MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU

MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU
Chapter 52.


__ADS_3

Sarah yang sudah tak sabar menunggu suaminya membeli es kelapa muda itupun turun karena merasa tenggorokannya sudah sangat kering dan meminta untuk lekas di siram es segar tersebut.


Tapi kening Sarah langsung berkerut dalam ketika melihat Axel yang kini tengah berbicara dengan seorang wanita hamil berpakaian lusuh yang dia sendiri tidak kenal, atau lebih tepatnya penampilan wanita itu yang membuatnya tidak mengenalinya.


"Mas, kok lama?" tanyanya setelah berada dekat dengan Axel.


"Ah, Sayang. Maaf, Mas lagi bicara dulu sama Jeni. Makanya belum antar es kamu, kamu kenapa keluar? Di sini panas," tutur Axel sambil memayungi kepala Sarah dengan tangannya.


Jeni hanya tersenyum getir melihat kemesraan kedua pasangan itu, sesal itu perlahan merayap. Sambil mengusap perutnya yang membuncit Jeni bangkit dan hendak pergi.


"Mas, Mbak saya ... pamit dulu ya," ucapnya dengan kepala tertunduk tak berani menatap Sarah.


Sarah yang merasa mengenali suara itu langsung mencegahnya.


"Eh, tunggu ...."


  Sarah mencekal pergelangan tangan Jeni, dan mau tak mau Jeni pun berbalik walau dengan perasaan tak menentu.


"Maaf, Mbak. Saya ... cuma mau pulang."


"Dimana rumah kamu? Apa masih di tempat yang lama?" tanya Sarah.


Jeni mengangguk pelan.


"Kami antar," titah Sarah tegas dan entah bagaimana akhirnya setelah mengambil semua pesanannya Sarah dan Axel pun mengantar Jeni ke rumahnya. Tak lupa mereka juga membelikan makanan untuk Jeni yang tampaknya sangat kelaparan itu.


Sepanjang jalan menuju rumah Jeni, pikirkan Sarah terus tertuju pada perut buncit Jeni yang tampak sangat menonjol di balik daster lusuhhya itu. Penampilan Jeni kini benar-benar berbanding terbalik dengan penampilannya dulu yang super modis dengan semua barang-barang branded yang dia beli dari hasil menjadi simpanan. (Author bingung nyebutnya apa)


"Sudah sampai," tukas Axel setelah memarkirkan mobilnya di depan rumah yang dulu dia tempati bersama Jeni.


Rumah itu masih sama, hanya bedanya terlihat suram dan kurang terurus. Catnya pun tampak mulai terkelupas di sana sini.

__ADS_1


"Makasih ya,  Mbak . Bang makasih,"  Jeni beringsut hendak keluar dari mobil dengan sedikit bersusah payah karna perut besarnya mulai nenghalangi.


"Jen, apa kamu nggak mau ajak kami mampir?" celetuk Sarah sambil menoleh ke belakang.


Jeni tampak berpikir sejenak, sebenarnya dia malu membawa Sarah dan Axel yang adalah mantan suaminya itu untuk masuk ke rumahnya. Walau dulu pun Axel pernah tinggal di dalamnya.


"Jen?" panggil Sarah lagi.


"Ah, maaf Mbak. Bukannya tidak boleh, cuma ... rumah aku jelek dan berantakan, Mbak. Takutnya kalian nggak nyaman," gumam Jeni minder.


Berada di dalam satu mobil dengan dua sejoli itu saja sudah membuatnya malu apalagi membawa masuk mereka ke rumahnya. Tapi sepertinya Sarah tidak peduli dan bahkan kini dia sudah berada di di luar mobil dan membukakan pintu mobil untuk Jeni.


"Sudahlah, nggak usah malu. Semua juga pernah merasakan ada di bawah kok," sahut Sarah sambil menuntun Jeni keluar.


Jeni mengalah dan mengizinkan mereka masuk ke dalam rumahnya, yang kini tampak sepi dan suram.


"Abah sama Emak kemana, Jen?" celetuk Axel setelah duduk di kursi ruang tamu yang entah sudah berapa lama sarungnya tak di ganti itu.


"Jen kamu kenapa? Kok malah nangis? Terus suami kamu kemana? Kamu lagi hamil, pasti kamu sudah menikah lagi kan? Apa dia lagi kerja? cecar Axel yang merasa ada yang tidak beres dengan tangis Jeni yang terdengar begitu memilukan itu.


Jeni masih sesenggukan, belum bisa menjawab setiap pertanyaan Axel. Jadi mereka membiarkan dahulu Jeni meluapkan semua emosinya agar bisa lebih tenang.


Tanpa di suruh, Sarah beranjak ke dapur  niatnya untuk mengambil gelas untuk menuang air untuk Jeni. Namun sekali lagi dia di buat terkejut dengan penampakan dapur yang tak ubahnya seperti kapal pecah itu.


Cucian piring menumpuk sampai menjamur saking lamanya tak di cuci, belum lagi sampah mie instan dan bekas cipratan minyak goreng yang memenuhi meja dan dinding dekat kompor. Di tambah bau busuk yang menguar dari tong sampah yang sudah sangat penuh isinya. Sarah memindai sekitar ruangan mencari sebuah gelas atau wadah yang sekiranya masih bersih untuk dia pakai, namun bukannya dapat apa yang dia cari tapi dia justru melihat ember bekas cat yang sepertinya adalah tempat yang di gunakan Jeni menyimpan beras kini sudah kosong melompong.


"Ya Allah," desis Sarah tak tega .


Karena tak mendapati apa yang dia cari akhirnya Sarah kembali ke tempatnya semula, dimana ruang tamu itu adalah tempat paling bersih di rumah itu yang bisa dia temui.


"Abah sama Emak ... huhuhu ... mereka sudah ... sudah meninggal, Bang!" suara tangisan Jeni terdengar dari arah ruang tamu.

__ADS_1


Dengan cepat Sarah ke sana dan duduk kembali di tempatnya semula. Niatnya mengambil gelas akhirnya harus dia urungkan dan memberikan begitu saja bungkusan es kelapa muda untuk Jeni agar dia meminumnya sendiri.


Jeni masih sesenggukan, mungkin sesak mengenang orang tuanya yang sudah lebih dahulu berpulang meninggalkan dirinya seorang diri di dunia.


"Jen, ini minum dulu." Sarah menyodokkan sebungkus es yang sudah dia buka dan di masukkan pipet ke dalamnya pada Jeni.


Jeni meminumnya dengan rakus seakan sudah menunggu untuk es itu masuk ke tenggorokannya.


"Pelan-pelan saja, Jen. Biar kamu tenang," tukas Sarah.


Setelah menghabiskan sebungkus es itu, Jeni kembali hendak menceritakan tentang hidupnya setelah berpisah dari Axel dan Axel di nikahi oleh Sarah. Yang notabene adalah istri dari pria yang dulu menjadi simpanannya.


"Abah dan Emak meninggal di hari yang sama, saat mereka tahu kalau ... kalau aku ... di hamili sama tetangga kami. Dan sampai sekarang orang itu tidak mau bertanggung jawab, malah membentak-bentak Abah dan Emak saat meminta pertanggung jawaban nya. Itu juga yang membuat emak terkena serangan jantung dan meninggal. Tak lama setelah itu, Abah yang terus menerus menangisi emak mulai sesak nafas dan akhirnya ikut menyusul emak dalam hitungan jam saja," papar Jeni terisak hebat.


Bahunya berguncang, sungguh sakit hatinya kala mengingat semua kemalangan yang terus menerus menimpanya semenjak berpisah dari Axel.


"Innalilahi wa innailaihi rojiuun," gumam Axel dan Sarah bersamaan.


"Dan sekarang, aku hamil ... dan semua orang jadi semakin jijik sama aku, karena laki-laki itu menyebar berita tentang aku yang jual diri ke sembarang lelaki. Aku sendirian, bahkan waktu Abah dan Emak meninggal cuma pengurus masjid sama Pak RT yang masih mau membantu memakamkan mereka. Nggak ada yang mau terima aku kerja, sampai aku akhirnya terpaksa mengambil makanann dari tong sampah. Semua uang tabungan habis untuk membiayai kebutuhan kami selama Abah dan Emak masih hidup." Jeni mengusap air matanya dan kini terlihat lebih bisa mengontrol emosinya.


Mungkin dia sudah lega bisa mendapatkan tempat bercerita semua masalahnya.


"Lalu, dimana sekarang ayah dari bayi itu, Jen?" Axel memberanikan diri bertanya.


Jeni tertunduk lesu,  mata yang sayu itu kini tampak semakin kuyu.


"Dia ada di komplek belakang, bersenang senang dengan para istri barunya."


Dahi Sarah berkerut. "Memangnya siapa dia?"


"Orang disini memanggilnya Pak Ismail, dia orang kaya yang di segani di sini. Makanya orang-orang lebih memihak dia ketimbang aku walau mereka tau kalau akulah korbannya di sini."

__ADS_1


__ADS_2