Muhasabah (Cinta)

Muhasabah (Cinta)
31. Sok Alim


__ADS_3

...يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا...


...“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”...


...QS. Al-Baqarah 2: Ayat 286...


...🍃🍃🍃...


Selepas kepergian Ai bersama Shia, kini tinggal Asri dan gadis itu di dapur ini. Mereka berdiri bahu membahu di depan wastafel, Asri yang mencuci menggunakan sabun pembersih maka gadis itu yang membersihkan setiap alat makan di bawah air mengalir dari keran.


Mereka bekerja dalam diam, namun kedua tangan mereka terus bekerja sekalipun suasana canggung kini mulai Asri rasakan. Dia memang orang yang terbuka dan ceria, mudah pula bergaul dengan orang asing. Asri bisa saja melakukan itu tetapi saat ini ia tidak bisa melakukannya karena entah mengapa gadis ini memberikan kesan seolah mereka tidak bisa dekat.


"Aku pernah bertanya-tanya apa yang membuat Kak Kevin membatalkan pertunangannya dengan Kak Sasa, gadis seperti apa yang telah membuatnya sampai mengambil keputusan pergi ke Mesir untuk menenangkan diri dan gadis seperti apa yang telah membuat Paman Arka mengejutkan semua orang di rumah. Aku pikir gadis itu pasti sangat luar biasa karena telah berhasil membuat pertikaian antara Paman dan keponakan, tapi hari ini ketika aku melihatnya kata pertama yang muncul di dalam kepalaku adalah 'biasa saja'. Dia hanyalah gadis desa biasa, tidak memiliki bakat menonjol yang menarik dan memiliki latarbelakang miskin, bahkan selama pertemuan tadi aku melihat ia beberapa kali memperlihatkan sisi noraknya pada barang-barang di rumah ini. Bersikap kampungan di depan keluarga kami, di dalam hatiku muncul sebuah pertanyaan lagi 'apakah gadis ini tidak tahu jika kami sudah beberapa kali menertawakan sikap kampungannya itu?'. Tapi dia tidak menyadari dirinya sendiri telah menjadi bahan olokan kami semua, bukannya menyadari dia malah semakin bertingkah aneh di rumah ini seperti orang idiot yang tidak pernah melihat dunia luar. Bukankah sikapnya sangat menjengkelkan?" Tanya gadis itu dengan nada biasnya.


Hari ini ia diberikan kesempatan untuk melihat gadis hebat yang telah membuat Paman dan sepupunya bertikai. Memaksa sepupunya terjebak dalam situasi yang tidak menyenangkan sehingga sepupunya memutuskan untuk pergi ke Mesir agar bisa menenangkan diri. Sedangkan Pamannya?


Paman termuda, putra terakhir dari Kakek yang sangat menjanjikan dengan segudang bakat dan prestasinya. Dia harus berakhir menikahi gadis itu, gadis yang nyatanya tidak sehebat pikiran semua orang.

__ADS_1


Gadis itu hanyalah gadis desa biasa, berasal dari keluarga miskin di sebuah kampung tertinggal. Tidak ada yang menarik dari gadis desa ini, malah gadis desa ini sangat memalukan karena ia sangat norak setiap kali melihat hal-hal baru di rumah ini.


Jadi, dimana tempat menariknya dari gadis ini sehingga membuat Paman dan sepupunya bertikai?


Berbicara mengenai cantik, jujur masih banyak orang-orang kota yang lebih cantik dan terawat daripada gadis ini.


Baik?


Hell, kota tidak pernah kekurangan orang-orang baik.


Sementara itu Asri, gadis desa yang sedang menjadi bahan topik pembicaraan menjadi diam membisu setelah mendengar pertanyaan bias gadis itu.


Ia sekarang mengerti darimana perasaan canggung itu berasal dan ia sekarang mengerti mengapa ia merasakan ada jarak diantara ia dan gadis ini.


Alasannya sangat jelas, gadis ini tidak menyukainya. Karena tidak menyukainya, gadis ini menjabarkan semua dengan satu demi satu kekurangan Asri, entah itu karena sikapnya yang udik atau latar belakang keluarganya yang miskin juga berasal dari desa terbelakang.


Gadis ini mengatakan semuanya dengan blak-blakan dan tanpa sungkan.

__ADS_1


Ah, bukankah dia adalah gadis yang kejam?


"Mas Arka dan Kak Kevin tidak pernah bertikai, mereka berbicara dengan baik-baik dan berpisah pun dengan baik-baik. Hubungan keluarga mereka tidak sedangkal itu. Dan memang benar aku mengakui dengan jujur bahwa aku adalah gadis desa yang norak atau udik, berasal dari latarbelakang keluarga miskin dan dari desa yang terbelakang pula. Aku juga mengakui bahwa tidak memiliki bakat apapun yang menonjol, aku sangat mengakui ini. Akan tetapi meskipun aku bersikap norak, lahir dari latarbelakang keluarga miskin dari desa terbelakang, dan tidak memiliki bakat yang menonjol, semua ini tidak bisa menjadikan ku menjadi orang yang bias dan suka merendahkan orang lain. Aku hidup dalam kekurangan tapi kekurangan itu tidak bisa menjadikan ku sebagai seseorang yang kekurangan sopan santun dan akhlak. Aku miskin tapi tidak berarti aku harus memiliki hati yang miskin pula. Aku sangat menghormati kalian terlepas betapa rendah aku di mata kalian, tidak apa-apa... penilaian kalian tidak akan bisa mempengaruhi penilaian Allah terhadapku. Juga mengenai pernikahanku dengan Mas Arka, ada baiknya bila kamu bertanya langsung kepada Mas Arka apa alasan ia menikahi ku karena berbicara di belakang saja tidak ada gunanya, kamu tidak akan pernah mendapat jawaban yang ingin kamu dengar. Bukankah kamu dan Mas Arka harusnya cukup dekat, jadi kenapa tidak langsung bertanya kepadanya daripada membuang-buang waktu menanyakan hal yang sama di sini?" Asri bukanlah orang yang pandai berbicara tapi bukan berarti ia tidak bisa berbicara untuk memberikan keadilan kepada dirinya sendiri.


Dirinya direndahkan, itu baik-baik saja. Kecewa, pasti. Karena sebagai manusia yang lemah dan tidak luput dari kesalahan, ia tentu tidak bisa memaksakan pendapat orang mengenai dirinya.


Ia tidak bisa menjelaskan kepada orang lain betapa baik dan lembut hatinya, ia tidak bisa menjelaskan kepada orang lain bahwa dia juga memiliki kekurangan tapi tidak memiliki hati yang jahat.


Dia tidak bisa memaksakan pendapat orang lain kepada dirinya. Karena seperti yang Ali bin Abi Thalib pernah katakan bahwa 'tidak perlu menjelaskan tentang dirimu kepada siapa pun, karena yang menyukaimu tidak butuh itu. Dan yang membencimu tidak akan percaya itu.'


Dan ini adalah faktanya.


"Dasar sok alim. Beginilah orang-orang yang lemah, disinggung dikit pasti ujungnya bawa-bawa persoalan agama. Bersikap suci padahal nyatanya sok suci, aku yakin hatinya pasti lebih busuk dan penuh dosa dari orang yang digurui." Balas gadis itu jengkel.


Bukan sebuah rahasia lagi bila Asri pernah bersekolah di pondok pesantren.


Asri menggelengkan kepalanya tidak berdaya,"Siapa yang sok alim? Lantas apakah aku harus mengatakan jika kamu adalah orang yang sok tinggi saat kamu merendahkan ku sebelumnya?" Asri bertanya balik, membuat gadis itu terbakar amarah.

__ADS_1


__ADS_2