Muhasabah (Cinta)

Muhasabah (Cinta)
53. Keresahan Aishi


__ADS_3

Ustad Vano mengatakan semuanya kepada Ai, membantu istrinya agar lebih percaya dan yakin lagi dengan pernikahan mereka. Karena sesungguhnya Ustad Vano tidak mau menuntut banyak terhadap istrinya karena ia yakin Allah telah menjadikan pernikahan ini cukup untuk satu sama lain. Ia juga tidak mau terlalu mematok di pernikahan mereka harus ada anak, karena lagi-lagi Ustad Vano telah menyerahkan semuanya kepada Allah. Hanya Allah lah yang memiliki kehendak di dunia maupun di akhirat, dan tugas mereka di dunia ini sebagai hamba yang mengejar ridho Allah hanya satu, yaitu beribadah kepada Allah SWT.


Bila Allah ridho dan memberikan pengampunan kepada mereka, maka semuanya sudah sangat cukup.


"Aku...hiks..aku.." Ai tidak bisa mengucapkan kata-katanya.


Ia meremat kuat dada datarnya menahan sakit dan sesak. Untuk yang ketiga kalinya Ustad Vano meyakinkannya bahwa mereka layak untuk satu sama lain.


Ustad Vano menatap kekasihnya sendu, meraih tangan bergetar nya dan perlahan menghilangkan jarak di antara mereka berdua.


Menatapnya penuh kasih, ia menyentuh wajah basah istrinya, mengusap wajah itu dengan gerakan selembut mungkin agar tidak meninggalkan luka,"Aku mencintaimu, Aishi, dan aku tidak ingin berpisah darimu. Seperti yang pernah aku katakan di malam pertama kita, aku ini adalah laki-laki yang egois dan posesif. Aku tidak akan pernah membiarkan kamu pergi ataupun melepaskan kamu, dan aku juga tidak akan ragu menggunakan berbagai macam cara untuk mendapatkan kamu kembali. Kamu tidak bisa melarikan dari diriku, ingat?" Bisiknya posesif, mengklaim secara sepihak bahwa Ai tidak akan pernah bisa melarikan diri darinya karena Aishi Humaira adalah miliknya seorang.


Ai mengangguk malu, ia memegang erat pakaian di dada Ustad Vano.

__ADS_1


"Mas, tapi apa yang akan dikatakan oleh keluarga Mas Vano nanti bila aku..." Ia tidak bisa melanjutkan kata-katanya.


Hati Ustad Vano seakan-akan diremas di dalam sana ketika melihat tatapan kebingungan dari istrinya.


"Mereka tidak akan mengatakan apa-apa karena mereka menghormati pilihanku. Ai," Dia mengecup kening Ai lembut sebelum berbicara lagi,"Aku tidak tahu apa yang Bibi Mei katakan kepadamu tapi jika itu adalah sebuah keburukan, maka ku mohon percayalah kepadaku bahwa di hati ini hanya ada kamu. Aku hanya menginginkan kamu dan hanya ingin memiliki kamu, kecuali kamu, hati ini tidak menginginkan yang lain."


Ai terkejut,"Mas Vano tahu?" Tanyanya ragu.


"Aku tahu bila Bibi Mei ingin menikahkan putrinya, Rani, kepadaku. Namun tawaran itu ditolak oleh Mama dan Papa karena mereka tahu aku juga tidak akan menerima pernikahan itu. Papa dan Mama sudah tahu mengenai perasaan ku kepadamu sejak bertahun-tahun yang lalu jadi sebagai orang tua mereka tidak akan mungkin mengecewakan harapan ku. Jadi, kamu tidak perlu terpengaruh atau mendengarkan apa yang dikatakan oleh Bibi Mei maupun orang-orang di luar sana. Cukup lihat dan dengarkan aku, Ai, karena orang yang tahu semua kebenaran itu adalah aku dan Allah bahkan lebih tahu. Kita yang menjalaninya dan bukan mereka, maka mereka tidak memiliki hak di dalam rumah tangga kita. Dan mengenai anak, bila kamu benar-benar menginginkannya maka kita bisa mengadopsi anak dari panti asuhan. Kita akan merawat dan membesarkannya bersama-sama, menumbuhkan rasa cinta akan kebesaran Allah di hati anak kita kelak agar langkahnya diridhoi Allah. Tidakkah kamu menginginkannya?" Bisiknya dengan nada yang lembut dan penuh kasih sayang, tidak ada lagi kemarahan di matanya.


Ustad Vano tidak tahu apakah Ai menyadarinya atau tidak, menyadari bahwa setiap kali Ai merona terang dan bertingkah malu-malu seperti, Ustad Vano pasti akan merasakan sebuah keinginan serakah untuk memonopoli Ai sendirian.


"Baiklah ini terserah kamu, yang penting setelah hari ini aku tidak mau mendengarkan kata cerai atau perpisahan dari mulutmu. Sudah cukup beberapa hari ini aku dibuat bersabar dan tersiksa oleh sikap menjaga jarak darimu. Lain kali kamu mengulanginya, maka kamu harus bersiap untuk menerima hukuman dariku." Ancam Ustad Vano serius, bahkan sangat serius.

__ADS_1


Ai menganggukkan kepalanya berjanji, ia tidak akan mengulanginya lagi karena ia pun sama tersiksanya dengan Ustad Vano.


"Tapi itu semua gara-gara Mas Vano yang terlalu dekat dengan Rani!" Keluh Ai cemburu.


Ustad Vano mengulum senyum bahagia, ia sangat senang mengetahui istrinya cemburu.


"Aku tidak bermaksud ingin dekat dengannya, Istriku. Di samping itu aku hanya menganggapnya sebagai sepupu saja dan tidak mengetahui bila selama ini dia menyukaiku." Ustad Vano mengakui bahwa saat itu dia tidak peka, jika dia tahu Rani menyukainya maka jangankan mendekatinya, mengizinkan Rani menginap saja dia tidak akan sudi.


Sebab dia tidak mau menginginkan hal ini terjadi lagi, dia tidak ingin istrinya tersakiti lagi.


"Em...aku tahu, Mas. Tapi...tapi em," Dia ragu mengatakannya.


"Tapi apa?" Ustad Vano gatal ingin melahap benda kenyal nam ranum itu, namun ia masih mencoba untuk menahan diri.

__ADS_1


"Tapi, bolehkah Ai tahu kenapa Mas Vano jarang berinisiatif mengajak Ai melakukan 'ibadah'?"


__ADS_2