
"Maaf mbak, kami sama sekali tidak berbohong bahwa tamu yang Anda cari sudah lama check out dari hotel kami." Wajah wanita di meja administrasi tidak terlalu baik karena gadis ini sudah tiga kali menyusahkannya hari ini.
Padahal sudah berkali-kali dia tekankan bahwa tamu yang dia cari telah lama check out dari hotel ini dan mereka selalu pelayan di hotel ini tidak tahu ke mana tamu ini pergi menginap. Untuk apa mereka mengetahuinya? Ini adalah rahasia atau masalah pribadi orang lain dan mereka tidak gila untuk sok bertanya.
"Tapi kak Azam beberapa hari yang lalu tinggal di hotel ini. Dan dia bilang akan tinggal di sini selama 2 atau 3 hari. Dilihat dari waktu sekarang harusnya dia tinggal di sini tinggal satu hari lagi. Mbak, tolong bantu saya. Saya akan berikan berapapun uang yang mbak minta, asalkan mbak mau memberitahu saya nomor berapa kamar kak Azam." Gadis itu, oh, atau panggil saja dia Firda, orang yang telah banyak mengganggu pelayan administrasi selama dua hari belakangan ini.
Sikapnya yang memaksa membuat para wanita yang bertugas di meja administrasi kewalahan. Mereka dominan tidak suka karena Firda sangat sulit dilayani.
"Mbak kalau nggak percaya hubungi saja tamu itu daripada memaksa kami di sini. Asal mbak tahu, mbak telah membuat masalah di sini dengan menghambat dan mempersulit pekerjaan kami. Jika mbak tetap ngotot terus menekan kami, maka lebih baik mbak pergi sekarang sebelum kami memanggil security untuk mengusir mbak dari hotel." Salah satu pelayan administrasi wanita tidak tahan lagi.
__ADS_1
Apa yang dia katakan praktis didukung oleh rekan-rekan kerjanya yang lain. Membuat Firda menjadi malu karena diusir dari hotel. Dia berdecak tidak senang, bola matanya bergerak liar melihat ke segala arah berharap bisa menemukan sosok yang dia cari. Tapi nihil, dia tidak melihat sedikit membayangkan sosok itu.
Kesal, kakinya menghentak marah sebelum pergi dengan kotak bekal di tangan kanannya. Demi menyanjung ustadz Azam, dia rela memasak pagi, siang, dan malam sambil berharap masakan yang dibuat dapat menyanjung ustadz Azam. Tapi apa yang dia temukan dalam 2 hari ini!
Semuanya sia-sia! Semua yang dia masak berakhir terbuang di bak sampah!
"Apa yang harus aku lakukan sekarang?" Dia berpikir keras memikirkan banyak cara yang tidak berguna.
Sejujurnya masih terngiang kata-kata dingin ustadz Azam hari itu. Dia malu, wajar karena dia juga punya hati. Tapi semakin ustaz Azam mengabaikannya, maka semakin gila dia akan mengejar. Setelah berpisah bertahun-tahun mana mungkin dia melepaskan cinta pertamanya.
__ADS_1
"Apa aku harus minta bantuan sama Sasa aja?" Tidak ada solusi yang lebih baik dari ini.
Meskipun Sasa terkesan menjauhinya beberapa waktu ini, namun dia sama sekali tidak peduli selama dia mendapatkan sedikit saja informasi tentang orang yang disukai.
Tidak mau berputus asa, akhirnya dia pergi ke asrama kampus dan mengetuk pintu kamar Sasa. Dia dan Sasa tidak tinggal di kamar yang sama. Jika Sasa berada di lantai 1 maka dia ada di lantai 3, mereka murni tidak sengaja bertemu saat masuk kelas mata kuliah yang sama.
"Firda? Kamu nggak kuliah?" Tanya Sasa aneh ketika melihat Firda kini tengah berdiri di depan pintu kamarnya.
Dia ingat bila Firda hari ini memiliki 4 kelas mata kuliah, tapi mengapa dia berada di sini dan bukannya di kelas?
__ADS_1