
"Aku tebak, bila dilihat dari wajah usiamu seharusnya sudah 19 tahun, apa aku benar, Bibi?" Mega mengabaikan kedua sahabatnya yang sedang melakukan tawar-menawar.
Melihat gadis ini seolah mengingatkannya pada perbuatannya di masa lalu. Dia terpengaruh oleh kecemburuan Bu guru Dinda dan secara terang-terangan menyebarkan kepada teman-teman kelasnya bila Ai adalah seorang monster yang tidak boleh mereka dekati.
Dia dulu seburuk itu. Dia... matanya melirik wajah pucat Alsi yang terkubur di dalam pelukan Ai.
... pasti hati Alsi sangat sakit tapi tidak bisa mengatakan apa-apa karena dia takut...dia terlalu lembut.
"Bibi?!"
"Ya, apa kamu keberatan? Oh, apakah aku perlu mengingatkan kamu betapa jelek dan berminyak wajah mu sekarang, maka...wajar saja keponakan kami, Alsi, memanggil mu sebagai Bibi nya." Ejek Mega secara tidak sengaja menjatuhkan kepercayaan diri gadis itu.
Gadis itu sangat marah tapi lebih malu karena diejek memiliki wajah berminyak dan jelek. Karena ejekan ini dia gatal ingin mengambil cermin untuk melihat penampilan wajahnya saat ini.
"Beraninya kamu mengatai ku sebagai wanita jelek!"
Tapi Mega sama sekali tidak menganggap serius kemarahannya,"Bila kamu berani mengatai keluarga sebagai monster, maka mengapa aku tidak berani mengatai kamu sebagai wanita berminyak dan jelek?" Mega tidak habis pikir dengan pikirannya yang kekanak-kanakan.
__ADS_1
Hell, cinta benar-benar membuat orang-orang buta dan bodoh pada saat yang bersamaan. Untungnya dia dulu bisa menahan diri ketika pertunangannya dengan Ustad Azam dibatalkan.
"Kamu berani memfitnah ku di depan anak-anak padahal aku tidak jelek dan wajahku pun tidak berminyak. Sedangkan anak itu dan Ibunya memang monster karena mereka-"
"Monster? Cih, aku lebih percaya kamu adalah orang yang lebih pantas dipanggil monster melihat betapa jeleknya kamu. Jika kamu tidak percaya, kita bisa meminta pendapat anak-anak." Lalu Mega merendahkan tubuhnya ke arah anak-anak, wajah dinginnya secara paksa membentuk senyuman lebar.
Asri kebetulan melihat pemandangan ini dan buru-buru mencegah sahabatnya sebelum berbuat konyol. Hei, yang benar saja! Anak-anak tidak akan memiliki keberanian berbicara dengan Mega bila wajahnya seperti itu.
"Tunggu, singkirkan wajahmu sekarang atau kamu akan membuat mereka menangis. Kamu tahu ekspresi wajah mu sekarang seperti orang yang sembelit." Bisik Asri sambil menghalangi pandangan anak-anak dari Mega dengan tubuhnya.
Mega,"....." Tahan, dia harus menahannya. Jika tidak, anaknya yang baru berumur beberapa minggu tidak akan mampu menanggung emosinya.
"Biarkan aku yang berbicara." Asri dengan percaya diri menampilkan senyum konyol di depan anak-anak.
Anak-anak menatap wajah konyol Asri dengan kedua bola mata menyala terang, sangat cantik!
"Adek-adek, coba lihat deh teman Kakak yang di sana." Asri menunjuk Ai yang kini tengah menghibur putrinya.
__ADS_1
Alsi tidak lagi ketakutan dan sedih setelah berada di dalam pelukan Ai. Karena dia merasa nyaman dan aman bersama Ai maka semua perhatiannya hanya tertuju pada sang Umi.
"Apakah teman Kakak cantik?"
Anak-anak memerhatikan Ai dan mengangguk secara jujur.
"Kakak itu sangat cantik.." Kagum anak yang lain.
"Dia memiliki kulit yang sangat putih...huh... Ibuku bahkan tidak seputih dia..." Celotehan mereka mulai bergema satu persatu.
Pada dasarnya anak-anak terlahir jujur dan sungkan berbohong jadi apa yang mereka katakan adalah sebuah kebenaran.
"Aku tidak pernah melihat Kakak secantik dia.." Kata Angga, sang adik gadis itu.
Gadis itu sangat marah. Dia menarik lengan adiknya agar tidak menatap Ai terus menerus.
Asri tersenyum lebar,"Lalu apakah Bibi ini cantik? Atau, apakah Bibi ini lebih cantik dari teman Kakak tadi?"
__ADS_1
Gadis itu,"...." Aku masih 19 tahun!