Muhasabah (Cinta)

Muhasabah (Cinta)
Muhasabah (Cinta) - 148


__ADS_3

"Aku benar-benar menjaga emosi ku tapi hari ini rasanya sedikit melelahkan karena putriku diganggu..." Akui Ai tidak menutupi ketidaknyamanannya.


Ustad Vano menghela nafas panjang. Apa yang istrinya khawatirkan juga menjadi kekhawatirannya. Dan sebagai seorang suami dia mengakui bahwa kesalahan ini terjadi karena kelalaiannya sebagai pemimpin keluarga. Bila dia bertindak tegas dan tidak bersikap acuh tak acuh terhadap orang-orang yang mengganggu rumah tangganya, maka mungkin putrinya saat ini tidak akan terpojok.


"Maaf, ini salahku. Bila aku bertindak tegas sebelumnya maka masalah ini tidak akan terjadi." Bisik Ustad Vano menyesal.


Ai tersenyum manis, menggelengkan kepalanya tidak berdaya. Dia juga mengerti bila masalah ini datang untuk menguji kesabaran rumah tangga mereka. Ini adalah ujian dari Allah untuk mereka berdua. Tanpa seizin Allah, masalah ini tidak akan terjadi. Bukan untuk menyusahkan hamba-Nya tapi untuk menguji kesabaran hamba-Nya. Dan setiap hamba pasti akan melalui ujian ini dalam bentuk kemasan yang berbeda-beda sesuai dengan porsi kemapuan seorang hamba. Allah tidak membebani seorang hamba melainkan sesuai dengan kesanggupannya.

__ADS_1


Bahwa Allah tidak membebani seorang hamba melainkan sesuai dengan kesanggupan dan ini merupakan janji Allah, jadi sesungguhnya tidak mungkin Allah membebani seorang hamba dengan ujian yang tidak mampu ia toleransi.


Kemudian Allah akan memberikan pahala kebaikan jika seseorang yang sedang diuji tersebut bersabar dan melakukan kebaikan dan mencari jalan keluar dengan cara yang diridhai Allah, dan sebaliknya Allah akan memberikan dosa jika ia tidak bersabar dan mencari jalan keluar dengan cara yang tidak diridhai Allah.


Maka dari dalam menghadapi sebuah ujian, ada baiknya seorang hamba menghadapinya dengan ikhlas seraya berserah diri kepada Allah agar dimudahkan jalan untuk menyelesaikannya. Sebab janji Allah itu pasti untuk orang yang berserah diri kepada-Nya.


Ai benar. Sebagai seorang hamba sudah sepatutnya mereka menyerahkan semua masalah ini kepada Allah seraya berusaha menghadapinya dengan dewasa dan berkepala dingin. Karena terbakar amarah Ustad Vano melupakan pondasi penting ini di dalam hatinya.

__ADS_1


"Istriku..." Ustad Vano merasa hangat dihatinya.


Dia melepaskan kaku ramping istrinya dan beringsut merendahkan tubuhnya, memeluk hangat nan kuat istrinya untuk meluapkan betapa bersyukurnya hati ini memilikinya di sisi.


"Terima kasih telah mengingatkan ku kembali. Mengetahui kalian berdua diganggu tadi aku sangat marah hingga melupakan hal sepenting ini di dalam hatiku. Sungguh, betapa lalainya diriku. Aku harap Allah mengampuni kelalaian ku hari ini karena terbakar api kemarahan."


Ai membalas pelukan suaminya, mengelus ringan punggung tegap sang suami yang telah menjadi pelindung terkuat dan tempat bersandar yang paling nyaman di dunia ini selain bersimpuh kepada sang pencipta.

__ADS_1


"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang, Mas, untuk menyelesaikan masalah ini? Aku khawatir kejadian ini akan terulang kembali dan menimbulkan trauma untuk anak putri kita. Karena aku tahu betul apa yang Alsi rasakan dalam posisi ini sebab aku juga pernah berada di posisi ini dulu. Dijauhi teman, dicap sebagai monster dan tidak punya teman main, aku pernah merasakannya. Bahkan sampai dengan detik ini aku belum bisa melupakan pengalaman pahit waktu itu."


__ADS_2