
Astaga, Rani baru mengingatnya sekarang bila orang-orang bilang bahwa wanita berjilbab sangat sulit dipercaya. Sekalipun mereka memiliki kain panjang nan longgar menutupi tubuh mereka, tapi itu tidak bisa menjadi patokan jika hati dan perilaku mereka bersih. Tidak menutup kemungkinan jika hati mereka jauh lebih kotor dibandingkan wanita yang tidak berjilbab, bisa jadi perilaku mereka jauh lebih busuk dibandingkan wanita tidak berjilbab. Semua ini mungkin saja terjadi karena buktinya ada dimana-mana. Itulah mengapa orang-orang banyak mengatakan jika wanita berjilbab adalah orang-orang sok suci nan sok bersih, padahal nyatanya hati dan perilaku mereka sangat kotor.
"Ada apa? Pakaian ku terlihat bagus?" Suara menjengkelkan itu kembali mengganggu pikiran Rani.
Rani tersenyum polos- yang tentu saja dibuat-buat, uh.
"Pakaian mu terlihat bagus, aku pikir warna merah menyala ini sangat cocok untukmu.." Dia menyindir secara halus- sangat halus.
"Oh, benarkah?" Mega tersenyum manis ketika mendengar sindiran halus Rani.
Bukannya marah ia malah menyambut baik sindiran halus tersebut dengan kata-kata sok bersahabat nya.
"Apa kamu ingin memakainya? Aku punya banyak di kamar." Mega menawarkan dengan senyuman manis yang terkesan sangat tulus- ini murni pikiran Ai dan Asri yang sedari tadi menyimak pembicaraan dua orang ini.
__ADS_1
Mereka bingung dan merasa ada sesuatu yang salah dengan Mega dan Rani, akan tetapi semuanya terasa tidak masuk akal ketika memikirkan setiap kata-kata sopan yang Mega maupun Rani lontarkan.
Tidak ada indikasi permusuhan atau kejengkelan.
"Oh tidak, terima kasih. Aku...aku punya banyak pakaian berwarna seperti ini di rumah." Rani buru-buru menolak, mana mungkin ia mau menggunakan pakaian menjengkelkan seperti itu apalagi bila pakaian itu adalah milik Mega, gadis menjengkelkan yang tidak ia sukai.
Sempat terlintas di dalam benaknya ia menggunakan pakaian besar dan longgar sama seperti yang digunakan oleh Mega. Hari-harinya pasti akan sangat menyiksa karena kegerahan dan sulit bergerak.
Senang sekali ia melihat tatapan tersiksa Rani, seolah-olah ia menangkap seekor ikan besar di dalam jaring yang ia tebar di sebuah sungai.
Rani tersenyum malu, ia mengepalkan kedua tangannya yang tersembunyi dari balik tas bermerek di atas pangkuannya. Kesabarannya benar-benar terkuras banyak hanya untuk berurusan dengan Mega, gadis menyebalkan yang ingin sekali ia lemparkan ke tempat sampah.
Ugh, jika saja ia tidak memiliki tujuan di sini maka orang seperti Mega sangat mudah untuk diselesaikan.
__ADS_1
Setidaknya, ia bisa menggunakan kekuasaan Paman atau Kakeknya untuk menekan Mega beserta suaminya. Ia pikir mungkin barulah pada saat itu Mega mengerti dengan siapa ia sedang berurusan saat ini.
"Apa yang sedang kamu pikirkan, ekspresi mu tampak tidak benar?" Mega bertanya heran dengan senyuman yang bukan lagi disebut sebagai senyuman.
Dia benar-benar yakin bila Rani memiliki niat tidak terucapkan kepada Ai dan Ustad Vano. Jelas saja, Mega bisa menilainya dari ekspresi sok kalem nan polos Rani, padahal sinar matanya yang bersinar aneh menunjukkan semuanya.
Bodohnya, kenapa gadis ini memiliki obsesi yang sangat gelap kepada keluarga kecil Ustad Vano? Tidakkah ia takut obsesi di dalam hatinya itu bisa membuat hubungan kekeluargaan mereka merenggang?
"Aku...ada apa dengan ekspresi ku?" Rani bertanya polos sambil menahan amarahnya.
Mega menggelengkan kepalanya,"Aku pikir kamu sedang sakit perut karena wajahmu terlihat aneh seperti menahan sembelit." Jawab Mega polos yang langsung menimbulkan gelak tawa.
Asri sontak tertawa keras, menepuk-nepuk punggung Mega tidak percaya sementara Ai sendiri berusaha menjaga ekspresi wajahnya agar tetap tenang.
__ADS_1