
"Dani." Panggil Kakek pada putra tertuanya.
Paman Dani segera berdiri di samping Kakek dan secara alami mengabaikan keberadaan Bibi Mei. Sama seperti Kakek, Paman Dani maupun anggota keluarga yang lain sangat malu dengan tingkah buruk Bibi Mei beserta anak-anaknya. Jika bisa, mereka ingin sekali menggali lubang di bawah kaki mereka untuk bersembunyi saking malunya.
"Kirim adikmu dan anak-anaknya kembali ke Malaysia. Katakan kepada suaminya untuk menjaga mereka dengan baik-baik sampai aku mengizinkan mereka semua kembali ke rumah utama." Perintah Kakek tanpa mengedipkan matanya saat berbicara.
"Ayah!" Teriak Bibi Mei terkejut.
"Ayah tidak bisa melakukan itu! Aku tidak mau tinggal diluar negeri lagi!" Tolak Bibi Mei gemetaran.
Dia ingin tinggal di sini dan telah membuat keputusan tidak akan menetap di luar negeri. Tapi siapa sangka Kakek tidak hanya mengirimnya ke luar negeri tapi juga tidak mengizinkannya pulang.
"Ini adalah hukuman mu karena telah mempermalukan keluarga." Jawab Kakek muram dengan suara tuanya yang sudah tidak muda lagi.
Lalu Kakek berbalik dan masuk ke dalam rumah untuk melanjutkan acara. Meninggalkan Bibi Mei di luar yang masih menolak untuk menerima vonis Kakek. Tapi Paman Dani tidak perduli dengan penolakan adiknya karena dia sendiri pun secara pribadi setuju dengan keputusan Kakek. Toh, bila dia berada di posisi Kakek keputusan ini juga akan diambilnya.
"Tidak ada gunanya menolak karena Ayah sudah membuat keputusan. Ini adalah hukuman untuk kamu karena telah bertindak semaunya. Padahal dunia tidak selalu tentang kamu dan anak-anakmu, dunia juga tidak harus mendengarkan kamu. Selama diluar negeri kamu harus merenungkan kesalahan mu sampai Ayah kembali mengizinkan kamu pulang." Kata Paman Dani datar.
__ADS_1
Paman mengambil ponselnya dari saku. Layar menyala menampilkan ikon pesan dan mulai mengetik beberapa patah kata setelah memilih kontak orang yang akan dia tuju.
"Kak Dani, tolong bantu aku berbicara dengan Ayah! Aku telah mengakui kesalahan dan berjanji akan memperbaikinya-"
"Aku sudah memberitahu suamimu, dan dia bilang akan menjaga kalian dengan baik." Potong Paman Dani tanpa mengangkat kepalanya.
Bibi Mei terperangah,"Apa?"
Paman Dani masih melanjutkan ucapannya,"Penerbangan mu dan anak-anak nanti malam jam 9, pastikan kalian datang tepat waktu ke bandara jika tidak ingin membuat Ayah lebih marah lagi."
"Mas Arka, apa itu tadi? Keluarga mas Arka terlalu galak." Bisik Asri dengan suara rendahnya.
Dia dan Arka sudah melihat semuanya, bahkan tidak melewatkan satu patah katapun!
Bukan hanya mereka bertiga saja sebenarnya karena Ustad Azam dan Mega juga ikut menonton. Malah mereka berempat berada di tempat yang sama saat perselisihan terjadi. Menurut Asri maupun Mega, mereka sangat menikmati perselisihan yang terjadi dan agak gatal ingin mengambil semangkuk besar popcorn sebagai cemilan agar tidak bosan- walaupun sebenarnya mereka tidak akan bosan.
"Di keluarga manapun pasti akan memiliki sisi ini jadi kamu tidak perlu terkejut dan jangan takut karena aku akan selalu bersama kamu." Arka terkekeh.
__ADS_1
Sisi baik dan buruk, Arka sudah menebak tapi tidak perduli karena mereka tidak mengganggunya. Namun, semuanya segera berbeda saat istrinya diperlakukan salah oleh keponakannya sendiri.
Dia tidak tahan melihat istrinya sedih.
"Ih, Mas Arka sebenarnya manis juga." Gumam Asri seraya menundukkan kepalanya menyembunyikan rona merah di wajahnya.
Arka pura-pura tidak setuju,"Bukankah aku selalu manis?"
Reaksi agak lucu. Dia dengan polos menggelengkan kepalanya membantah.
"Mas Arka waktu pertama kali bertemu denganku enggak semanis ini. Daripada manis, Mas Arka lebih cocok disebut nyebelin!"
Asri masih ingat saat dia dan Arka mendiskusikan pernikahan mereka, Arka tiba-tiba melontarkan pertanyaan vulgar. Bertanya apakah dia masih perawan atau tidak?!
Wanita atau gadis manapun pasti akan kesulitan menjawabnya!
"Lho kok nyebelin?" Tanya Arka penasaran.
__ADS_1