
Ustad Vano mendengar pertanyaan istrinya, dia awalnya terdiam, melepaskan alat makan di atas piring sebelum beralih menatap istrinya.
Kata menolak langsung tersendat di dalam tenggorokannya. Ia ingin menolak namun semua penolakan itu tidak bisa ia ucapkan saat melihat tatapan berharap di mata istrinya. Menghela nafas panjang, Ustad Vano lalu meraih tangan istrinya sambil mengatakan,
"Kamu boleh pergi."
Mega sontak tersedak makanannya sendiri. Sang suami yang selalu siaga di samping segera memberikannya air minum dan menepuk ringan punggung agar sang istri tidak batuk lagi.
"Sungguh?" Sinar terang di mata Ai perlahan meredup.
Ia pikir Ustad Vano akan menolak memberikannya izin atau kalau tidak, Ustad Vano bisa bersikeras ikut dengannya ke luar kota. Tapi sayangnya Ustad Vano tidak memberikan reaksi yang Ai butuhkan. Suaminya membolehkan tanpa perlu berdebat atau memberikan alasan-alasan masuk akal yang bisa menghentikan Ai pergi.
Enggan,"Aku bersungguh-sungguh, istriku. Aku percaya Bunda dan Ayah bisa menjaga kamu di sana."
Ai tersenyum tipis, ia menundukkan kepalanya, menyembunyikan ekspresi kecewa di wajahnya dari bidang penglihatan sang suami.
"Terima kasih, Mas."
Semuanya berjalan semudah itu, ini mengejutkan untuk Asri dan Mega. Mereka pikir Ustad Vano akan memberikan penolakan yang tegas, tapi nyatanya itu tidak seperti yang mereka pikirkan. Ustad Vano mengizinkan dengan mudah kepergian Ai, sangat bertolak belakang dengan sikap Ustad Vano yang selalu posesif terhadap Ai, biasanya.
__ADS_1
Beberapa orang di atas meja makan berada dalam suasana hati yang suram namun beberapa lainnya tidak. Rani dan Riani, pasangan Kakak beradik ini tidak bisa menyembunyikan senyuman kemenangan di wajah mereka. Kepergian Ai berarti sebuah kemenangan untuk Rani, sebab ia bisa mendekati Ustad Vano dengan mudah dan mungkin saja akan terjadi hal-hal manis di antara mereka berdua selama waktu itu.
Hem, siapa yang tahu?
"Kak Vano hari ini temenin Rani, yah, ke toko buku. Rani mau beli buku novel karena Riani bilang banyak novel-novel bagus keluaran terbaru tahun ini." Rani memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan.
Ustad Vano membentuk garis senyuman yang bukan lagi disebut sebagai senyuman.
"Aku minta maaf, Rani, tapi hari ini aku benar-benar sibuk. Jika kamu mau, minta saja Paman Arka menemanimu pergi." Ustad Vano melemparkan masalah dengan mudah.
"Eh, jangan ajak Paman, dong. Paman sangat sibuk jadi gak bisa kemana-mana." Arka segera menolak, melemparkan Ustad Vano sebuah tatapan tajam.
Rani cemberut,"Paman Arka tidak bisa pergi. Kenapa tidak Kak Vano saja yang menemani ku pergi? Kakak bisa mengambil cuti sehari untuk menemani ku dan tidak akan ada orang yang merasa keberatan akan hal itu." Rani memang benar, Ustad Vano adalah wakil presiden di perusahaan dan sekaligus keponakan Arka, maka tentu saja tidak akan ada yang keberatan bila Ustad Vano mengambil cuti sehari saja. Sebab, di samping memiliki jabatan yang tinggi mereka juga tidak akan berani melayangkan protes untuk melindungi karir mereka.
"Siapa bilang tidak ada yang keberatan?" Suara dingin Mega menunjukkan nada keberatan.
"Pasti ada yang keberatan tapi mereka tidak akan berani mengatakannya." Jawab Rani dengan bibir manyun.
Mega tersenyum manis, namun Rani merasa senyumannya tidak bisa masuk ke dalam matanya.
__ADS_1
"Saat ini aku sedang menunjukkan keberatan ku."
Rani tidak mengerti,"Apa maksudmu?"
"Tidakkah kamu tahu ini? Suamiku adalah sekretaris pribadi Paman Arka. Bila Ustad Vano pergi mengambil cuti hanya untuk sesuatu yang tidak bermanfaat, maka orang yang akan menanggung semua tugas-tugasnya nanti adalah suamiku. Jadi, sebagai seorang istri yang pengertian terhadap suaminya, aku tidak akan mungkin membiarkannya kesusahan sementara kalian bersenang-senang. Bukankah begitu, Paman?"
Rani tercengang. Mulutnya beberapa kali bergerak ingin mengatakan sesuatu namun rasanya kata-kata Mega agak sulit dibantah.
"Apa yang Mega katakan benar, Vano tidak bisa mendapatkan izin cuti hanya untuk melakukan kegiatan yang sia-sia." Paman Arka menjawab santai tanpa melihat bagaimana ekspresi Rani saat ini.
"Tapi...tapi aku ingin keluar dengan Kak Vano, Paman. Aku ingin bermain dengannya-"
"Aku sudah selesai." Potong Ai sudah tidak tahan lagi mendengar rengekan manja Rani.
"Kamu mau kembali ke kamar?" Ustad Vano juga berdiri dari duduknya menyusul langkah sang istri.
"Aku harus berkemas." Jawab Ai dengan nada marah, samar.
"Kamu pergi pagi ini?" Ustad Vano terkejut.
__ADS_1
Ai menganggukkan kepalanya merasa bersalah,"Iya, Mas. Bunda bilang kami akan terbang pukul 10 nanti jadi aku harus buru-buru ke rumah sebelum mereka berangkat."