MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU

MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU
Chapter 50.


__ADS_3

"Sayang kamu nggak papa?" tany Axel setelah Sarah keluar dari kamar mandi dengan mata memerah dan wajah yang pucat.


 Sarah menggeleng dan mendorong sedikit tubuh Axel Agra tidak menghalangi pintu.


"Sayang mau kemana? Kamu sakit? Mas panggil dokter ya." Axel membuntuti istrinya yang tampak sangat lemas itu.


 Sarah masih menggeleng, dia berpegangan pada dinding dan berusaha mencapai kamarnya. Setelahnya Sarah langsung merebahkan diri di atas kasur empuk saksi cintanya dengan Axel.


"Gimana Sarah, Nak?" tanya Sonia yang baru saja kembali dari dapur sambil membawa segelas teh hangat.


 Sedang Andrew yang cemas langsung menelpon Tuan Bryan dan juga dokter keluarga Sarah untuk memintanya segera datang memeriksa menantunya.


"Nggak tau, Ma. Tapi kayaknya lemes banget. Kamu kenapa, Sayang? Nggak enak badan ya?" Axel mengelus kening Sarah dan menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah cantik istrinya itu.


 Namun Sarah urung menjawab, mulutnya terasa sangat pahit dan kering , jangankan untuk menjawab membuka mulutnya saja Sarah enggan karna rasa mual yang masih mendera.


"Coba kasih minyak angin dulu, Ax. Tadi Papa sudah telepon dokter sama mertua kamu. Semoga mereka cepet sampai, Kakak khawatir sekali." Sonia duduk di dekat kaki Sarah dan mulai memijitnya.


 Kaki Sarah terasa dingin, membuatnya lumayan cemas kalau sampai terjadi sesuatu pada menantu yang di sayangnya itu.


 Axel mengangguk dan mencari minyak angin yang selalu di sediakan Sarah di dalam kotak p3k di laci nakas. Setelah mendapatkan minyak itu Axel lekas mengusapkan di punggung dan juga pelipis Sarah sambil memijitnya ringan.


"Di minum dulu tehnya ya, Sayang. Ini sudah hangat," ujar Sonia sambil mengangkat gelas teh yang tadi di buatnya dari atas nakas.


 Perlahan Sonia membantu Sarah untuk minum.


"Makasih ya, Ma. Mas maaf bikin kamu cemas," gumam Sarah lirih sambil kembali membaringkan tubuhnya yang memang terasa aneh.


 Mulutnya masih terasa pahit, namun sudah lumayan tidak kering setelah minum teh. Jadi Sarah memaksakan tersenyum agar keluarganya tidak khawatir berlebihan.


"Kamu kenapa, Sayang? Mana yang sakit?" tanya Axel penuh perhatian.


 Sarah tersenyum dan menggeleng. "Nggak papa kok, Mas. Cuma rasanya mual aja sama pusing dan lemes. Kayaknya aku masuk angin gara-gara berenang di hotel kemarin."


 Sarah mengenang saat bulan madunya dengan Axel tiga hari yang lalu, dia begitu bandel dan malah berenang hampir tiga jam lamanya sampai kulit jari tangan dan kakinya keriput barulah Sarah mau naik.

__ADS_1


"Ya udah, lain kali kalo mau berenang jangan lama-lama lagi ya. Nggak enak kan kalo sampe sakit?" ucap axel lembut, selalu penuh dengan perhatian.


 Tak lama terdengar suara klakson mobil di depan halaman rumah yang memang sengaja tidak di beri pagar selain tanaman hias pembatas halaman. Jadi mobil bisa langsung masuk ke halaman rumah yang luas dan asri itu.


"Itu kayaknya mertua kamu sudah dateng, Mama ke depan dulu ya. Axel jaga istri kamu baik-baik dulu ya, jangan lupa tehnya di habiskan itu," ujar Sonia sambil berjalan meninggalkan dua sejoli yang sedang jatuh hati itu.


 Axel mengangguk dan menuruti perintah sang mama untuk membantu Sarah menghabiskan tehnya. Sekarang perut Sarah lumayan hangat dan tidak mual lagi setelah semua teh hangat itu masuk ke lambungnya.


"Sarah! Sweetie! Kamu tidak apa-apa?" cecar Nyonya Ellen yang tampak sangat khawatir dengan kondisi putrinya, setelah di kabari Andrew tadi Nyonya Ellen dan suaminya yang sedang sibuk melakukan perombakan karyawan besar-besaran di perusahaannya langsung meninggalkan tempat dan meluncur ke rumah Sarah.


"Tenanglah, Mom. Sarah okey, ada Mas Axel sekarang di sini yang jagain Sarah. Mom dan Dad jangan terlalu khawatir ya." Sarah tersenyum manis.


 Tuan Bryan menepuk pundak Axel yang duduk di atas kasur tepat di samping istrinya.


"Dady harap kamu akan selalu seperti ini dengan Sarah, ingat dia pernah gagal membina rumah tangga. Tolong jangan ulangi kesalahan yang sama dengan mantannya, Daddy percaya kamu orang baik, Nak."


 Axel mengangguk. "Insyaallah saya akan jaga amanah ini dengan setulus hati, Dad. Doakan kami agar bisa selalu langgeng hingga ke surga."


 Semua orang mengamini ucapan Axel. Dan tak lama Andrew tampak datang dengan membawa seorang dokter perempuan yang adalah dokter keluarga Nyonya Ellen. Sedang Sonia kini tengah sibuk di dapur membuat minuman untuk semuanya.


"Saya mual, dok. Pusing lemas juga, terus rasanya mulut saya nggak enak. Kering dan pahit," sahut Sarah dengan wajah merah menahan mual yang kembali mendera.


 Dokter itu manggut-manggut. "Kapan terakhir kali Nona menstruasi?"


 Sarah terkejut dan mengerutkan keningnya. "Menstruasi? Kenapa malah menanyakan itu, Dok? Memangnya apa hubungannya?"


  Dokter tersenyum. "Hanya mau memastikan."


 Nyonya Ellen tampak menatap suaminya dan tersenyum senang, filingnya mengatakan ya namun dia harus menunggu hingga semua lebih jelas.


"Ummm ... sepertinya sih bulan lalu, dok." Sarah mencoba mengingat walau tak begitu yakin.


Dokter itu semakin melebarkan senyumnya, sedangkan Axel malah terbengong tak mengerti.


 " Coba Nona Sarah pakai ini dulu ya, apa mau di ajari?" tanya dokter itu sambil menyodorkan sebuah plastik kecil pada Sarah.

__ADS_1


 Sarah mengambilnya dan membaca tulisan di kemasannya. Serta merta matanya membulat sempurna.


"Dok ... apa mungkin ... saya ...."


 Sarah terbata-bata saking menahan haru dan bahagia di dalam hatinya walau mencoba alat tes itu tapi entah kenapa dia sudah merasa begitu senang.


 "Mungkin saja, jadi apa mau saja tunjukkan cara pakainya? Atau mungkin Nyonya mau membantu?" tanya dokter menatap Nyonya Ellen yang kini senyumnya sudah semakin lebar itu.


"Ya, biar saya yang bantu dokter." Nyonya Ellen mendekat dan hendak membimbing Sarah. Namun Sarah malah diam sambil memperhatikan terus kemasan alat tes yang sejak dulu hanya bisa di bayangkannya saja itu karena Bima yang enggan memiliki anak dengannya.


"Ayo, Nak. Momy bantu pakai alatnya," ujar Nyonya Ellen menjulurkan tangannya.


"Ah, Sarah ... Sarah pake sendiri saja, Mom. Sarah malu ," jawab Sarah sambil menyembunyikan wajahnya di antara telapak tangannya.


 Nyonya Ellen tersenyum. "Ya sudah, kamu hati-hati ya. Semoga hasilnya sesuai yang kita harapkan."


 Sarah tersenyum mengangguk, dan dengan di bantu Axel, Sarah perlahan menuruni ranjang dan menuju ke kamar mandi kembali.


"Perlu Mas temani?" tanya Axel mengerling.


 Sarah mencubit pelan perut suaminya dan melotot. "Jangan macam-macam kamu, Mas."


.


 Axel terkekeh dan membiarkan Sarah masuk ke kamar mandi sendiri, cukup lama Sarah berdiri dan menimbang dengan berdebar.


"Duh, coba nggak ya? Sebenarnya aku juga udah pengen sekali punya bayi, tapi kalo rupanya hasilnya negatif gimana? Tapi kalo nggak di coba ya nggak tau ya? Ahh ... udahlah coba aja," tukas Sarah akhirnya sambil mengambil sebuah wadah kecil dari wastafel yang biasa untuk wadah cotton bud dan membawanya ke kloset.


  Sarah mengucap basmallah dalam hati saat akan mencelupkan stik kecil mungil itu ke urine nya yang sudah tertampung di wadah.


 Sepersekian detik menunggu, dan satu menit kemudian hasilnya sudah tampak bahkan sangat jelas. Air mata Sarah tumpah tanpa bisa di cegah.


"Sayang, kamu nangis?" panggil Axel dari luar karena merasa cemas mendengar Sarah yang terisak.


"Massss ....!"

__ADS_1


__ADS_2