
Ah, tiba-tiba Asri merasa kecewa. Kecewa?
Hei itu wajar saja, okay. Dia sudah menganggap Arka sebagai suaminya dan yah...dia mengakui bahwa hampir satu bulan tinggal bersama Arka membuat hatinya merasakan getaran manis itu lagi- ah, apapun itu mereka sudah menjadi suami istri maka sudah seharusnya mereka saling membutuhkan, bukan?
Mereka harusnya saling membutuhkan tapi kenapa Arka... Hah, mungkin ini hanya perasaan Asri saja.
Asri tersenyum kecil,"Aku sudah di sini dari 20 menit yang lalu."
Dia bahkan sempat berbicara.
Arka terlihat heran,"Kok kamu gak ngomong udah di sini?" Ada nada tidak sabaran di dalamnya.
Seolah mengisyaratkan bahwa Arka tidak terima segala aktivitasnya tadi dipantau oleh Asri. Sikapnya ini bertolak belakang dengan sikap Arka biasanya.
"Aku udah ngomong, Mas. Malah sebelumnya aku nanya kamu hari ini mau ke kantor apa enggak?" Asri mengingatkan dengan murah hati.
Ia pikir Arka akan merasa bersalah setelah mengingatnya, mungkin saja suaminya itu akan meminta maaf kepadanya, tapi... Tapi tidak terjadi sama sekali. Arka tidak meminta maaf kepadanya dan malah memberikan reaksi santai seolah itu adalah sesuatu yang tidak penting-
__ADS_1
Astagfirullah, hari ini Asri sudah terlalu sering terbawa perasaan. Bahkan untuk hal-hal terkecil pun tidak luput dari perasaannya. Ia tidak seharusnya begini, ia tidak seharusnya terlalu banyak melibatkan perasaan.
"Oh, kenapa aku gak tahu, yah?" Arka semakin membuat Asri kecewa.
"Mas Arka terlalu asik main ponsel. Memangnya pekerjaan di kantor mesti dibawa pulang ke rumah ya, Mas? Kenapa gak diselesaikan saja di kantor atau enggak di lanjutkan saja di kantor dan jangan di rumah. Ini adalah waktu istirahat untuk Mas Arka." Asri banyak bicara, sejujurnya dia saat ini sedang mengeluh kepada suaminya.
Dari hari senin sampai jumat, suaminya lebih banyak menghabiskan waktu di kantor. Lalu hari sabtu dan minggu, suaminya jarang mendapatkan waktu santai karena urusan kantor terus mendesak untuk diselesaikan dan tidak ada putus-putusnya.
Asri jengkel sendiri melihatnya karena ia tidak memiliki banyak waktu dengan suaminya untuk mengembangkan perasaan. Asri tidak mau munafik, dia mengakui bahwa dia sangat bersemangat dalam pernikahan ini dan bahkan juga menginginkan bayi dari Arka. Dia ingin menikah hanya sekali seumur hidup, memiliki beberapa anak dan hidup nyaman dengan Arka.
Jujur Asri cemburu melihat kedua sahabatnya. Hanya saja ia telah berusaha, berusaha menciptakan peluang untuknya dan Arka agar bisa menyusul yang lain. Namun Arka... namun suaminya itu terlalu sibuk dengan urusan kantor ataupun urusan keluarga di mansion keluarga.
Asri kewalahan dan sering bingung sendiri memikirkannya.
"Urusan kantor itu rumit, ini lebih rumit daripada urusan sawah ataupun pasar jadi penyelesaiannya butuh waktu." Arka menimpali dengan santai sembari melihat kembali layar ponselnya namun dengan jarak yang cukup jauh dari jangkauan Asri.
Sawah?
__ADS_1
Pasar?
Apa Arka sedang menyindir keluarganya?
Apa Arka sedang membandingkan keluarganya?
"Apa Mas Arka sedang membandingkan keluargaku?" Tanya Asri menahan sesak.
Tidakkah selama ini suaminya menganggap Ibu dan Bapak sebagai orang tuanya juga?
Tidakkah Ibu dan Bapak dihormati oleh suaminya?
"Hem? Enggak, juga." Sahutnya sembari mengetik sesuatu di ponselnya.
Asri meremas pakaiannya kesal juga kecewa,"Mas Arka!" Dia sudah bersiap marah.
"Apalagi sih, Asri?" Tanya Arka terlihat tidak suka waktunya diganggu.
__ADS_1