mereka yang sudah lama mendamba seorang adik bayi kecil.
****
Sementara itu di lain tempat.
"Jadi ... kisah kita akan berhenti sampai di sini?" tanya Rahman pada Asiyah, di sebuah saung di tengah sawah yang sepi dari lalu lalang orang.
Suasana senja yang mendung membuat hati yang lara semakin tersayat sayat.
Asiyah membuang pandangan jauh ke arah matahari yang kian tergelincir ke peraduan.
"Mungkin, inilah cara takdir menunjukkan jalan hidup kita masing-masing, Kak. Pergilah, carilah kebahagiaan Kakak sendiri, jangan terlalu terpatri pada masa lalu yang bahkan tak menoreh kisah apapun tentang kita.".
Rahman menarik nafas dalam, jantungnya bergemuruh. Nafasnya sesak hingga buliran bening yang sejak tadi di tahannya akhirnya jatuh jua.
"Maaf, tapi aku tidak akan menyerah. Jika takdir yang merestui kita sekarang, akan aku tunggu masa itu akan datang. Masa dimana akulah yang akan menjadi pendampingmu, tak peduli walau itu akan menghabiskan seluruh sisa umurku," pungkas Rahman lalu beranjak pergi setelah sebelumnya meletakkan sebuah Bros jilbab cantik di sisi tempat duduk Asiyah yang bersebrangan dengannya.
Asiyah menatap nanar punggung pria Sholeh yang selalu dan masih bersemayam dalam hatinya itu.
"Aku akan menunggu masa itu, Kak. Entah di kehidupan ini atau kehidupan selanjutnya."
__ADS_1