
Setelah sholat subuh selesai, Ai segera turun ke bawah membantu Bunda dan Bibi Saqila memasak di dapur. Mereka sesekali berbicara, membicarakan hal-hal menyenangkan tentang anak-anak sembari mengajarkan Ai bagaimana cara membuat beberapa hidangan sederhana.
Sampai akhirnya topik anak-anak beralih pada topik Ai dan Ustad Vano, sebelum mengangkat topik ini Bunda dan Bibi Saqila terlebih dahulu mengawasi wajah merah Ai yang berseri-seri terlihat jauh lebih baik dari sebelumnya.
"Bagaimana sekarang, apa permasalahan Ai dan Vano sudah diselesaikan?" Tanya Bunda lembut dengan senyuman manis yang tidak pernah luntur dari wajah cantiknya.
Dia masih saja cantik padahal usianya sudah tidak muda lagi. Begitupula dengan Bibi Saqila dan Bibi Annisa, usia mereka jauh lebih tua dari Bunda namun kecantikan mereka pun masih tidak luntur. Mereka tampak awet muda seperti Nenek beberapa tahun yang lalu. Sekalipun Nenek sudah pergi menyusul Kakek, tapi Ai tidak pernah melupakan betapa cantik Nenek waktu itu disaat usianya yang sudah lanjut usia.
Keturunan Kakek dan Nenek memang cantik-cantik, mereka semua awet muda.
__ADS_1
"Sudah, Bunda. Kami sudah menyelesaikannya semalam." Jawab Ai malu-malu. Namun, dia tiba-tiba teringat untuk menanyakan ini kepada Bundanya,"Tapi sejak kapan Mas Vano ada di sini, Bunda? Dan kenapa Bunda dan Bibi tidak pernah memberitahu Ai mengenai kedatangannya?" Tanya Ai penasaran.
Bunda dan Bibi Saqila saling melirik, mengulum senyum, mereka masih saja tidak melupakan betapa jahilnya Ayah dan Paman Tio kepada Ustad Vano.
Sejujurnya, mereka semua sangat marah melihat Ai tiba-tiba menjadi murung dan sering bersikap linglung. Apalagi Ayah dan Paman Tio, di antara mereka berempat orang yang paling marah adalah Ayah dan Paman Tio. Dan yah, bila Paman Gio tahu maka apa yang ia rasakan pun tidak jauh berbeda dengan Ayah dan Paman Tio. Mereka semua sangat menyayangi Ai karena mereka adalah orang pertama yang melihat betapa menyedihkannya Ai saat di selamatkan dari hutan. Tubuhnya mengalami luka lebam, ada luka dari cambuk, dan yang paling parah ada luka bakar dari puntung rokok. Mereka semua sakit hati untuk Ai pada saat itu, dan ini semakin diperparah begitu mengetahui bahwa Ai nyatanya sedang diburu oleh keluarga kandungnya untuk dibunuh. Malangnya, orang yang ingin membunuhnya adalah keluarganya sendiri, keluarga yang telah menculik kedua orang tua kandung Ai dan menyekapnya di dalam gudang tanpa makanan ataupun minuman.
Mereka sungguh sangat marah, muncul rasa perlindungannya kuat dihati mereka untuk melindungi Ai, melindungi gadis pemalu nan berhati lembut yang sungguh sangat menyita perhatian mereka.
Yah, mau bagaimana lagi. Ini adalah hukuman untuknya karena telah berani membuat Ai bersedih.
__ADS_1
"Vano sudah datang ke rumah ini dari 3 hari yang lalu. Bunda kamu ingin bilang tapi Ayah kamu dan Paman Tio melarang, mereka tidak ingin suami kamu dimaafkan semudah itu. Maka jadilah ia membantu Ayah kamu dan Paman Tio untuk mengurus banyak pekerjaan, padahal di malam hari kami semua melihat jika dia sangat sibuk mengurus urusan perusahaan keluarganya. Bibi dan Bunda tidak tega, tapi Paman Tio dan Ayah kamu tidak mau mendengar. Jadi puncaknya semalam, mereka akhirnya melepaskan suamimu dan membiarkan waktu untuk kalian berbicara." Bibi Saqila menjelaskannya dengan ringkas.
"Dari tiga hari yang lalu?" Ai bertanya terkejut.
Ia pikir suaminya baru datang kemarin dan segera datang menemuinya di kamar. Tapi siapa yang tahu bila suaminya sudah ada di kota C dari 3 hari yang lalu.
Ustad Vano memang sudah ada di sini sejak 3 hari yang lalu dengan banyak urusan kantor yang harus segera ditangani. Memang benar, sebelum ke kota C, Ustad Vano telah banyak menyelesaikan pekerjaannya di kantor. Setelah dirasa cukup, ia pun memutuskan untuk pergi ke kota C untuk menemui sang istri. Ia pikir satu hari kemudian bisa membawa Ai pulang sehingga ia bisa bekerja dengan tenang. Tapi siapa yang mengira bila Ayah dan Paman Tio terus saja menahannya, tidak hanya membuatnya berlarut-larut di sini tapi mereka juga tidak mengizinkannya bertemu dengan Ai.
Ini adalah sebuah penyiksaan akan tetapi Ustad Vano tidak berdaya, ia tidak bisa melakukan apa-apa di bawah pengawasan mertua dan ipar mertuanya.
__ADS_1
"Iya sayang, Ayah dan Paman Tio sengaja menahan suami kamu di sini agar dia tidak mengulangi lagi kesalahan yang sama." Kata Bibi Saqila berbicara.
Kesalahan yang sama?