
Asri juga tidak tahu karena ia sendiripun ikut terpengaruh.
"Hei, senakal-nakalnya orang di kota tapi bila menyangkut kewajiban dasar, para orang tua mereka pasti akan menunaikannya. Bagaimana mungkin ada orang tua yang tidak mau menyunat putranya? Tidak ada. Oh... jika kamu masih tidak percaya, ayo ikut aku ke kamar. Aku akan menunjukkan mu bila 'junior ku' sebelumnya sudah di sunat." Ajak Arka lagi-lagi jahil yang langsung ditolak mentah-mentah Asri.
Asri ketakutan, dia tentu saja mengerti apa yang dimaksud Arka. Karena ketakutan, tubuhnya spontanitas mundur ke samping hingga jatuh terjungkal dari sofa.
Rok pengantinnya yang sudah di robek Bapak kian bertambah robeknya, menimbulkan bunyi nyaring yang sangat menarik perhatian.
Melongo tidak percaya, Arka sejenak membeku melihat tingkah konyol Asri yang lagi-lagi mengundang tawanya.
Dia tertawa kencang, memegang pinggiran sofa dengan tangan kanan sementara tangan yang lainnya memegang perut.
"Ya Allah... kenapa kamu sangat lucu..." Kata Arka sambil tertawa terbahak-bahak.
Asri kesal bercampur malu. Bagaimana mungkin ia tidak malu?
Dia tiba-tiba jatuh terjungkal ke lantai dengan rok yang semakin robek tepat di depan mata Arka.
Argh...
Lagi-lagi dia rindu ingin bertemu dengan kedua sahabatnya. Ia ingin mengadu kepada mereka jika Arka hari ini telah berkali-kali membuatnya malu.
"Ini semua karena Mas Arka! Lihat kan, rok aku jadi robek. Udah gitu robeknya panjang banget!" Keluh Asri mulai berani kepada Arka.
Arka mencoba menenangkan dirinya agar berhenti tertawa.
"Lha kok salah aku? Yang nanya duluan siapa coba?" Arka tidak mau disalahkan tapi bukan berarti tidak merasa bersalah.
Melihat Asri melindungi kulit betis yang terekspos, Arka berinisiatif mengambil kain taplak meja yang ada di atas meja dan memberikannya kepada Asri.
"Gunakan ini untuk sementara."
__ADS_1
Asri cemberut,"Terimakasih, Mas."
Lagi-lagi dia merasa tidak habis pikir dengan laki-laki ini. Seorang laki-laki akan membuka jaket atau jasnya untuk diberikan kepada seorang gadis yang mengalami skenario klise seperti terciprat lumpur atau pakaiannya robek, biasanya adegan inilah yang ada di sinetron-sinetron yang Asri tonton di rumahnya dulu.
Tapi...tapi kenapa Arka sama sekali tidak peka?
Bukannya melepaskan jas yang ada di badannya, tapi ia malah melemparkan Asri kain taplak meja.
"Ayo, aku akan mengantarmu ke kamar." Arka, untuk yang ketiga kalinya mengulurkan tangan kepada Asri.
Asri melihat tangan Arka, sedetik kemudian ia menggelengkan kepalanya menolak seraya bangun dari duduknya.
"Maaf, Mas. Kita masih belum halal untuk saling menyentuh." Tolak Asri sopan.
"Oh," Arka langsung menarik tangannya dengan canggung.
"Maaf, aku lupa jika kamu sekolah di pondok yang sama dengan Kevin." Kata Arka seraya mundur beberapa langkah menjaga jarak dari Asri.
"Ayo, ikut aku."
...🍃🍃🍃...
Semenjak tadi sore itu ia dan Arka tidak pernah bertemu lagi karena semua orang sibuk mengurus pernikahan mendadak ini.
Bahkan Asri yang belum sempat beristirahat harus ikut mempersiapkan dirinya. Mulai dari fitting baju akad hingga resepsi yang hampir menghabiskan waktu 3 jam, setelah itu pemilihan kartu undangan dan tema dekorasi pelaminan.
Semuanya ia diskusikan bersama kedua belah pihak keluarga secara cepat.
Malam pun menjelang, tidak terasa sudah pukul 10 malam dan Asri masih belum juga bisa tidur padahal ia sungguh mengantuk.
Tok
__ADS_1
Tok
Tok
Pintu kamarnya di ketuk seseorang.
"Kak, ini aku." Suara Fina diluar.
Mendengar suara adiknya di luar, Asri buru-buru turun dari ranjang empuknya. Membuka pintu yang terkunci dan mempersilahkan Fina masuk ke dalam kamarnya- sementara.
"Woah..." Fina menatap iri kamar besar yang ditempati Asri.
Kamarnya sangat luas dan ranjangnya pun ukuran king size. Tampak mewah dan juga nyaman, ia juga mau tidur di sini.
"Kamu ngapain ke sini malam-malam, dek?" Tanya Asri santai.
Fina mengabaikannya, ia masih terpesona dengan kamar mewah yang Asri tempati saat ini.
"Aku juga mau dong tinggal di sini. Tinggal di rumah yang besar dan mewah, udah gitu kamar tidurnya besar dan nyaman juga. Apalagi kalau suaminya Mas Arka," Kedua mata Fina langsung berbinar terang ketika mengingat laki-laki tinggi nan tampan itu.
Jujur, Arka adalah orang yang paling memenuhi tipenya.
Selain kaya raya dan memiliki latarbelakang keluarga luar biasa, Arka juga sangat tampan dan memiliki tubuh tinggi. Bayangkan, gadis mana yang tidak akan jatuh hati kepadanya!
"Dek," Asri merasa jika adiknya ini aneh. "Kamu mau ngapain datang malam-malam ke sini?" Tanya Asri lagi.
"Oh..ada sesuatu yang ingin aku omongin sama Kakak!" Dia menarik tangan Asri dan duduk di atas ranjang bersama.
"Kamu mau ngomongin apa?"
Bersambung...
__ADS_1
1 Bab bagi 2🍃