Muhasabah (Cinta)

Muhasabah (Cinta)
Muhasabah (Cinta) - 139


__ADS_3

"Oh wow, ini mengejutkan. Kamu dan Ibumu ternyata sama-sama tidak tahu diri. Kalian ini aneh, terlahir cacat tapi masih berkilah kalian adalah manusia normal sama seperti kami. Apalagi Ibumu. Dia adalah monster sok alim-"


"Umi bukan monster! Umi ku adalah wanita terbaik di dunia ini! Dia adalah orang yang baik, tidak seperti Bibi yang jahat!" Marah Alsi mengeluarkan semua keberaniannya.


Bahunya bergetar hebat karena marah dan takut. Namun dibandingkan rasa takutnya, semua perasaan itu tidak ada apa-apanya dibanding kemarahannya.


"Kamu bilang aku apa?!" Teriak gadis itu marah membentak Alsi.


Alsi terkejut. Lehernya mengecil tersentak kaget karena bentakan gadis itu. Dia adalah seorang gadis kecil dan bukanlah lawan seorang gadis remaja yang tidak sudah duduk di bangku kuliah. Jangankan berbicara untuk membela Ai, dihadapan gadis ini dia akan disalahkan atas segala sesuatu yang tidak pernah dia katakan atau lakukan sebelumnya. Mengatakan bila dia adalah seorang monster.


"Apa kamu tuli atau buta, hah? Pendengaran mu mengalami masalah?" Suara dingin seseorang membuat tubuh gadis itu langsung menegang.


Dia mengalihkan pandangannya dan menatap shock ekspresi dingin nan datar Ai di seberang sana. Di samping Ai, ada juga Asri dan Mega yang datang dengan tutup panci juga wajan penggorengan di tangan mereka.


Melihat dari situasinya, mereka jelas telah mempersiapkannya untuk mulai.... berperang?

__ADS_1


Entahlah.


"Kamu...!" Gadis itu menatap tidak percaya pada mereka bertiga.


Ai mengabaikan ekspresi shock di wajahnya. Berjalan ringan dengan tangan di atas perutnya sedangkan tangan yang lain terulur menyentuh puncak kepala putrinya.


"Kamu bilang aku adalah monster?" Tanya Ai berkedip, menatap gadis itu dengan ekspresi polosnya.


"Ai...Ai, sudah. Jangan berbicara dengan dia. Ingat, kamu sedang hamil sekarang dan membutuhkan emosi yang stabil. Jika Ustad Vano tahu kamu dan bayimu mengalami masalah karena suasana hati yang buruk, ah...aku tidak tahu apa yang akan dia lakukan kepada orang gila itu." Asri tidak tega melihat sahabat polosnya dicemari oleh kebodohan orang lain.


"Aku tidak akan-"


"Baiklah, bila kamu tidak mau mendengarkan maka aku akan menelepon Bunda Safira." Kata Asri dengan nada putus asa.


Ai,"...." Bunda Safira tidak boleh ikut campur karena bila dia ikut campur masalah akan berbuntut panjang, pikir Ai.

__ADS_1


Menimbang hasilnya, dia menundukkan kepalanya ke bawah untuk melihat wajah pucat putrinya yang telah dianiaya oleh orang lain. Rasanya sangat menyakitkan melihatnya seperti ini.


"Aku sakit melihat putriku diperlakukan seperti ini." Kata Ai sedih sekaligus marah.


Melihat pikiran sahabatnya, Asri buru-buru menunjuk Mega di samping mereka yang hanya berdiri dalam postur dingin sambil menatap gadis itu dengan tatapan tidak bersahabat.


"Lihat, kita punya pengacara gadungan di sini jadi kamu tidak perlu khawatir mengenai gadis itu." Kata Asri dengan mudahnya.


Mega, pengacara gadungan yang tiba-tiba mendapatkan gelarnya,"...." Kamu benar-benar pembicara yang buruk!


Ai melihat Mega lalu beralih menatap putri dan perutnya yang mulai menonjol. Ini adalah kehamilan pertamanya dan Ai tidak tahu apakah dia bisa hamil lagi di masa depan. Jadi untuk melindungi bayinya dia harus menyerahkan masalah ini kepada kedua sahabatnya.


Lagipula dia sudah mengantuk.


"Aku tebak, bila dilihat dari wajah usiamu seharusnya sudah 19 tahun, apa aku benar, Bibi?" Mega mengabaikan kedua sahabatnya yang sedang melakukan tawar-menawar.

__ADS_1


__ADS_2