Muhasabah (Cinta)

Muhasabah (Cinta)
Muhasabah (Cinta) - 122


__ADS_3

"Kamu tahu? Bahkan dokter sekalipun tidak berani menjatuhkan vonis terhadap kondisi pasiennya sebelum dia melihat semua data perkembangan pasien tersebut. Adapun kamu, bukan dokter juga bukan siapa-siapa tapi masih berani memberikan vonis kepada putriku. Apakah kamu tidak takut masalah ini akan menghancurkan kedua keluarga?!" Geram Bunda Safira sangat marah.


Orang tua mana yang tidak geram saat mengetahui kebahagiaan putrinya akan dihancurkan oleh orang lain? Tidak sampai di sana saja, tapi orang tersebut juga membicarakan kelemahan putrinya sebagai senjata untuk membuat putrinya mundur, bukankah orang-orang ini mencari masalah?


Jujur, Bunda Safira sudah lama tidak bertemu dengan orang tidak tahu malu seperti bibi Mei yang secara terang-terangan mengklaim kekurangan putrinya.


Dan karena ini menyangkut putrinya, apakah dia akan tetap tinggal diam saja?


"Nyonya Safira jangan salah paham. Aku tidak bermaksud menjatuhkan-"

__ADS_1


"Jika tidak bermaksud menjatuhkan lalu apa maksud tindakan mu dan putrimu? Apa kamu pikir tindakan kalian sangat terpuji? Diam-diam merencanakan kemalangan putriku, Nyonya Mei, Allah tidak akan diam saja dengan rencana kalian ini. Cepat atau lambat kalian akan mendapatkan balasannya. Di samping itu karena perbuatan kalian ini aku menjadi lebih berhati-hati lagi membiarkan putriku tinggal bersama kalian. Nauzubillah, hanya Allah yang tahu rencana jahat apa yang akan kalian lakukan kepada putriku!" Potong Bunda Safira sangat marah dan juga sedih.


Bila dia tahu akan disakiti semudah ini maka lebih baik pernikahan Ai ditunda beberapa tahun lagi sampai pikiran putrinya dewasa dan lebih mampu melindungi diri. Karena jika seperti ini terus putrinya akan tertekan yang sangat berdampak buruk pada janinnya kelak. Karena dampak ini keguguran tidak menutup kemungkinan besar terjadi dan bagi seorang Ibu yang telah mendambakan kehadiran anak, kehilangan janin adalah sebuah pukulan fatal yang sangat sulit diterima.


Bunda Safira sangat takut Ai tidak bisa menahan semuanya.


"Nyonya Safira, aku tidak bermaksud mengatakan itu. Kami sama sekali tidak-"


Bunda Safira bukanlah orang yang mudah marah dan masih bisa diajak kompromi jika dia bisa berbicara baik-baik ataupun mampu melobi pembicaraan.

__ADS_1


Bibi Mei menatap Rani dengan pandangan bertanya tapi hanya dibalas sebuah anggukan ringan dari Rani. Menimbang, bibi Mei akhirnya membiarkan Rani mengambil pembicaraan karena biar bagaimanapun Rani adalah putrinya yang cerdas dan pernah sekolah tinggi di luar negeri. Otomatis dia memiliki cara tersendiri untuk melawan Safira.


"Bibi Safira, aku ingin menjelaskan semua kesalahpahaman ini kepada bibi dan semua orang." Terang Rani sambil mengatur napasnya.


Bohong jika dia tidak gentar dihadapkan langsung dengan Bunda Safira, seorang mantan jaksa bergengsi yang pernah memiliki reputasi tinggi. Ada juga para anggota keluarga dari kedua keluarga. Semua mata menatapnya dengan berbagai macam ekspresi yang tidak sulit ditebak. Ini hanya masalah menyangkut harga diri. Memalukan sebenarnya tapi dia tidak bisa terjerat rasa malunya untuk saat ini.


"Kesalahpahaman? Apa otaknya mengalami masalah?" Suara cemoohan bibi Sifa tidak disamarkan sama sekali.


"Istri, jangan membuat masalah." Tegur Paman Sahid gatal ingin mencubit pipi istrinya.

__ADS_1


Ditegur Paman Sahid, Bibi Sifa tanpa sadar menundukkan kepalanya terlihat sangat patuh.


"Aku memang menyukai Kak Vano dan perasan ku sudah ada jauh sebelum Kak Vano menikahi Ai. Sebagai seorang gadis yang menyukai Kak Vano, aku selalu memiliki tekad untuk bersama dengannya sampai suatu hari aku menerima kabar pernikahan mereka. Aku tidak bisa melupakan Kak Vano," Matanya tanpa sadar menyapu Ustad Vano- yang malangnya sama sekali tidak menatapnya.


__ADS_2