Muhasabah (Cinta)

Muhasabah (Cinta)
Muhasabah (Cinta) - 72


__ADS_3

Malam harinya setelah semua orang selesai makan malam, barulah Arka pulang dengan beberapa paper bag di tangannya. Ia memberikan setiap orang satu paper bag dengan isi yang berbeda-beda. Namun untuk istrinya, Arka sengaja menyiapkan dua paper bag dengan dua warna yang berbeda.


"Terima kasih, Mas." Asri menaruh dua paper bag itu ke atas ranjang.


"Kamu gak mau buka dan lihat isinya?" Tanya Arka heran seraya melepaskan jas hitam itu dari tubuhnya.


Wush


Tercium aroma parfum yang Asri yakini bukanlah milik sang suami. Parfum ini memiliki wangi yang sangat enak, ada campuran wangi susu dan bunga, ini adalah parfum wanita. Tanpa bertanya pun Asri tahu siapa pemilik parfum ini. Parfum ini sudah pasti milik Lisa, wanita yang selalu berpegangan tangan dengan suaminya seharian ini.


"Nanti aja, Mas." Ia lalu duduk di atas ranjang, mengamati suaminya yang sedang dalam suasana hati yang baik. 


Dia terlihat jauh lebih baik daripada tadi pagi. Asri pikir ia sedikit lucu karena bagaimana mungkin suaminya tidak merasa baik, orang yang ia temui hari ini adalah kekasihnya, cinta pertama yang tidak bisa dilupakan.


"Mas Arka hari ini kemana aja?" Tanya Asri ringan, tidak ada nada kecurigaan ataupun tuduhan dari nadanya.


Namun Arka malah memberikan reaksi yang berlawanan. Ia menatap Asri tidak suka karena menurutnya Asri seolah tidak mempercayainya.


"Bukankah kamu sudah tahu bila hari ini aku pergi ke kantor? Tapi kenapa kamu masih bertanya?" Jawab Arka agak jengkel.

__ADS_1


Dia kemudian mengambil baju ganti dari dalam lemari dan langsung masuk ke kamar mandi sembari mengabaikan keberadaan Asri.


Asri menatap kepergian suaminya dalam diam, beberapa detik kemudian ia menghela nafas panjang dalam kesedihan tertahan. Tangan kurusnya menyentuh paper bag pemberian suaminya itu. Sedangkan kepalanya telah jauh melanglang buana memikirkan bagaimana ekspresi suaminya saat membeli barang-barang ini bersama Lisa.


Tidakkah perasaan bersalah itu ada dihatinya atau justru sebaliknya seperti yang dikatakan Riani bahwa Arka tidak pernah menganggap keberadaannya serius. Dan pernikahan ini bukanlah hal penting yang bisa dipertahankan.


Tersenyum tipis, ia lalu memasukkan paper bag itu ke dalam lemari tanpa pernah mengintip isinya. 


Setelah itu Asri merapikan barang-barang suaminya, menaruh pakaian kotor di bak cucian dan merapikan sepatu kerjanya di tempat sepatu. 20 menit kemudian sang suami keluar dari kamar mandi dengan pakaian tidurnya. Ia kelelahan karena banyak bergerak hari ini dan ingin segera merebahkan diri di atas kasur untuk beristirahat.


"Mas, Bapak bilang ingin bicara." Asri duduk di sisi ranjang, menepuk lengan suaminya agar jangan tidur dulu.


"Gak bisa, Mas. Bapak bilang harus bicara malam ini." Kata Asri menolak.


Arka mengernyit terganggu, malam ini Asri terlalu cerewet pikirnya.


"Suruh aja Bapak ke sini kalau gitu." Arka benar-benar kelelahan dan ia butuh tidur.


Namun Asri sama sekali tidak mengerti kondisinya dan tetap memaksa Arka pergi ke rumah Bapak untuk berbicara. 

__ADS_1


"Gak boleh, Mas! Aku mau Mas sendiri-"


"Kenapa gak kamu aja yang pergi ke sana kalau gitu? Kamu gak lihat apa aku lagi capek banget? Aku butuh istirahat, Asri! Aku butuh tidur! Lagipula dia kan Bapak kamu! Jadi kamu sendiri kan bisa bicara dengannya di sana!" Potong Arka marah.


Dia berbicara dengan emosi, setelah memuntahkan kekesalannya, Arka lalu memeluk bantal guling di sampingnya dan memunggungi Asri yang masih shock dengan kemarahan Arka.


Capek?


Hati Asri rasanya diremas-remas setiap kali memikirkan foto di bandara dan video singkat itu. Benar, mungkin suaminya capek. Dia capek berkeliling untuk berkencan dengan Lisa dengan embel-embel pergi ke kantor. Suaminya pasti kelelahan maka Asri tidak seharusnya mengganggu waktu istirahat sang suami.


"Aku minta maaf, Mas. Aku tidak tahu jika Mas Arka sangat kelelahan. Pekerjaan di kantor hari ini pasti sangat sulit. Aku minta maaf, Mas." Dia memainkan sandiwara yang sama, bersikap seolah-olah Arka tidak pernah membohonginya, bersikap seolah-olah pengkhianatan itu tidak pernah terjadi, bersikap seolah-olah perselingkuhan itu tidak pernah datang, dan bersikap seolah-olah semuanya baik-baik saja.


Beginilah seorang wanita, manusia terbaik yang yang begitu pandai memerankan bahwa semuanya 'baik-baik saja' sekalipun Allah tahu bahwa hati hamba-Nya itu mengalami suatu masalah.


"Kalau begitu aku akan pergi dulu menemui Bapak." Katanya tapi masih belum beranjak dari duduknya.


Ia menunggu balasan suaminya tapi sang suami tidak kunjung mengatakan apa-apa. Asri pikir Arka pasti sangat marah karenanya. Tersenyum tipis, ia lalu beranjak dari tempat duduknya dan keluar dari kamar dengan hati-hati agar tidak membuat Arka kembali marah.


...🍃🍃🍃...

__ADS_1


__ADS_2