
Sudah satu minggu mereka tinggal di rumah itu dan sudah satu minggu pula Fina tidak pernah datang berkunjung ke rumah. Mereka pikir Fina telah menyadari kesalahannya dan berharap bila Fina kembali ke hidupnya yang biasa, kembali ke kota B untuk meraih cita-citanya.
Hari ini Ai dan Ustad Vano akan pergi ke rumah Kakek. Yang pergi tidak hanya Ai dan Ustad Vano saja, karena pasangan Asri dan Arka juga akan pergi. Mereka sudah satu minggu resmi menikah maka sudah seharusnya mereka mengunjungi rumah keluarga dari pihak laki-laki untuk bersilaturahmi.
Karena mereka akan mengunjungi tempat yang sama, maka Arka dan Ustad Vano memutuskan untuk menggunakan satu mobil. Mereka berangkat bersama-sama dari pagi dan mungkin akan kembali nanti sore.
Sepanjang jalan Asri dan Ai terlihat sangat gugup. Wajah mereka tampak kaku kesulitan membentuk sebuah senyuman dan telapak tangan mereka menjadi dingin seiring waktu. Ini adalah reaksi normal setiap orang bila merasakan gugup atau ketakutan.
Bagaimana mungkin mereka tidak merasa gugup jika rumah orang yang akan datangi hari ini adalah mansion besar keluarga Arka dan Ustad Vano.
Di sana ada banyak sekali anggota keluarga, mulai dari Kakek dan Nenek, kemudian para Bibi dan Paman, sudah pasti pula ada beberapa sepupu dan keponakan yang takutnya merasa tidak nyaman dengan kedatangan mereka.
"Jangan gugup. Keluargaku dan Paman Arka tidak akan sejahat itu bahkan sampai ingin memakan kalian." Ucap Ustad Vano bercanda.
Ia ingin mencairkan suasana beku diantara istri dan Bibinya, tapi usahanya tidak membuahkan hasil apa-apa dan malah mereka berdua kini tengah menatapnya dengan tatapan ngeri.
Tanpa bertanya pun Ustad Vano tahu apa yang ada dipikiran mereka berdua. Mungkin seperti drama berantai di dalam sinetron-sinetron televisi.
__ADS_1
"Oh, baiklah jujur saja, mereka akan menjadikan kalian sate jika masih bersikap kaku seperti ini. Berusahalah terlihat ceria atau setidaknya murah senyum untuk membuat mereka nyaman kepada kalian." Kata Arka santai sambil menyetir di depan sana.
Cara ini juga tidak membuahkan hasil karena Ai dan Asri kian takut saja memikirkan pertemuan mereka dengan pihak keluarga laki-laki. Mereka tidak tahu tanggapan dari keluarga sana nanti setelah bertemu.
Ai takut tidak bisa berbicara santai dengan keluarga Ustad Vano karena ia adalah tipe orang yang sulit bergaul, sedangkan Asri takut tidak bisa bersikap dengan benar dihadapan keluarga Arka karena ia adalah gadis desa yang lahir di desa dan tidak terlalu mengerti tentang kehidupan orang kota.
30 menit perjalanan singkat, mereka akhirnya sampai di mansion rumah mewah milik keluarga Ustad Vano dan Arka. Bagi Ustad Vano, rumah ini adalah rumah yang penuh akan masa kecilnya sebelum mengenal Ai. Sedangkan bagi Arka rumah ini adalah rumah yang menjadi saksi bisu perjalanan hidup Arka dari kecil hingga menginjak usia dewasa ini.
"Paman Arka, Kak Vano!" Teriakan manja dan bersemangat datang dari pintu masuk mansion.
Di sana ada gadis kecil nan cantik dengan dress pink selutut yang tengah menunggu kedatangan mereka dengan semangat tinggi. Gadis itu adalah sepupu Ustad Vano dan seorang keponakan untuk manis untuk Arka.
Gadis itu sangat sopan kepada Ai dan Asri. Setelah mengirim Arka dan Ustad Vano masuk menemui Kakek, gadis itu lantas membawa Ai dan Asri ke tempat semua orang berkumpul. Mereka di sapa dengan ramah, diperlakukan dengan baik dan hangat sehingga mereka tidak merasa terasingkan.
Keluarga Arka dan Ustad Vano menyambut baik kedatangan mereka berdua.
Siang harinya mereka telah menyelesaikan acara makan siang bersama. Ai dan Asri menawarkan diri untuk membersihkan meja makan. Awalnya gagasan ini ditolak oleh para Bibi yang lain karena menurut mereka tidak seharusnya pengantin baru melakukan ini.
__ADS_1
Akan tetapi Ai dan Asri bersikeras, hitung-hitung mereka ingin latihan mengenal dapur lebih dekat lagi.
Ai dan Asri membersihkan meja makan dengan cepat. Mereka lalu membawa piring-piring bekas ke dapur untuk dibersihkan.
"Permisi," Seorang gadis cantik mengetuk pintu dapur.
Ai dan Asri kompak menoleh ke belakang.
"Ya?" Ai tidak tahu siapa nama gadis ini karena saat awal bertemu tadi gadis ini tidak memperkenalkan dirinya seperti anggota keluarga yang lain.
"Mama bilang ingin berbicara sebentar dengan Kak Aishi di taman belakang." Kata gadis itu menyampaikan pesan dari Mamanya.
"Mama?" Ai tidak tahu siapa Mama yang gadis ini maksud.
"Oh, maksudku Bibi Mei. Dia bilang ingin berbicara dengan Kak Aishi di taman belakang."
Meskipun namanya disebutkan, Ai masih belum tahu pasti siapa orang yang dimaksud karena di rumah ini ada banyak sekali Bibi dan Paman. Ini adalah keluarga besar.
__ADS_1
Melihat ekspresi bingung Ai, gadis itu lalu berkata lagi,"Jika Kak Aishi tidak tahu maka biarkan adikku mengantarkan Kak Aishi menemui Mama kami."