
Hari ini Sarah sudah di perbolehkan pulang dari rumah sakit, kondisinya berangsur membaik begitu juga tiga bayinya yang bertumbuh dengan sangat stabil.
Axel sudah menyiapkan tiga baby sitter sekaligus untuk membantu mereka mengurus triplets agar Sarah bisa beristirahat dengan maksimal. Axel senantiasa mendengarkan apa kata dokter dan mertuanya juga mamanya tentu saja untuk memberi yang terbaik bagi istri dan anak anaknya.
"Sayang, apa perlu bantal lagi untuk di punggung?" tawar Axel sambil menyodorkan sebuah bantal asli bulu angsa pada Sarah yang kini duduk di sampingnya.
Mereka memang pulang sendiri dengan membawa seorang supir, sedangkan triplets di bawa oleh para nenek dan kakek mereka di mobil Tuan Bryan.
Sarah tampak melamun, hingga tak menyadari pertanyaan Axel padanya.
"Sarah, sayang?" panggil Axel, kali ini sambil menyentuh sedikit pipi istrinya yang tampak berisi karena nafsu makannya yang ikut naik seiring dengan kuatnya bayi bayi mereka menyusu.
Sarah terjingkat kaget. "Hah, ya ... apa? Apa? Oh maaf ,sayang. Aku tidak dengar."
Axel tersenyum dan mengalihkan anak rambut yang menutupi wajah cantik istrinya.
"Kamu melamun?" tanyanya lembut.
Sarah tertunduk. "Ah, tidak ... hanya teringat kejadian kemarin. Sebenarnya siapa uncle Edwin? Kenapa selama ini aku bahkan tidak pernah bertemu dengannya?"
Axel mendesah pelan. "Yah, kamu benar, Sayang. Jangankan kamu, Mas pun merasa ada yang tidak beres dengan paman Edwin. Tapi ... sudahlah, Dady bilang kita tidak perlu khawatir tentang itu kan? Jadi biarkanlah itu menjadi urusan mereka, kita tidak perlu ikut campur terlalu dalam lagi."
"Baiklah, semoga saja memang tidak akan sesuatu yang tak di inginkan ke depannya nanti. Jujur, aku takut, Mas." Sarah kembali tertunduk dengan redup di wajahnya.
Axel mencoba mengerti, dia tidak meminta Sarah untuk mengikuti kemauannya untuk langsung tidak memikirkan permasalahan itu lagi. Tentunya sebagai seorang anak, Sarah juga mempunyai perasaan cemas jika ayahnya sampai terlibat sengketa dengan orang tampak berbahaya seperti Edwin.
Sarah mulai gundah, Axel yang menyadari itu membawa kepala Sarah ke dalam pelukannya dan merebahkannya di sana sambil sesekali mengelus rambutnya dan mengecupnya perlahan.
__ADS_1
"Tidurlah, permata hatiku. Lelaplah duhai ratuku, sudahi gundah dan tangismu. Biarkan dunia berputar dalam porosnya, kita nikmati semua prosesnya. Tenanglah, tenanglah dan lelaplah ... mimpikan aku dalam tidurmu."
****
Tak berapa lama, akhirnya mobil yang mereka naiki tiba di kediaman Sarah dan Axel.
Sarah yang masih terlelap di pelukan Axel terpaksa di gendong karna dia tak banyak bangun dan beranjak untuk masuk ke rumah.
"Kita bahkan sudah punya tiga anak dan kau masih belum berubah, Sayang. Masih saja manja," kekeh Axel sambil menggendong Sarah menuju lantai atas sambil sesekali mencuri ciuman di wajahnya.
Sarah bergerak karena merasa geli dan tak nyaman, namun sama sekali tak mau membuka matanya yang terasa begitu berat dan lengket itu. Untungnya sebelum pulang tadi Sarah sudah memompa ASI-nya untuk di berikan pada triplets jika sewaktu-waktu mereka ingin menyusu tanpa harus membangunkannya.
Axel meletakkan tubuh Sarah ke tempat tidur dengan hati hati, setelah menyentuh kasurnya Sarah langsung memeluk guling dan terlelap dengan nyaman. Axel tersenyum simpul, mendaratkan sebuah kecupan ringan di pelipis Sarah dan beranjak meninggalkannya keluar kamar untuk menyambut triplets.
Axel berjalan keluar, tiga suster yang di sewanya dari yayasan untuk menjaga anak anaknya nanti baru saja tiba dengan mengendarai mobil yayasan.
"Ah, Madam. Maaf merepotkan sampai harus di antar segala." Axel menjabat tangan madam Luna.
Madam Luna terkekeh. "Aahhh, nggak usah sungkan. Ini hanya pekerjaan kecil, sekalian tadi saya lewat mau menemui calon majikan yang lain. Makanya sekalian saja saya antarkan mereka. Supaya nanti Tuan tidak kerepotan mengurus anak anak sendiri setibanya mereka dari rumah sakit."
Axel mengangguk dan menatap ramah para calon baby sitter bayi bayinya yang wajahnya semuanya masih tampak muda.
"Mereka sepertinya tidak lebih tua dari saya, apa madam yakin kalau mereka berpengalaman mengurus bayi? Saya tidak mau ya ada masalah ke depannya."
Madam Luna mengangguk. "Yap, saya pastikan tidak akan ada masalah, mereka memang berwajah awet muda. Padahal kalau Tuan melihat KTP nya, saya yakin Tuan akan pingsan. Haha, mereka bisa tetap cantik dan awet muda begitu karna dulunya bekerja untuk keluarga di luar negri sana. Jadi ... TKW lah istilahnya, tapi khusus baby sitter. Tau sendiri lah ya kan, gaji di luar itu tinggi, jadi kalau cuma untuk perawatan mah, kecil lah buat mereka hehehe. Ini saja mereka mau kerja di sini karena gaji yang di tawarkan nggak main main, kalau nggak ya mungkin mereka lebih memilih kembali ke luar negeri."
"Baiklah, saya akan coba dulu ya. Semoga saja mereka benar benar berpengalaman seperti yang madam katakan. Saya tidak ingin pusing jika sampai terjadi apa-apa pada bayi bayi saya." Axel menatap madam Luna tajam.
__ADS_1
Madam Luna kembali terkekeh. "Ya ya, Tuan tenang saja, saya pastikan Tuan akan puas dengan hasil kerja para baby sitter ini. Kalau begitu saya permisi dulu ya, kalau ada apa apa silahkan Tuan hubungi lagi saja saya."
Axel mengangguk, dan membiarkan madam Luna kembali menaiki mobilnya dan pergi dari halaman rumahnya yang memang tidak tertutup karena menunggu mobil milik mertuanya sampai.
Benar saja, baru saja Axel hendak menanyakan nama dari para calon perawat anaknya itu mobil milik Tuan Bryan memasuki halaman dan berhenti tepat di depan teras rumah.
"Assalamu'alaikum," ucap Nyonya Ellen dan Sonia berbarengan. Masing masing mereka menggendong satu bayi, Azkara bersama Nyonya Ellen, Adam bersama Sonia dan Ayuna bersama Andrew. Sedang Tuan Bryan yang menyetir.
"Wa'alaikumsalam," sahut Axel dan para baby sitter itu bersamaan.
"Wah, ini calon baby sitter buat si kembar ya, Ax? Cepat sekali ya sampainya?" celetuk Sonia sambil mendekati para baby sitter wanita itu.
"Iya, baru saja di antarkan ke sini sama yang punya yayasan."
"Si Luna?" sela Sonia sambil memindai para baby sitter itu, yang kini tampak mengangguk sopan padanya.
"Iya, teman Mama itu." Axel menyahut lagi.
Mereka pun masuk ke dalam rumah, dan duduk sejenak di ruang tamu. Axel dengan sigap menyiapkan asi perah yang sudah di pompa Sarah dan meletakkannya di penghangat. Berjaga jaga kalau kalau tiga bayinya haus nanti.
"Karena kalian sudah di sini, sebelum mulai bekerja saya ingin tau nama dan asal kalian," ucap Sonia sambil meletakkan baby Adam di atas baby swing listrik yang sudah di siapkan Axel untuk anak anaknya.
"Nama saya Susan, asal saya dari Klaten," ucap suster pertama dengan gaya kemayu khas masyarakat Jawa tulen.
"Saya Mia, asal saya dari Surabaya," ucap suster berkaca mata dengan wajah ayu nan putih bersih. Logat Jawanya hampir hilang mungkin karena terlalu lama bekerja di luar negeri seperti kata madam Luna tadi.
"Kalau yang ini siapa namanya, seperti saya pernah liat kamu ... tapi ... Entah di mana?" celetuk nyonya Ellen menunjuk suster terakhir yang belum memperkenalkan diri dan hanya menunduk saja sejak tadi.
__ADS_1
"Sa- saya ... saya Aisyah, saya ... saya dari ..., saya dari kota ini," ucap suster terakhir dengan gugup. Bahkan dia sama sekali tidak berani menatap nyonya Ellen yang sejak tadi hanya terfokus padanya.