
Jangan katakan, wajah datar Arka membuat orang merinding jadi mereka tidak berani datang menyapa dan hanya bisa melihat dari jarak yang cukup.
"Mas, kapan dokter itu sampai?" Asri cemberut.
Semalam dokter mengalami masalah diperjalanan sehingga tidak bisa datang ke rumah tepat waktu.
Arka heran.
"Sebentar lagi. Kenapa? Kemarin aku lihat kamu enggak mau ketemu sama dia? Kenapa sekarang tiba-tiba nanyain?"
Waktu ditawarin kemarin Asri nggak mau, malah terkesan menolak. Tapi sekarang dia sendiri yang mengambil inisiatif untuk mencari dokter. Arka antara merasa heran bercampur takut. Takutnya Asri kenapa-napa.
Asri malu. Wajahnya memerah. Merasa agak panas.
__ADS_1
"Iya, mas. Soalnya ada sesuatu yang ingin aku tanya ke dia." Katanya dengan nada samar.
Dia malu membicarakannya dengan Arka. Nanti kalau dia bicarakan dengan Arka tapi hasilnya ternyata sangat mengecewakan mereka berdua, Asri tidak tahu harus menaruh mukanya dimana. Oleh karena itu untuk saat ini dia akan merahasiakannya dari sang suami sampai hasilnya dikonfirmasi.
"Apakah badan kamu sakit-sakit lagi? Kalau memang sakit kita nggak perlu menunggu dokter datang. Pergi saja ke rumah sakit agar kamu dapat menerima pemeriksaan dari dokter. Ini lebih cepat daripada kita menunggu di sini." Kata Arka dengan ekspresi serius.
Asri kian malu. Dia buru-buru menggelengkan kepalanya membantah.
"Enggak, mas. Aku enggak apa-apa. Badanku juga udah enggak sakit lagi dan jauh lebih energik dari kemarin. Aku baik-baik aja. Tuh..tuh, lihat mas, muka aku udah enggak pucat lagi." Asri langsung membantah sambil menunjukkan kepada Arka kalau dia baik-baik saja.
Arka juga melihat tidak ada yang salah dari istrinya. Wajah Asri memiliki pesona yang tidak bisa dilewati, apalagi ketika melihat senyuman cerah di bibir tipisnya yang kemerahan. Arka langsung merasakan jantungnya berdetak sangat cepat. Untuk sesaat dia merasa sedang melayang ke atas awan. Dia merasa jatuh cinta lagi, jatuh sejatuh-jatuhnya ke dalam pesona sang istri.
"Mas Arka?" Asri malu ditatap seperti ini oleh suaminya.
__ADS_1
Arka tersadar. Dia tertawa kecil. Menarik istrinya ke dadanya dan kemudian mendekapnya hangat. Di dalam hati dia berteriak dia sangat mencintai istrinya. Tak mau berpisah.
"Kamu sangat pandai melembutkan hatiku. Dasar curang." Kata Arka tidak marah.
Asri tentu saja senang mendengarnya. Meskipun malu ditatap oleh banyak orang luar, tapi dia tidak berniat melepaskan pelukan suamimu karena dia sendiri pun sangat suka dipeluk oleh suaminya.
Sementara itu tak jauh dari mereka berdua, Fina berdiri cemburu melihat betapa mesranya pasangan suami istri itu. Padahal dia lah pengantin muda tapi kenapa mereka lebih mesra dari dirinya?
"Bagaimana bisa dia hidup bahagia di atas penderitaan ku!" Fina menggeram kesal.
Hatinya berdenyut sakit mengingat apa yang dikatakan Arka kepadanya kemarin.
Tersenyum sinis,"Aku bersedia menikahi Asri karena dari awal sudah tertarik kepadanya. Tapi jika posisi itu digantikan kamu, maka aku lebih memilih menonton saja. Ngomong-ngomong awasi mulut mu mulai sekarang dan jangan pernah berpikir mengganggu istriku. Jika kamu sampai berulah lagi maka jangan salahkan aku membuat hidupmu lebih sulit dari apa yang kamu bayangkan."
__ADS_1
Itulah yang tidak dia mengerti.