Muhasabah (Cinta)

Muhasabah (Cinta)
Muhasabah (Cinta) - 110


__ADS_3

Takutnya Rani akan tersinggung bila dia sampai kelepasan tertawa.


Rani tersenyum malu- nyatanya dia sungguh sangat marah saat ini. Ia ingin pergi tapi tidak bisa karena takut nantinya ketiga orang ini berpikir bahwa ia kalah telak. Tapi untungnya Riani buru-buru datang menyelamatkannya. Riani terlambat datang karena pergi memarkirkan mobil di tempat parkir halaman depan.


"Assalamualaikum, semuanya." Riani memberikan salam dengan suara ceria yang dibuat-buat.


Hari ini dia tampil sangat cantik daripada terakhir kali ke sini. Dengan dress biru laut selutut, ia membiarkan rambutnya panjangnya tergerai bebas ditiup angin. Sekilas, Riani seolah memberikan kesan gadis cantik nan lemah lembut yang membutuhkan perlindungan. Dia memiliki kesan seperti ini, sekilas.


"Kenapa kita tidak masuk ke dalam? Paman Arka pasti sudah menunggu kedatangan kita." Kata Riani ceria seraya membawa tatapannya melewati Asri- yang terlihat sangat tenang dan tidak terganggu dengan kedatangannya- ini sangat aneh, pikirnya.


Seharusnya Asri terpukul ketika mengetahui perselingkuhan Lisa dengan Arka- tidak, daripada merasa terpukul seharusnya rumah tangga Asri dan Arka hari ini tidak berjalan dengan baik.


"Oh iya, benar. Aku lupa mengatakannya kepada kalian. Hari ini Paman Arka mengundang kami ke rumah, dia bilang ingin membicarakan sesuatu." Rani berucap kalem, bersikap malu-malu di depan semua orang berbanding terbalik dengan sikap ceria Riani.


Masalah apa yang ingin dibicarakan oleh Arka, mereka berdua tidak tahu menahu soal itu. Mereka tidak bertanya dan hanya merasa sangat senang saja mengetahui Arka kembali mengundang mereka ke sini.


Tapi berbeda dengan mereka berdua, Ai, Mega, maupun Asri sudah tahu masalah apa yang ingin dibicarakan oleh Arka. Klise memang, tapi sebagai seorang istri yang mencintai suami mereka memiliki ambisi besar ingin melihat seperti apa jalannya pembicaraan antara Arka dan Riani maupun Rani.


Terutama Ai sendiri, ia ingin melihat pembelaan apa yang akan dilayangkan Riani saat masalah perselingkuhan Lisa terungkap- oh, atau lebih tepatnya Ai sangat penasaran bagaimana reaksi suaminya nanti ketika berhadapan dengan Rani, adik sepupu suaminya yang memendam rasa kepada suaminya.


"Kebetulan, kami juga sudah merasa bosan di sini jadi kenapa kita tidak masuk ke dalam bersama-sama?" Kata Ai dengan senyuman manis di wajahnya.


Tidak seperti Mega yang pandai bersandiwara, Ai adalah gadis yang tidak pelit menggunakan kesopanan kepada siapapun sekalipun orang tersebut berniat buruk kepadanya.


Setelah itu mereka berlima masuk ke dalam, berjalan menuju ruang untuk mempersilakan mereka duduk sambil menunggu kedatangan Arka yang masih belum turun dari ruang kerjanya.


Sementara Mega dan Asri memanggil yang lain, Ai memutuskan pergi ke dapur untuk menyiapkan minuman dan camilan ringan untuk semua orang.


Di ruang tamu Rani dan Riani duduk dengan patuh menunggu kedatangan semua orang. Sambil menunggu mereka menyempatkan diri untuk bercermin, melihat wajah cantik mereka yang telah dipoles indah oleh berbagai macam merk make up yang cukup menguras kantong.


"Kalian sudah datang." Suara berat Arka mengintrupsi kegiatan mereka.

__ADS_1


Segera, mereka menyembunyikan cermin masing-masing ke dalam tas. 


Malu, Rani tersenyum malu-malu ketika melihat Ustad Vano juga ikut turun ke bawah menemani Arka. Tak pelak, kedatangan Ustad Vano membuat jantung Rani berdebar kencang. Ia tiba-tiba menjadi gugup berhadapan langsung dengan laki-laki yang ia sukai ini.


"Paman, kami datang sesuai dengan keinginan Paman." Kata Riani bersikap santai, berbanding terbalik dengan sikap malu-malu Rani di sebelah.


"Hem," Ucap Arka acuh tak acuh sambil melihat ponsel di tangannya.


Rani mengabaikan mereka, selain Ustad Vano, ia tidak mempedulikan yang lainnya karena tujuannya datang ke sini hanyalah satu, untuk bertemu dengan Ustad Vano.


"Apa kabar Kak Vano?" Sapa Rani lembut dengan sikap yang ia buat sepatuh mungkin.


Ia memiliki kesan gadis cantik penurun dan baik hati, ugh..dia tersenyum manis memikirkan betapa luar biasa dirinya hari ini.


Ustad Vano tersenyum,"Kabarku sangat baik." Ini semakin baik ketika ia mengingat wajah cantik nan merah istrinya ketika tahu sedang mengandung.


Ugh, sungguh tidak sabar ia membawa Ai ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan sudah berapa bulan usia kandungan istrinya.


"Kak Vano, hari ini aku ingin me-"


"Akh!" Suara pekikan Ai memotong ucapan Rani- ah, atau lebih tepatnya mulut Rani sontak tertutup rapat ketika melihat Ustad Vano berlari cepat menghampiri Ai yang sudah berdiri di ambang pintu masuk dengan nampan di tangannya.


"Apa kamu tidak apa-apa?" Tanya Ustad Vano gugup, ia mengambil alih nampan yang ada di tangan Ai dan secara alami memberikannya kepada Asri yang baru masuk ke dalam ruang tamu setelah mendengar suara pekikan Ai.


Asri melihat nampan yang ada di tangannya dan beralih menatap wajah merah sahabatnya, menggelengkan dia lalu pergi ke dalam. Membiarkan Ai diurus oleh Ustad Vano.


"Kemari, duduklah bersamaku." Arka menarik tangan Asri agar bisa duduk di sampingnya.


Semenjak pengakuan hari itu Arka sangat lengket kepadanya dan sekarang mereka juga tidak malu-malu bersikap intim di depan orang lain.


Tentu saja sikap intim ini membuat Riani tercengang di tempat, ia tidak menyangka bila hubungan mereka berdua semakin baik saja. Situasi ini juga dialami oleh Rani.

__ADS_1


Ia diam membisu di tempat, menatap penuh kebencian Ai dan Ustad Vano yang masih asik berbicara di ambang pintu masuk.


"Mas... aku terkejut ketika merasakan getaran aneh di dalam perut bawahku." Kata sambil menyentuh perutnya.


Mendengar ini kegugupan Ustad Vano segera menguap, tangan besarnya secara alami menyentuh permukaan perut Ai yang jauh lebih kencang dan agak menonjol dari sebelumnya.


"Insya Allah, anak kita adalah anak yang cerdas dan sholeh atau sholehah. Buktinya, dia sudah mencoba berinteraksi dengan kita di usia kandungan sedini ini." Bisik Ustad Vano lembut dengan tangan yang tidak berhenti mengusap.


"Insya Allah, Mas. Insya Allah." Bisik Ai dilanda perasaan manis.


"Untuk saat-saat ini kamu jangan terlalu banyak aktivitas dulu yah, Ai. Aku tidak ingin kamu dan anak kita kenapa-kenapa." 


Ai juga merasakan hal yang sama. Anak ini sungguh sangat berharga untuk Ai karena ia takut bila bersikap ceroboh anak ini bisa hilang kapan saja. 


"Insya Allah, Mas. Ai gak akan melakukan banyak aktivitas untuk saat-saat ini apalagi sampai mengangkat beban yang berat." 


Mereka kini berjalan masuk ke dalam ruang tamu sambil mengobrol. Mereka tidak menyadari bila ada seseorang yang terlihat sangat panik juga cemburu ketika melihat tangan Ustad Vano terus saja mengusap permukaan perut Ai.


Tidak tahan, ia lantas berdiri dari duduknya sambil melayangkan sebuah pertanyaan yang sejujurnya cukup menakutkan untuk dirinya sendiri.


"Kak Vano...apa...apa istri Kakak sedang hamil?" Tanya Rani dengan nada antisipasi.


Ustad Vano tidak menoleh menatapnya, tapi senyuman lembut di sudut bibirnya tidak bisa disembunyikan dari Rani.


"Benar, istriku sedang hamil. Dia sedang mengandung anakku dan kami baru mengetahuinya pagi ini." Jawab Ustad Vano bagaikan sebuah vonis hukuman untuk Rani.


Rani berdiri membeku di tempat menatap tidak percaya Ustad Vano dengan wajah yang sudah berubah menjadi pucat pasi seperti kekurangan darah.


"Ha-hamil?" Bisiknya tidak rela.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2