Muhasabah (Cinta)

Muhasabah (Cinta)
21. Duka Para Suami


__ADS_3

Ai dan Mega akhirnya paham apa yang terjadi di sini. Ternyata suami mereka adalah bawahan dari Arka- laki-laki yang menjadi suami sahabat mereka, Asri.


Jadi, keberadaan mereka di sini adalah permintaan langsung dari Arka agar urusan kantor dapat berjalan dengan lancar dan mudah karena wakil maupun sekretaris pribadinya selalu mengikuti kemanapun ia pergi.


Di samping itu, Ustad Vano pernah mengatakan bila Ai dan Mega adalah sahabat Asri di pondok pesantren. Mereka bertiga sangat akrab sudah seperti saudara saja dan saling merindukan setelah berpisah. Jadi, Arka pikir membawa Ai dan Mega tinggal di sini dapat menenangkan hati istrinya sehingga ia tidak akan kesepian di rumah ini bila ia pergi melakukan perjalanan bisnis.


Maka dia sepenuhnya memiliki keuntungan meminta Ustad Vano dan Ustad Azam tinggal di rumah ini.


"Jadi kita bertiga akan tinggal di rumah ini!" Mega berseru senang setelah dijelaskan oleh Arka.


"Ya Allah, setelah ini kita bertiga tidak akan berpisah lagi!" Ujar Asri tidak kalah senangnya.


Ai juga sangat senang mendengar kabar ini,"Kita bisa tidur bersama-sama lagi seperti di asrama dulu!"


Mereka bisa berbaring di tempat yang sama, satu selimut, dan satu tempat tidur. Lalu mereka bisa menghabiskan malam-malam dengan berbicara ataupun saling mencurahkan isi hati masing-masing seperti dulu lagi. Bukankah ini terdengar sangat menyenangkan?


"Benar, Ai! Kita bisa bebas duduk-duduk di balkon kamar memandangi langit malam sambil main-main curhatan seperti dulu lagi!" Dukung Asri mulai membayangkan malam-malam menyenangkan yang akan mereka lalui bertiga.


Jika dulu di pondok pesantren mereka semua terikat aturan dan tidak bisa melakukan apa-apa kecuali terpaksa nekat, tapi di sini mereka bertiga sudah bebas. Mereka bukan lagi di dalam pondok pesantren dengan segala macam aturannya yang mengikat. Mereka bebas, mereka bisa bermain bersama, curhat-curhatan bersama dan yang paling penting adalah-

__ADS_1


"Ekhem, soal itu..." Ustad Vano berdehem ringan menarik mereka bertiga dari lamunan indah nan menyentuh.


"Kalian sudah tidak sendiri lagi seperti dulu. Masih ada suami-suami yang perlu kalian perhatikan dan utamakan mulai dari sekarang." Sambungnya mengingatkan dengan amat sangat murah hati.


Akan jadi mimpi buruk bila Ai menghabiskan malam bersama kedua sahabatnya, sedangkan ia sebagai suami yang tidak bisa jauh dari istri harus berlapang dada melihat Ai menghabiskan malam dengan-


Yah, tidak perlu dikatakan lagi dan sudah jelas Ustad Vano amat sangat menentang keras hal ini.


"Benar, kalian sudah memiliki kewajiban kepada masing-masing suami jadi tidak seharusnya kalian melalaikan tugas ini." Ustad Azam juga merasakan krisis yang sama.


Mana mau dia tidur tanpa istrinya. Mereka baru saja menikah dan sedang dimabuk cinta, jadi bagaimana mungkin malam-malam manis mereka harus terganggu karena reuni ini.


Ustad Vano, Ustad Azam, Arka- para suami yang terlupakan,"....."


"Ah iya, kita tidak bisa tidur bersama lagi seperti di asrama." Kata Mega menyesalkan.


Asri juga merasa situasi mereka bertiga benar-benar tidak mendukung.


"Tidak apa-apa, kita bermain dan berkumpul lagi di pagi hari. Oh..kita juga bisa melakukan sesuatu di taman seperti piknik bersama atau membuat sesuatu yang tidak bisa kita lakukan di pondok pesantren dulu!" Asri menghibur teman-temannya.

__ADS_1


"Asri benar, kita sekarang tinggal di atap yang sama dan tidak berjauhan lagi. Kita memiliki banyak kesempatan untuk bermain bersama." Ai tidak ambil pusing lagi masalah ini.


Mereka sekarang dekat, sangat dekat sehingga apapun yang terjadi di masa depan nanti akan mereka lewati bersama-sama.


Ah, begitu lega rasanya.


Sementara itu para suami mulai meneriakkan keadilan di dalam hati masingmasing. Mereka tidak tahu harus ikut berbahagia atau tidak melihat mereka akhirnya berkumpul bersama. Pasalnya, setelah reuni ini istri-istri mereka mulai mendaftar kegiatan apa yang akan mereka lakukan bersama dan tentunya tanpa melibatkan para suami.


"Alangkah baiknya bila seorang istri meluangkan waktunya hanya untuk berbakti kepada suami." Arka yang sedari tadi diam akhirnya berbicara.


Dia dan Asri sedang masa dalam pendekatan sehingga alangkah baiknya mereka menghabiskan banyak waktu bersama.


Sementara itu Ustad Vano dan Ustad Azam diam-diam melayangkan jempol kepada Arka.


"Aku tidak akan melupakan kewajiban ku, Mas Arka." Kata Asri menghibur suaminya.


"Aku adalah seorang istri sekarang, surga dan neraka ku terletak pada ridho Mas Azam. Jadi, bagaimana mungkin bisa aku melalaikan masa depan ku hanya karena urusan dunia?" Kata Mega ikut-ikutan menghibur Ustad Azam yang kini sedang dilanda krisis.


Malu, Ai meremat kedua tangannya malu tak berani menatap sang suami,"Aku akan berusaha memenuhi kewajiban ku sebagai seorang istri, Mas. Berbakti kepada Mas Vano adalah hal yang paling penting dan utama aku lakukan karena ridho mu adalah ridho Allah. Adapun mengenai semua pembicaraan kami tadi... itu hanya sebuah rencana saja. Kami akan bermain bersama dan berkumpul bersama untuk menebus rasa kebosanan kami bila suami masing-masing pergi bekerja nanti. Apakah Mas Vano mengizinkan ku?"

__ADS_1


__ADS_2