Muhasabah (Cinta)

Muhasabah (Cinta)
Muhasabah (Cinta) - 154


__ADS_3

Setelah mereka pulang, Ustad Vano langsung menarik Ai ke dalam pelukannya, menenggelamkan wajahnya di dalam perpotongan leher Ai dan menghirup wangi bunga mawar yang tercium redup dari tubuh istrinya dengan rakus.


Ai langsung menoleh ke sembarang arah karena takut dilihat oleh orang lain. Tindakan intim ini sebenarnya bukan apa-apa untuk pasangan suami istri namun Ai adalah gadis pemalu. Dia masih belum terbiasa bertindak intim dengan suaminya di luar kamar.


"Sayang?" Panggil sang suami berbisik.


Ai menjawab,"Iya, Mas?"


Perhatian Ai secara otomatis diambil alih oleh Ustad Vano. Urusan ada orang yang melihat tindakan intim mereka secara alami dia lempar ke belakang karena pertama-tama, melayani suami adalah kewajiban yang harus diutamakan.


"Tahu enggak kalau surga itu mahal banget." Kata Ustad Vano rendah.

__ADS_1


Ai mengangguk polos.


"Iya, Mas. Surga adalah tempat yang tidak mungkin kita masuki kecuali mendapatkan ridho Allah. Memangnya kenapa, Mas?"


Surga adalah tempat yang tidak bisa dibayangkan betapa luasnya, tidak bisa di imajinasi kan betapa indahnya, dan tidak bisa digapai tanpa ridho sanga maha kuasa, Allah SWT.


Maka dari itu setiap hamba yang mengidamkan tempat itu harus melakukan berbagai macam cara untuk merayu Allah, sang pemilik semesta, karena bila Allah tidak berkehendak maka sekuat apapun usaha yang kita lakukan untuk meraihnya, tempat itu tidak akan pernah bisa menjadi milik kita.


Selama suaminya berbicara, Ai tidak pernah menutup telinga atau mengabaikannya. Dia adalah pendengar yang baik, apalagi untuk suaminya tercinta. Jadi ketika Ustad Vano mulai membahas tentang menyenangkan suami, pikiran pertama yang terlintas di benak Ai adalah adegan manis di atas ranjang.


En, Ai bukannya berpikir yang aneh-aneh karena kenyataannya Ustad Vano suka menariknya untuk bersenang-senang di atas ranjang sejak Ai mengatakan bila dia sangat mampu untuk menyenangkan suaminya.

__ADS_1


"Mas Vano...mau ini yah.." Kata Ai dengan suara mencicit.


Wajahnya sangat panas memikirkannya. Dengan malu-malu dia menundukkan kepalanya bahkan sebelum dia bisa menyelesaikan kata-katanya.


Ustad Vano diam-diam mengamati perubahan wajah cantik istrinya. Rona merah itu sangat cantik di pipi gembil istrinya. Setiap kali Ustad Vano melihatnya, rasa ingin memanjakan sang istri di dalam hatinya sungguh sangat menggebu-gebu. Dia ingin, sangat ingin tapi...


"Mama bilang kapan kamu bisa dinas, lagi?"


Ai langsung mengerti kemana arah pembicaraan suaminya.


"Mama bilang aku bisa melayani Mas Vano saat kandungan ku berusia 4 bulan, tapi karena takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan... alangkah baiknya melakukan itu saat kandungan ku memasuki....5 bulan, Mas." Kata Ai tidak berdaya.

__ADS_1


Memanjakan suami adalah hal yang ditekankan Bunda Safira kepadanya saat akan menikah dengan Ustad Vano. Karena semakin kompeten seorang istri mengurus suaminya, maka semakin lengket pula sang suami kepada istrinya. Dan nasihat ini sudah tertanam jauh di dalam hati Ai. Jadi dia berusaha melayani suaminya kapanpun suaminya menginginkannya. Dulu untuk urusan tempat tidur Ai adalah orang yang paling banyak mengambil inisiatif karena dia tidak ingin melewatkan setiap ladang amal yang terpapar di depan matanya. Lalu sejak mereka berbicara dari hati ke hati di rumah Bibi Saqila malam itu, Ustad Vano tidak ragu lagi mengambil inisiatif untuk beribadah karena jujur, dia sangat menginginkan Ai.


__ADS_2