Muhasabah (Cinta)

Muhasabah (Cinta)
Muhasabah (Cinta) - 105


__ADS_3

"Sampai kapan Mas Azam terus berdebat?"


Ah, Mega!


Dia juga ada di sini? Jika dia di sini maka jangan-jangan ia juga melihat apa yang ku lakukan dengan Mas Vano?


Ugh, aku semakin malu!


"Kami tidak berdebat-"


"Mas Arka jangan membuat masalah! Ingat, Asri masih belum memaafkan kesalahan Mas Arka semalam." Ancaman Asri benar-benar manjur karena setelah itu aku tidak lagi mendengar suara Paman Arka.


"Lihat, kalian berdua di marahi oleh istri kalian sendiri." Mas Vano masih kekanak-kanakan, ya Allah... Pria kekanak-kanakan yang kini sedang memelukku ini adalah suamiku, Ayah dari mahluk mungil yang ada di dalam rahimku.


Masya Allah, sungguh besar kuasa Allah. Sampai dengan detik ini aku masih tidak menyangka bila di dalam rahimku kini sudah ada mahluk mungil, hidup, dan amanah dari Allah untuk kami jaga.


"Ustad Vano, bisakah kami berbicara dengan Ai?" Itu adalah suara Asri meminta izin kepada suamiku.


Ada kecupan hangat di keningku,"Tentu saja, kalian bisa berbicara bebas dengan bumil yang ada di pelukan ku-"

__ADS_1


"Mas Vano jangan ngomong gitu.." Potongku malu, ini sama saja Mas Vano mengumumkan kepada semua orang bahwa aku sedang hamil.


Mas Vano tertawa terbahak-bahak, dia mengecup keningku lagi sebelum membantuku turun menemui kedua sahabatku.


Sepanjang menuruni tangga, aku tidak pernah berani melihat wajah semua orang, terutama wajah kedua sahabatku. Rasanya sungguh memalukan.


"Ai," Mega dan Asri berjalan mendekati ku.


Malu, aku menatap mereka ragu dan seketika langsung terkejut ketika melihat mata basah mereka.


"Kenapa kalian menangis?" Aku tiba-tiba menjadi sedih tanpa alasan.


"Aku senang mendengar kabar kehamilan mu wahai sahabatku. Sekarang segala keraguan di dalam dirimu telah Allah hapus dengan kedatangan buah hati di dalam dirimu. Dan sekarang kamu tidak perlu merasa rendah lagi bila bertemu dengan gadis lain karena Allah telah memuliakan dirimu wahai Aishi Humaira, kamu akhirnya akan menjadi seorang Ibu!" Asri berbicara banyak di dalam pelukan kami.


Dia mengatakan banyak kata-kata menyentuh dan tidak bisa tidak membuatku menangis. Ya Allah, mereka adalah sahabat terbaik yang pernah aku temui di dunia ini. Mereka mengerti diriku, mengerti keresahan ku, dan mengerti ketakutan ku.


Mereka tidak mau melihatku sedih apalagi membuatku sedih, maka aku mohon ya Rabb, tolong satukan kami di surga-Mu nanti. Tolong jangan pisahkan kami ya Allah dan ridhoi lah hubungan kami hingga ke Surga-Mu, karena sungguh mereka adalah orang-orang baik yang membantuku semakin dekat dengan Mu ya Allah.


Entah sejak kapan Mas Vano, Ustad Azam, dan Arka meninggalkan kami bertiga. Mereka memberikan kami waktu dan tempat untuk berbicara, berbagi kebahagiaan yang tengah meluap-luap di hati kami.

__ADS_1


"Ai, apakah kamu tahu bila Mega juga sudah hamil?" Asri mengejutkan ku.


Dia tiba-tiba memberitahu ku sebuah kabar bahagia, Mega hamil ya Allah! Aku dan Mega sedang hamil!


Ini adalah sebuah kabar bahagia.


"Benarkah?" Tanyaku bersemangat.


Sekarang kami bertiga sedang duduk di ruang keluarga. Karena capek berdiri terus kami bertiga akhirnya memutuskan pergi ke dalam ruang keluarga untuk duduk sambil mengobrol ringan.


"Benar Ai, usia kandungan ku sudah hampir dua minggu." Mega mengakui dengan rona merah di wajahnya.


"Masya Allah, selamat sahabatku, kamu sebentar lagi akan menjadi seorang Ibu." Aku senang mendengarnya.


Dia menatapku dengan mata merah habis menangis,"Maafkan aku, Ai, baru memberitahumu hari ini. Aku sungguh tidak bermaksud menyembunyikan kabar baik ini darimu. Aku ingin berbagi denganmu tapi aku takut kamu menjadi cemas dan semakin merendahkan diri sendiri. Aku tidak ingin melihat mu bersedih sahabatku karena itulah aku hanya memberitahu Asri dan tidak memberitahumu."


Ah, jadi rupanya seperti itu. Sikap aneh mereka berdua tadi subuh karena masalah ini, sekarang aku mengerti.


"Sejujurnya mungkin apa yang kamu katakan benar bila aku akan sedih bila tahu kamu sedang hamil tapi bukan berarti aku akan semakin terpuruk, Ga. Aku punya Allah dan inshaa Allah dengan datangnya kehamilan mu akan membuatku semakin terpacu berdoa kepada Allah. Akan tetapi skenario Allah ternyata jauh lebih tidak terduga, disaat kamu mendapatkan kabar bahagia Allah juga kirimkan kabar bahagia kepadaku. Bukankah skenario Allah sungguh indah dan tidak terduga?"

__ADS_1


__ADS_2