Muhasabah (Cinta)

Muhasabah (Cinta)
Muhasabah (Cinta) - 84


__ADS_3

"Jangan gugup." Bisik Arka pada istrinya.


Asri tidak punya pilihan selain menganggukkan kepalanya, membalas genggaman tangan suaminya dengan erat pula sebelum bibirnya disentuh oleh Arka.


Lembut dan lembab, Asri merasakan sensasi yang sangat aneh ketika bibirnya dimakan oleh sang suami. Memang ini aneh dan baru pertama kali terjadi, akan tetapi meskipun begitu Asri seolah merasakan candu darinya. Ia ingin lebih, menginginkan sentuhan lebih lainnya sampai kepalanya tiba-tiba mengingat hal penting yang seharusnya tidak dilupakan.


"Akh...kenapa kamu menggigit bibir ku?" Tanya Arka kesakitan seraya memegang bibirnya yang digigit oleh Asri.


Jika ini adalah gigitan sayang, mungkin rasanya tidak akan sangat sesakit ini tapi masalahnya Asri menggigit bibirnya dengan sangat keras seolah-olah sedang menggigit daging!


"Aku..aku minta maaf, Mas. Aku tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya bingung bagaimana caranya berbicara dengan Mas, karena Mas Arka terus saja memakan bibirku!" Dia berulangkali mencoba untuk berbicara tapi suaminya tidak pernah mau mendengarkannya. Malah semakin ia ingin berbicara maka semakin buas pula Arka kepadanya.


"Aku pikir kamu ingin mendesah-"


"Mas Arka, ih!" Potong Asri malu.


Kenapa suaminya sangat vulgar, ah!


"Iya iya, kamu mau ngomong apa? Apa gak bisa nanti aja setelah kita selesai?" Arka sudah tidak tahan sebenarnya.

__ADS_1


Asri sangat malu,"Itu...itu..apa Mas Arka pernah membaca doa berhubungan badan sebelumnya?" Ini adalah doa yang wajib setiap muslim ucapkan agar saat mereka melakukan 'ibadah' setan tidak akan ikut campur di dalamnya.


Arka,"...." Dia tidak tahu ada doa ini.


"Apa harus?" Arka merasakan krisis karena kebutuhannya tertunda.


Asri menganggukkan kepalanya malu-malu.


"Harus, Mas. Bila membaca doa ini inshaa Allah kegiatan kita akan diridhoi oleh Allah dan setan pun tidak bisa ikut campur di dalamnya."


Arka,"....." Istrinya sangat bijak, ah!


Arka tidak tahu jika sosok kuatnya saat ini tanpa pakaian membuat Asri hampir mimisan di tempat. Apalagi ketika matanya tidak sengaja melihat 'junior' Arka, muncul pertanyaan di hatinya apakah Arka sebelumnya tidak pernah disunat?


Karena... karena bagaimana mungkin 'junior' Arka begitu besar?


"Pasti rasanya sakit- astagfirullah, apa yang kamu pikirkan, Asri! Pikiran kotor apa yang kamu pikirkan, ah, sadarlah!" Dia menutup matanya tidak mau melihat lagi.


Padahal...uh, dia tidak bisa mengatakannya-

__ADS_1


Ini belum satu menit berlalu tapi Arka sudah kembali lagi naik ke atas kasur. Buru-buru ia mendekati istrinya, mengungkungnya sekali lagi dengan gaya yang sama.


"Ayo kita ucapkan sama-sama." Ajak Arka dengan senyum sumringah di wajah tampannya.


Hari ini Arka tidak hanya tampan namun juga terlihat sangat seksi.


Asri benar-benar dibuat tidak bisa berpaling darinya.


"I-iya, Mas." Asri mulai gugup kembali.


Diam saling menatap, tidak ada suara yang keluar dari mulut masing-masing seolah saling menunggu siapa yang lebih dulu berbicara. Arka tertawa kecil, ia mengusap puncak kepala Asri sebelum mulai membaca doa sakral itu.


"Allahumma janibnasyaithana wa jannibi syathaanamaa razaqtana."


(Dengan menyebut nama Allah, Ya Allah, jauhkanlah aku dari syaitan dan jauhkanlah syaitan dari anak yang hendak Engkau kurniakan kepada kami.) (HR. Bukhari-Muslim)


"Aamiin Allahumma Aamiin ya Allah." Bisik mereka secara bersamaan.


Setelah itu, mereka melalui sentuhan yang sebelumnya tidak pernah mereka lakukan atau rasakan. Mereka berbagi kasih, kehangatan, dan kerinduan sembari berharap salah satu benih kecil yang berhasil masuk ke dalam rahim dapat diamanahkan menjadi mahluk hidup nan mungil yang mereka nanti-nantikan.

__ADS_1


Mahluk kecil nan mungil yang nantinya akan menjadi jembatan terkuat hubungan mereka berdua, hubungan yang terjadi tanpa didasari cinta namun membuahkan cinta dan ridho Sang Maha Romantis, mashaa Allah.


__ADS_2