Muhasabah (Cinta)

Muhasabah (Cinta)
Muhasabah (Cinta) - 182


__ADS_3

Fina menatap kosong pintu yang dibanting tepat di depan wajahnya. Tidak bisa dikatakan dibanting karena Arka hanya menutup keras pintu saja. Tapi karena dilakukan tepat di depan wajah, Fina merasa bila Arka sengaja melakukannya untuk memperlakukannya. Dia menatap kosong pintu kamar itu. Belum lagi nada ketidakpedulian Arka tadi, Fina merasa sangat malu dan tidak tahu harus berkata apa.


Ibu mengambil tangan Fina dan menyeretnya pergi menjauh dari kamar.


"Ibu ngapain sih tarik tarik tangan Fina?" Fina mengambil paksa tangannya dari Ibu.


Dia tidak berbohong. Pergelangan tangannya sakit ditarik oleh Ibu. Tenaga Ibu sangat besar walaupun tubuhnya kurus-kurus begitu. Maklum, dia sudah biasa bertani dan melakukan pekerjaan berat.


"Kalau Ibu nggak tarik tangan kamu, apakah kamu mau pergi atau tetap diam di tempat mengganggu istirahat Asri dan Arka?" Tanya Ibu emosi.


Namun berhubung dia sedang tidak berada di rumahnya sendiri dan menghormati keluarga Doni, Ibu tidak menggunakannya volume normal saat berbicara. Melainkan sedikit berbisik-bisik.


Fina marah. Apa yang Ibu bilang memang benar. Tapi setelah mendapatkan sikap menyebalkan dari Arka, dia jadi malu dan merasa telah kehilangan wajah. Entah obat apa yang Asri berikan kepada Arka sehingga membuatnya begitu menyukainya. Sikap Arka kepada Fina kian memburuk setiap pertemuan.


"Enggak, Bu. Ibu terlalu berlebihan. Aku enggak mungkin diam menunggu di depan pintu." Beberapa saat yang lalu dia memiliki pikiran ini tapi tidak lagi karena dia takut dengan ekspresi dingin Arka.

__ADS_1


Ibu mendengus dingin.


"Kamu tahu sekarang yang namanya berlebihan? Kemana saja kamu selama ini? Kenapa kamu tidak menyadari sikap tidak tahu malu mu kepada Arka? Lihat, hubungan kamu jatuh hingga ke titik ini gara-gara pikiran kotor kamu kepada Arka. Padahal Ibu dan Bapak sudah berkali-kali mengingatkan kamu agar jangan kelewatan batas, tapi kamu tidak mau mendengarkan kami. Dan lihat apa yang kamu dapatkan? Arka tidak akan pernah mengenali kamu sebagai keluarganya lagi. Di mata Arka, kamu adalah orang asing jadi jangan coba-coba memiliki pikiran yang aneh-aneh lagi di pernikahan kakakmu. Jika tidak, entah apa yang akan kamu dapatkan nanti. Yang pasti, kamu akan menyesalinya." Omel Ibu merasa putus asa dengan sifat putrinya yang sudah kelewatan batas.


Saat ini masih ada mereka berdua yang melobi dan mengendalikan Fina. Tapi bagaimana dengan masa depan nanti di saat mereka berdua sudah tak ada?


Apakah anaknya ini akan menggangu pernikahan Asri dan Arka lagi?


"Bu, jangan menyebutkannya lagi. Aku tidak mau berdebat dengan Ibu tentang masalah ini." Kata Fina malu bercampur muram.


Dia memiliki cita-cita yang tinggi. Bertemu dengan orang kota dan menikah di kota, menurutnya dia dan Arka cukup serasi-


"Kamu harus ingat ini baik-baik Fina. Jika Asri tidak memilih mengorbankan sekolahnya untuk menggantikan posisi kamu sebagai pengantin anak Bu Romlah, maka sekarang kamu sudah menikah dengan Rodi!" Ibu mengingatkan dengan keras.


Fina juga tahu ini tapi dia tidak rela. Jika dia yang ada di posisi Asri saat itu maka mungkin Arka akan menikah dengannya.

__ADS_1


"Ibu enggak bisa ngomong gitu. Kalau aku yang ada di posisi Asri, maka pasti aku yang akan menikah dengan mas Arka!" Tepat setelah dua mengatakan ini, Arka muncul dari belakang sambil membawa gelas kosong ditangannya.


Kemunculan Arka membuat Fina dan Ibu sangat terkejut.


"Arka." Ibu memanggil malu.


Bahkan Fina lebih malu lagi.


Arka tersenyum sopan kepada Ibu dan beralih menatap Fina dengan tatapan merendahkan.


"Apakah kamu layak?" Tanyanya dengan nada mengejek.


Fina menatap kosong Arka. Dia sangat terkejut dengan pertanyaan lugas Arka.


Tersenyum sinis,"Aku bersedia menikahi Asri karena dari awal sudah tertarik kepadanya. Tapi jika posisi itu digantikan kamu, maka aku lebih memilih menonton saja. Ngomong-ngomong awasi mulut mu mulai sekarang dan jangan pernah berpikir mengganggu istriku. Jika kamu sampai berulah lagi maka jangan salahkan aku membuat hidupmu lebih sulit dari apa yang kamu bayangkan." Setelah mengatakan itu, dia mengangguk sopan kepada Ibu dan berjalan melewati mereka berdua masuk ke dalam dapur untuk mengambil air.

__ADS_1


Setelah mengambil air, dia kembali ke kamarnya tanpa mengatakan sepatah katapun kepada mereka berdua.


__ADS_2