Muhasabah (Cinta)

Muhasabah (Cinta)
Muhasabah (Cinta) - 168


__ADS_3

Setelah pamit kepada Ai dan ustadz Vano, mereka berdua lalu berangkat menggunakan mobil pribadi Arka menuju luar kota. Karena ini adalah agenda pribadi atau acara keluarga, mereka sengaja tidak membawa pengawal ataupun sopir pribadi karena ada satu alasan. Yaitu Arka ingin menghabiskan lebih banyak waktu bersama istrinya. Dialah yang tidak ingin membawa sopir atau pengawal pergi bersama mereka. Jarang-jarang bisa keluar bersama istrinya dan melakukan perjalanan jauh bersama-sama, maka dari itu dia ingin memanfaatkan momen ini sebaik mungkin.


Meskipun tidak membawa pengawal atau sopir, Arka sudah menginstruksikan pengawal pribadinya agar mengikuti mereka dari jarak jauh. Sekedar hanya memantau dan membantu bila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.


Mereka berdua tidak berangkat dengan Bapak dan Ibu, sebab sudah sampai duluan di luar kota dan mengawal langsung pernikahan Fina. Saat hari akad mereka sengaja tidak mengundang Asri dan Arka ke desa untuk mencegah pikiran Fina yang masih belum melepaskan Arka dari hatinya. Barulah setelah resmi menjadi istri sepupunya, mereka meminta pasangan suami istri itu datang ke acara resepsi.


"Kenapa?" Arka menoleh ke samping.

__ADS_1


Dia memperhatikan bila istrinya sedari tadi memejamkan matanya dan terlihat sangat mengantuk, namun karena tidak ingin membiarkan Arka kesepian dan tidak memiliki teman bicara, dia berusaha untuk tetap terjaga. Pasalnya banyak terjadi kecelakaan yang disebabkan oleh sopir mengantuk dan untuk mencegah kecelakaan ini terjadi, biasanya sopir akan memiliki teman bicara sehingga tetap semangat dan tidak mengantuk ketika menyetir.


"Enggak apa-apa, mas." Katanya dengan wajah sayu.


Melihat wajah layu istrinya yang mengantuk, hati Arka segera meleleh. Dia tidak tega membiarkan istrinya tersiksa walaupun dia sendiri juga senang berbicara banyak dengan istrinya yang cerewet.


Dia mengangkat tangan kiri dan menjangkau puncak kepala Asri dan mengelusnya penuh akan kasih sayang.

__ADS_1


Merasakan usapan lembut di atas kepala, Asri merasa sangat nyaman dan kelopak mata yang sudah berat karena mengantuk semakin berat saja rasanya. Dia ingin sekali tidur.


"Aku... baik-baik aja kok, mas..." Suaranya lemah dan perlahan-lahan kehilangan suara.


Arka menoleh ke samping dan mendapati jika istrinya sudah jatuh tertidur. Dia tersenyum geli melihat tingkah lucu istrinya yang biasa cerewet kini terlihat sangat pendiam. Wajahnya terlihat jauh lebih damai ketika sedang tertidur. Tampak polos dan murni, sampai dengan hari ini dia tidak pernah menyangka bahwa pemilik hatinya adalah seorang gadis desa konyol.


Dia lalu meminggirkan mobilnya ke pinggir jalan dan mengambil selimut dari dashboard mobil yang sengaja disiapkan oleh Arka sebelum bepergian. Selimut hangat itu dibentangkan hingga menutupi badan istrinya. Asri memiringkan kepalanya merasa sangat nyaman. Arka bertanya-tanya apakah sang istri memiliki mimpi di dalam tidurnya sekarang karena baru saja dia tersenyum seolah melihat sesuatu yang menyenangkan.

__ADS_1


"Kamu baru-baru ini suka sekali tidur. Aku merasa bersalah karena terlalu sibuk di kantor dan mengabaikan kamu di rumah sampai-sampai kamu jadi kelelahan karena terus-menerus mengurusku. Maafkan aku, sayang... InsyaAllah, aku akan berusaha menyediakan banyak waktu untuk menemani kamu." Suara Arka merasa sangat bersalah.


Dia berjanji akan meluangkan banyak waktu untuk menemani istrinya di rumah. Menebus hari-hari kesepian yang istrinya lalui karena dirinya terlalu sibuk di kantor.


__ADS_2