
Gadis itu sangat ketakutan setelah mendapatkan ancaman dari Mega. Tanpa mengatakan kata-kata provokasi apapun lagi dia segera berbalik dan kembali ke rumah. Meskipun malu dipermalukan oleh Mega dan Asri, tapi keselamatan masa depannya jauh lebih penting dari apapun itu.
Ini diluar perhitungannya. Sungguh. Dalam hidup ini dia tidak pernah mengira bila masalah yang dia timbulkan akan mengirimnya ke jurang kehancuran. Bila ditanya apakah dia menyesal melakukan semua ini dan jawabannya adalah ya, dia menyesal tapi pada saat yang sama juga tidak. Hatinya seolah menolak percaya bila Ustad Vano sepenuhnya telah menjadi milik Ai. Wanita cantik nan polos yang akhir-akhir ini sering dibicarakan tetangga karena kecantikannya yang mempesona.
Pada kenyataannya Ai, Mega, dan Asri adalah gadis yang cantik-cantik dengan pesona yang berbeda. Namun diantara mereka bertiga Ai adalah kecantikan lembut nan murni yang paling menonjol.
Dia cemburu, jujur. Dan kecemburuannya serasa dibenarkan saat suatu hari dia mendengarkan seorang gadis keluar dari rumah Arka sambil menyumpah serapahi Ai. Dan dari saat itulah dia mengetahui sebuah rahasia bila Ai sebenarnya tidak sempurna.
Peluangnya untuk mendapatkan Ustad Azam serasa dihidupkan. Dia bahagia dan mencoba untuk mencemarkan nama baik Ai di sini.
"Dek, kok kamu udah pulang aja? Si Angga mana? Kok enggak pulang bareng kamu?" Seorang wanita paruh baya menyapa gadis itu ketika dia masuk ke dalam rumah.
"Angga masih main, Ma."
__ADS_1
"Kenapa dibiarin main? Bukannya Mama udah suruh kamu tadi biar panggil dia pulang?" Mama heran.
Gadis itu tidak ingin meladeni Mamanya karena pikirannya sedang kacau.
"Enggak taulah, Ma! Adek pusing!"
Dia kemudian masuk ke dalam kamarnya tanpa menunggu Mama mengatakan apa-apa. Mama heran melihat sikap putrinya. Dari wajah dan tindakan putrinya yang aneh, Mama melihat ada sesuatu yang salah. Jadi dia mengikuti putrinya masuk ke dalam kamar.
Gadis itu mengusak-ngusak rambutnya gelisah.
"Aku enggak apa-apa, Ma. Lagi malas ngomong aja!" Jawabnya ketus.
Mama terkejut dengan nada tinggi putrinya yang tidak biasa. Sekalipun manja putrinya tidak sampai menggunakan nada ini untuk membentaknya.
__ADS_1
"Enggak apa-apa tapi masih bentak Mama?!" Mama marah.
Gadis itu cemas dan gelisah. Dia mengabaikan nada marah Mamanya. Mengambil ponselnya untuk mencari kontak teman-temannya yang Isa dihubungi. Tapi setelah melihat kontak pribadi di ponselnya, dia sadar jika dia tidak bisa meminta bantuan kepada temannya untuk masalah sebesar ini. Bukannya dibantu, dia malah dicap sebagai pelakor nantinya.
"Dek, kamu dengerin Mama enggak sih?"
"Udah ah, Ma! Aku lagi pusing dan enggak mood ngomong." Teriak gadis itu sambil menjatuhkan dirinya ke atas kasur.
Dia tidak mau berbicara dengan Mamanya mengenai masalah ini karena Mamanya pasti akan sangat marah mendengarnya. Tidak hanya takut membuat Mama marah tapi dia juga takut bila Papanya mendengar masalah ini karena marah Papanya sangat menyeramkan. Dia takut orangtuanya tahu dan dia juga takut menerima konsekuensi dari masalah ini.
Berharap bila apa yang Ustad Vano katakan tadi hanyalah sebuah ancaman belaka.
Tapi tidak berselang lama suara pintu dibuka dengan bantingan kasar segera bergema di dalam rumah ini. Membuat gadis itu dan Mamanya tersentak kaget di dalam kamar. Sebelum gadis itu sempat bertanya siapa yang datang, raungan marah Ayahnya langsung membungkam mulut gadis itu.
__ADS_1