
Kepalanya perlahan terangkat menatap ekspresi dingin Arka yang masih belum menunjukkan perubahan apapun. Riani menatapnya dengan wajah basah menyedihkan, memberikan kesan seolah ia benar-benar perduli dengan kehidupan Arka.
"Ayo Paman..tidak ada kata terlambat untuk kembali kepada Kak Lisa. Kalian masih bisa kembali bersama jika Paman Arka segera menceraikan gadis desa ini-"
"DIAM!" Raungan kemarahan Arka membuat Riani terperanjat kaget.
Dia spontan menutup mulutnya tidak berani berbicara sambil mengamati pergerakan Arka selanjutnya. Arka masih duduk di kursi kebesarannya bersama Asri yang dipeluk dengan nyamannya.
"Mas Arka, cukup." Asri tahu ini sudah berlebihan.
Dia menarik dirinya dari dalam pelukan Arka tapi Arka segera mengetatkan tangannya di pinggang Asri. Tidak memberikan Asri jalan untuk melepaskan diri.
"Ouh, jadi selama ini kamu bekerja di bawah pengaruh Lisa, ya?" Ada nada cemoohan di dalam suaranya.
Seharusnya ia bisa menyadarinya dari cerita Asri tapi sayang sekali, dia benar-benar mengabaikan fokus itu karena berpikir bila Lisa bukanlah orang yang sangat penting.
Dia pikir Lisa tidak pantas untuk diingat ataupun dibicarakan lagi, bahkan sampai melibatkannya ke dalam lembaran hidup, Arka tidak pernah memikirkan sejak menumbuhkan rasa kepada Asri.
Kali ini Riani tidak mengatakan apa-apa. Ia tidak berani membuat suara takut mengundang kemarahan Arka.
Sebenarnya dia sangat ketakutan mendengar teriakan marah Arka barusan. Ia tidak tahu kenapa Arka sangat marah mendengar nama Lisa disebutkan, padahal semua orang di rumah mengatakan bila Arka sangat mencintai Lisa. Sejak berpisah dengan Lisa bertahun-tahun yang lalu, Arka tidak pernah memacari wanita manapun. Seperti memberikan isyarat jika Arka akan menunggu kepulangan Lisa dan hanya setia kepada Lisa seorang.
"Aku tidak menyangka, kamu benar-benar mengecewakan ku." Kata Arka langsung membuat Riani dilanda panik.
Ia ingin mengatakan sesuatu tapi tenggorokannya sangat kering tidak bisa mengatakan apa-apa.
"Enyah," Perintah Arka tanpa membawa tatapannya menatap Riani yang sudah seputih kertas seperti kekurangan darah.
"Paman, aku dan Kak Lisa-"
"Jangan pernah berani tunjukkan wajahmu lagi di depanku, setidaknya sampai aku melupakan masalah ini." Potong Arka lagi tanpa ampun.
__ADS_1
Tubuh Riani gemetar keras. Perlahan ia jatuh merosot ke lantai sambil menangis keras. Tubuhnya tiba-tiba kehilangan tenaga, ia tidak bisa melakukan apa-apa selain menangis untuk menumpahkan betapa menyesalnya ia saat ini.
Ia terlalu impulsif, ia mengambil rencana yang salah. Seharusnya ia berhati-hati sebelumnya agar tidak menimbulkan kemarahan Arka. Tapi ini semua karena Asri!
Ini semua karena gadis udik itu yang telah membuat masalah. Bila gadis udik nan miskin itu tidak mengadu maka semua ini tidak akan pernah terjadi!
Arka tidak akan semarah ini kepadanya.
"Mas Arka jangan katakan kata-kata kejam itu kepadanya! Kita tidak bisa memutuskan hubungan tali silaturahmi semarah apapun kita." Asri menasehati suaminya agar menarik kata-kata kejam itu.
Dia ini pikir ini terlalu kejam untuk Riani.
Arka tersenyum miring, ia mencubit pipi gembil milik Asri yang direspon dengan suara ringisan tertahan.
"Aku tidak memutuskan hubungan tali silaturahmi, istriku. Aku hanya mengatakan untuk sementara waktu tidak ingin bertemu dengannya lagi sampai aku benar-benar bisa melupakan masalah ini. Lagipula, dia pantas mendapatkan hukuman ini karena telah menyakitimu dan hampir membuatku kehilanganmu." Arka berkata dengan nada suara yang sangat lembut dan sedikit rasa godaan yang manis.
Asri spontan tersenyum manis tanpa bisa dikendalikan. Ia sangat malu bertindak terlalu intim dengan Arka di depan banyak orang, apalagi di saat yang tidak tepat karena ada Riani yang masih betah menangis meminta maaf kepada Arka.
"Mas Arka jangan macem-macem!" Asri langsung mundur ke belakang, kebetulan punggungnya bersentuhan dengan punggung Ai.
Tindakan ini tentu saja terlihat sangat buruk di mata Riani. Dia pikir Asri maupun Ai sedang menertawakan kemalangan nya. Hal ini membuat Riani semakin terbakar api kebencian. Ia menatap Ai dan Asri dalam kesakitan, diam-diam menandai mereka berdua di dalam kepalanya.
Dia ingin memberikan mereka berdua sebuah pelajaran yang pantas agar jangan lagi meremehkannya di masa depan!
"Apa yang sedang terjadi?" Suara lembut Rani menarik perhatian mereka semua.
Rani kembali menemui mereka setelah meluapkan keresahan hatinya di dalam kamar mandi.
Saat masuk ke dalam, berapa terkejutnya Rani ketika melihat wajah basah adiknya yang kini tengah menangis sesenggukan di atas lantai.
Ia bertanya-tanya apa yang sedang terjadi dan kenapa tidak afa yang mau menenangkan adiknya?
__ADS_1
"Kak Vano, apa yang sedang terjadi kepada adikku? Kenapa ia tiba-tiba menangis keras seperti ini?" Tanyanya khawatir.
Ustad Vano mengangkat bahunya tidak tahu- atau lebih tepatnya dia tidak ingin menjawab dan menyerahkan semuanya kepada Arka- si pelaku yang telah membuat Riani menangis.
"Aku tidak tahu, kamu bisa bertanya kepada Paman Arka yang lebih tahu jawabannya."
Rani langsung cemberut. Ustad Vano tidak mungkin tidak tahu apa yang sedang terjadi kepada Riani karena Ustad Vano selalu ada di sini dan pasti melihat apa yang terjadi. Ustad Vano ingin menghindarinya, ya, Rani mengetahui hal ini.
Dia tahu tapi tetap saja rasanya tidak nyaman. Ia masih merasa jengkel dan enggan melepaskan Ustad Vano.
Aah, cinta sejujurnya sangat merepotkan, huh!
Menghela nafas panjang, ia lalu beralih menatap Arka yang juga bertindak acuh tak acuh di depannya.
Sebenarnya apa yang sedang terjadi di sini?
Kenapa semua orang seolah menjaga jarak darinya dan Riani. Memangnya apa yang pernah mereka lakukan?
Dia hanya pergi sebentar saja ke kamar mandi tapi situasi di sini segera berubah drastis.
"Paman Arka, apa aku boleh tahu kenapa adikku tiba-tiba menangis?" Tanya Rani lembut dan sopan.
Arka mengangkat bahunya tidak pernah,"Tidak, kamu tidak boleh tahu." Jawab Arka dengan nada suara acuh tak acuhnya.
Rani yang diacuhkan,"...." Paman Arka terlalu gamblang!
Rani tiba-tiba menjadi malu karena ditolak oleh Ustad Vano dan Arka. Jika tidak ada yang mau memberitahunya maka dia tidak punya cara selain bertanya kepada Ai ataupun Asri.
Uh, daripada bertanya kepada Ai, dia lebih memilih bertanya kepada Asri saja.
"Masalah ini hanya bisa kamu tanyakan kepada adikmu sendiri." Perkataan Arka langsung menguapkan niat Rani.
__ADS_1
Rani terdiam. Ia mengalihkan pandangannya menatap adiknya yang masih betah sesenggukan di dalam pelukannya.
"Oh ya, aku lupa mengatakannya. Mulai dari hari ini aku peringatkan adikmu agar jangan sampai memperlihatkan batang hidungnya di depan mataku lagi sampai batas dimana aku akhirnya melupakan masalah ini."