Muhasabah (Cinta)

Muhasabah (Cinta)
Muhasabah (Cinta) - 162


__ADS_3

Ustad Vano mengelus puncak kepala istrinya penuh akan kasih sayang.


"Tentu saja. Kita akan membacanya sama-sama untuk anak kita." Katanya menekankan.


Setelah itu mereka berdua lalu turun dari ranjang dan bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri serta mengambil air wudhu. Selanjutnya mereka berdua kemudian mendirikan shalat bersama-sama, dengan ustad Vano sebagai imam dan Ai adalah satu-satunya makmum.


Mereka shalat menghadap kiblat bersama-sama, shalat seolah-olah Allah dapat melihat mereka berdua. Ini adalah salah satu cara untuk menjaga shalat agar tidak mudah lalai saat mendirikannya. Jika tidak bisa melihat Allah subhanahu wa ta'ala dalam shalat, maka shalat lah seakan-akan Allah melihat kita.


...*****...


Saat azan subuh berkumandang, semua laki-laki yang ada di rumah pergi ke masjid untuk shalat berjamaah menyisakan para wanita yang sibuk dengan tugas masing-masing.


Ada sarapan sederhana yang siap di meja makan dan masih menganggur karena para suami belum pulang.


Ai tidak bisa tinggal diam. Dia langsung pergi ke halaman belakang untuk menyirami tanaman pot sembari menunggu kepulangan suaminya. Sedangkan Mega beristirahat di kamarnya karena kondisinya tidak nyaman. Sementara Asri mengikuti Ai ke halaman belakang untuk menyiram tanaman.


"Ai, bapakku tiba-tiba memberitahuku untuk datang ke acara syukuran pernikahan adikku di desa. Aku dan Mas Arka berencana untuk pergi nanti setelah selesai sarapan. Rencananya aku ingin mengajak kalian juga pergi. Tapi Mega dan ustaz Azam tidak bisa ikut karena kondisi Mega tidak bisa melakukan perjalanan jauh. Dan ustadz Azam juga akan melakukan perjalanan bisnis selama 3 hari. Jadi tinggal kalian berdua sekarang. Menurutku kehamilanmu sekarang dalam masa rentan jadi aku tidak memaksa kamu dan ustadz Vano untuk ikut bersama kami ke desa. Aku tidak ingin terjadi apa-apa dengan kamu dan keponakanku. Tapi jika kamu ingin pergi, aku tidak bisa melarang. Malah aku senang pergi bersamamu, Ai." Asri sudah berbicara dengan Mega setelah salat subuh tadi dan dia dapat mengerti penolakannya.


Dia juga berpikir bahwa Ai seharusnya tidak ikut mengingat kondisinya yang sedang hamil, tapi tidak ada salahnya untuk bertanya.


Ai sempat mendengar pernikahan paksa Fina dengan sepupunya yang tinggal di desa. Menurutnya itu bagus agar Fina tidak mengganggu pernikahan sahabatnya lagi. Jujur saja, dua juga merasa risih melihat Fina terus-menerus mengganggu pernikahan sahabatnya. Untungnya Arka adalah orang yang kuat dan tidak mudah goyah. Bukannya tergoda dengan Fina tapi Arka malah ilfil hingga tidak mengizinkannya menginjakkan kaki lagi ke rumah ini. Dia langsung lega mendengarnya dan lebih lega lagi ketika mendengar pernikahan Fina.


"Sepertinya aku tidak bisa pergi Asri. Bunda dan Mama bilang untuk saat-saat ini lebih baik aku tinggal di rumah saja. Aku hanya bisa berdoa dari sini dan menitipkan hadiah pernikahan lewat kamu. Tolong sampaikan salamku kepada adikmu, semoga pernikahannya dalam lindungan Allah subhanahu wa ta'ala." Kata Ai dengan nada meminta maaf.

__ADS_1


Asri langsung lega mendengarnya.


"Tentu pasti aku sampaikan. Tapi tidak perlu repot-repot menyiapkan hadiah kepadanya." Asri merasa tidak enak hati karena air tidak dekat dengan adiknya.


Ai tersenyum lembut,"Tidak apa-apa, aku senang melakukannya." Lalu dia mengalihkan topik pembicaraan,"Apakah kalian akan menginap?"


Desa tempat tinggal Asri dulu sangat jauh jika dihitung dari kota ini, jadi mau tak mau Asri dan suaminya harus menginap.


"Kami rencananya untuk menginap, mungkin selama beberapa hari. Soalnya suamiku juga punya urusan di sana yang harus segera diselesaikan." Jawab Asri setelah berpikir sebentar mengingat pembicaraannya dengan Arka semalam.


...*****...


"Jaga baik-baik di rumah dan tunggu Mamaku datang untuk menjemput. Aku tidak mengizinkanmu angkat kaki dari rumah ini sebelum Mamaku datang." Ustadz Azam mengecup berkali-kali puncak kepala istrinya.


"Dengar?" Tanya ustadz Azam setelah puas mengecup puncak kepala istrinya.


Wajah Mega sangat pucat, dia terlihat lemah dan lebah pada saat yang sama karena perutnya berulah lagi. Sejak tadi malam dia tidak bisa memasukkan nasi ke dalam mulutnya. Setiap kali dia memaksakan diri, perutnya pasti akan langsung bergejolak dan memuntahkan semua isi perutnya.


Melihat kondisi istrinya yang tidak baik, ustadz Azam enggan meninggalkannya.


"Aku dengar kok, mas. Aku akan menunggu Mama datang menjemputku. Mas Azam nggak usah khawatir dan perhatikan keselamatan saat pergi." Mega mengangguk lemah.


Karena ustadz Azam harus pergi melakukan perjalanan bisnis, dia tidak yakin meninggalkan Mega di rumah ini dengan kondisi yang tidak meyakinkan. Asri dan Arka akan pergi ke luar kota, sedangkan Ai juga sedang hamil dan membutuhkan ustadz Vano. Tidak akan ada yang mengurus Mega, jadi dia minta bantuan kepada Mamanya yang lebih berpengalaman.

__ADS_1


"Apakah kamu sudah minum obatnya?" Obat yang diberikan oleh Mama ustadz Vano, efeknya sangat baik kepada Mega.


"Sudah, mas, saat sarapan tadi. Mas Azam tenang aja, aku nggak mungkin biarin anak kita kelaparan."


Ustadz Azam menggenggam erat tangan istrinya yang telah kehilangan banyak berat badan akibat hamil.


"Aku tidak hanya mengkhawatirkan anak kita tapi juga kamu, istriku. Kalau kamu sakit aku jadi ragu pergi. Aku nggak mungkin ninggalin kamu dengan kondisi seperti ini."


Hati Mega langsung menghangat mendengarnya.


"Mas Azam jangan khawatir. Sebentar lagi aku pasti baikan kok dan bisa semangat lagi. Selain itu Mama pasti menjaga aku dengan baik di rumah. Mama adalah orang yang berpengalaman, dia pasti punya cara untuk membantuku jika seperti ini terus. Jadi mas Azam jangan khawatir lagi, aku nggak mau menghambat pekerjaan mas Azam." Jangankan suaminya, diapun sebagai istri enggan membiarkan suaminya pergi.


Kalau bisa dia ingin tinggal setiap hari berduaan dengan suaminya tapi apalah daya, suaminya juga punya tanggung jawab di luar rumah jadi dia harus rela berbagi waktu.


"Oke, kamu harus kabarin aku setiap waktu agar aku tahu gimana kondisi kamu di rumah. Jika kamu masih belum baikan, maka aku akan berusaha menyelesaikan semua pekerjaan secepat mungkin dan pulang menemani kamu ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan. Sampai aku pulang, kamu tidak diizinkan untuk terlalu dekat dengan sepupu-sepupuku di rumah atau dengan laki-laki lain yang tidak dikenal. Mengerti?"


Mega tersenyum geli melihat sikap posesif suaminya yang masih mengakar kuat.


"Aku mengerti, mas."


Bersambung...


Assalamualaikum?

__ADS_1


Bentar lagi puasa, Masya Allah...semoga Allah subhanahu wa ta'ala menyampaikan umur kita di bulan Ramadan yang mulia dan agung. Aamiin Allahumma Aamiin ya Allah.


__ADS_2