Muhasabah (Cinta)

Muhasabah (Cinta)
Muhasabah (Cinta) - 177


__ADS_3

"Alhamdulillah, Bu. Pekerjaan di luar sudah selesai. Sekarang Bapak dan yang lainnya pergi ke sungai. Tadinya aku ingin ikut tapi Bapak melarang. Kata Bapak dia ingin bernostalgia bersama kerabat yang lain karena sudah lama tidak kembali ke kampung." Doni menjawab dengan sopan sambil tersenyum manis kepada Ibu.


Dia tadi ingin membantu pergi ke sungai tapi segera dihentikan oleh Bapak. Bapak bilang dia ingin menghabiskan waktu bersama teman-temannya di sungai untuk mengenang masa lalu sebab dia sudah lama tidak datang ke desa dan di masa depan akan sulit datang ke sini lagi.


Ibu mengerti mentalitas suaminya itu. Sebelum datang ke desa suaminya sudah pusing memikirkan banyak hal dan membeli banyak oleh-oleh untuk menjamu teman-teman di desa. Kebaikan orang-orang di desa tidak akan pernah terlupakan.


"Kalau begitu Ibu juga akan menyusul. Kamu istirahatlah di sini bersama Fina. Kalian bisa makan atau membicarakan banyak hal sementara menunggu rumah dibersihkan. Atau kalau kalian mau, kalian bisa tinggal di dalam kamar. Meskipun sekarang masih siang, tidak akan ada orang berkata apa-apa karena mereka mengerti pasti kalian lelah setelah sibuk seharian." Ibu masih sempat-sempatnya menggoda pasangan pengantin baru itu.

__ADS_1


Baik Fina maupun Doni tidak mau mempan dengan godaan Ibu. Doni masih bisa mengontrol ekspresinya sebaik mungkin di hadapan Ibu, tapi tidak dengan Fina. Ekspresi jijik di wajahnya sama sekali tidak tersamarkan yang membuat Doni menatap tidak senang.


"Bu, jangan khawatir. Emak sudah menunggu di depan, katanya dia ingin mengobrol bersama Ibu-ibu di desa dan dia menyuruhku untuk memanggil Ibu segera ke sana." Doni dengan mulus mendorong Ibu seperti agar tidak terjebak dalam suasana canggung diantara mereka berdua.


Dia sungguh tidak tahan melihat sikap Fina kepada Ibu, wanita ini tidak bisa diremehkan karena dia adalah orang yang licik. Sungguh disayangkan bahwa Bapak dan Ibu malah mempercayakan Fina kepadanya. Dia tidak suka kepada wanita ini namun anggar menurut kepercayaan keluarganya. Jadi dengan berat hati dia menikahi Fina.


"Asri dan suaminya sudah datang." Selepas Ibu pergi Doni langsung angkat bicara.

__ADS_1


Fina menggertakkan giginya tak puas.


"Mereka datang, tapi langsung beristirahat di dalam kamar. Mereka sama sekali tidak menempatkan kamu di dalam mata mereka, dengan kata lain mereka tidak menghargai pernikahan kita." Ucap Fina penuh kebencian.


Doni sontak tertawa, menertawakan betapa naif nya Fina dan betapa buruk keberuntungannya menikahi wanita ular ini.


"Yang tidak dihargai oleh mereka itu kamu, bukan aku. Jangan berpikir bahwa aku tidak tahu apa-apa tentang kamu di kota. Bapak dan Ibu sudah menjelaskan semuanya, kamu tidak bisa mengelabui ku. Selain itu apakah kamu tidak malu terus-menerus membayangi pernikahan mereka berdua, kamu pernah belajar tentang kesehatan dan mengetahui dengan baik apa itu parasit, seperti apa kinerjanya, dan dampak apa yang ditinggalkan oleh parasit? Yah, kurang lebih kamu seperti parasit. Bakal aneh kalau kamu tidak menyadarinya." Ucap Doni mencibir, menggambarkan ekspresi suram di wajah istrinya.

__ADS_1


Wajah Fina memerah terang tampak sangat marah. Dia ingin berteriak melampiasan kemarahannya sama seperti yang dia lakukan ketika bersama kedua orang tuanya, tapi dia tidak bisa karena Doni adalah orang yang kejam.


"Aku akan beristirahat di dalam kamar!" Ucapnya marah dan langsung pergi tanpa memperhatikan persetujuan dari suaminya.


__ADS_2