Muhasabah (Cinta)

Muhasabah (Cinta)
34. Berbeda


__ADS_3

Pukul 3 pagi, panggilan dari Sang Maha Kuasa datang. Ia dan suaminya lalu turun ke bawah untuk melaksanakan sholat sunah tahajud berjamaah bersama yang lain. Mereka berenam beberapa hari yang lalu telah membuat kesepakatan bila sholat malam dan sholat-sholat wajib harus dilaksanakan secara berjamaah, kecuali sholat subuh. Khusus untuk sholat subuh Ustad Vano, Ustad Azam, dan Arka akan sholat di masjid sebagaimana yang dianjurkan oleh Rasulullah Saw.


Sedangkan Ai, Mega, dan Asri akan melaksanakan sholat subuh di rumah secara bersama-sama.


Tidak ada kegiatan yang lebih menyenangkan setelah menyelesaikan sholat malam daripada membaca Al-Qur'an. Mereka berenam membaca Al-Qur'an secara bersama-sama sembari menunggu masuknya waktu sholat subuh.


Mereka larut dalam kedamaian. Adapun pasangan Asri dan Arka yang cukup berbeda dari yang lainnya. Arka adalah orang yang tidak terlalu serius dalam mendalami Islam. Bagi Arka sholat dan berzakat sudah cukup, sisanya ia bisa melaluinya dengan melakukan hal-hal yang menyenangkan atau menyibukkan diri di perusahaan.


Namun, sejak menikah dengan Asri dan tinggal bersama pasangan yang lainnya, Arka tiba-tiba menjadi malu. Bukan malu karena gengsi, tapi malu karena ilmunya begitu rendah dan dangkal. Seringkali ia merasa cemburu kepada Ustad Vano dan Ustad Azam karena mereka begitu cekatan mengajari istri masing-masing dalam persoalan agama maupun masalah rumah tangga.


Berbeda dengan dirinya sendiri. Bukan ia yang mengajari Asri dan bukan ia pula yang memimpin Asri, melainkan istrinya itulah yang membantunya bagaimana cara sholat yang benar dan belajar mengaji. Dan hebatnya lagi, istrinya tidak pernah mengeluh betapa payah ia dalam urusan agama. Bukannya mengeluh, istrinya malah membantunya melakukan perubahan menjadi sosok laki-laki yang baik.


Arka juga tidak tinggal diam. Dia sudah bertekad untuk menjadikan pernikahan ini sebagai rumah ternyaman dan sebagai persinggahan terakhir di dalam hatinya. Dia mengambil inisiatif mendatangi Ustad Vano dan Ustad Azam, meminta pengajaran mereka dan mengikuti perintah yang mereka berikan.


Dari mereka, perpustakaan pribadi Arka perlahan dipenuhi oleh buku-buku Islam yang Inshaa Allah semakin menambah kadar keimanan. Setelah bekerja dia selalu menyempatkan waktu untuk membaca beberapa lembar dari buku-buku Islam tersebut sehingga tanpa sadar ia membaca buku hingga larut malam, membuat Asri menunggu kedatangannya di kamar mereka.


Dan hal yang paling membuat Arka semakin takjub adalah kesetiaan Asri menunggunya masuk ke dalam kamar. Dia duduk di sofa, memeluk salah satu bantal sembari berusaha menahan kedua matanya agar tidak terpejam. Padahal matanya sudah memerah karena mengantuk tapi dia masih tetap keras kepala menunggunya.


Hati Arka tersentuh, tanpa ikatan cinta pun Asri masih mau membimbingnya untuk mempelajari Islam, memperlakukannya sebagai suami yang baik, dan selalu sabar menunggu kepulangannya.


Lantas, bagaimana bila suatu hari nanti Asri mencintainya?


Arka membayangkan akan sangat melegakannya hari-hari yang akan ia jalani nanti.


"Mas Arka," Panggil Asri lembut menarik Arka dari pikirannya.


"Ya?" Dia langsung menjawab.


"Ini sajadah milik, Mas. Di masjid nanti sempatkan diri menabung untuk akhirat nanti dan jangan berbicara atau melamun saat melakukan zikir. Apa Mas mengerti?" Ujar Asri seraya memberikan sajadah kepada Arka.


Ia juga dengan telaten mengangkat kedua tangannya untuk memperbaiki letak peci suaminya, menyisir rambut di belakang dengan jari-jarinya agar penampilan sang suami menjadi lebih rapi.

__ADS_1


"Aku pasti- inshaa Allah mengerti." Dia berusaha melibatkan Allah dalam setiap ucapan maupun tindakannya.


Asri mengangguk,"Ya sudah, sekarang Mas bisa pergi."


Asri mengambil tangan Arka ingin menciumnya namun segera dihentikan oleh Arka.


"Kamu kenapa?" Tanya Arka akhirnya memutuskan untuk bertanya.


Ia pikir Asri akan mengambil inisiatif untuk membicarakan masalahnya tapi sampai dengan saat ini ia masih menutup mulutnya rapat.


Asri tidak mengerti,"Aku kenapa, Mas? Apa ada sesuatu yang aneh di wajahku?" Dia buru-buru menyentuh wajahnya tapi segera dihentikan oleh Arka.


"Kamu terlihat murung sejak pulang dari rumah Ayah, katakan...apa ada sesuatu yang mengganggumu di sana?"


Mood istrinya benar-benar buruk sejak pulang dari kunjungan mereka kemarin. Awalnya ia pikir itu karena Asri terlalu kelelahan atau mengantuk karena beraktivitas penuh dari pagi hingga sore. Akan tetapi saat dia perhatikan sejak bangun tadi, wajah istrinya terlihat murung dan sendu.


Membuat Arka menumbuk pikiran liar bila istrinya mendapatkan masalah kemarin saat berkunjung ke mansion keluarga besar.


"Mas salah paham. Wajah ku akan menjadi seperti ini bila datang bulan ku akan segera datang. Dan aku pikir beberapa wanita akan mengalami hal yang sama dengan diriku." Dia berbohong, dia membuat sebuah kebohongan kepada suaminya.


"Datang bulan?" Arka memang pernah mendengar bila wanita cenderung menjadi sangat sensitif bila datang bulannya datang.


"Iya, Mas. Ini akan terjadi setiap kali aku akan datang bulan." Asri mengelabuinya dengan mudah.


Arka bernapas lega. Untungnya ini bukan masalah apa-apa. Dia bersyukur istrinya tidak mendapatkan masalah apa-apa kemarin.


"Ayo Mas, Ustad Vano dan Ustad Azam sudah menunggu di luar. Jika Mas datang sedikit lambat, takutnya Mas akan kehilangan saf depan.." Desak Asri memintanya untuk segera pergi.


Arka tubuh membuang waktu. Ia segera pergi bersama Ustad Vano dan Ustad Azam ke masjid, meninggal ia yang masih berdiri di tempat memandangi punggung lurus suaminya.


"Aku cemas, Mas, dan aku takut kata-kata 'talak' itu terlontar dari mulutmu. Karena aku sungguh sangat tidak siap mengakhiri pernikahan ini, aku tidak siap berpisah dengan mu sekalipun pernikahan ini terjadi tanpa ada rasa untuk satu sama lain di hati kita. Aku belum siap, Mas." Bisiknya gelisah.

__ADS_1


Dia sebenarnya masih bangun semalam saat Arka mengatakan bahwa ada sesuatu yang ingin dibicarakan. Tanpa dikatakan pun Asri tahu topik apa yang ingin dibicarakan oleh suaminya itu. Tapi Asri masih belum siap, ia tidak bisa membayangkan pernikahan ini kandas begitu saja hanya karena kedatangan tokoh dari masa lalu.


Asri ingin berjuang tapi bagaimana jika Arka tidak mau mempertahankan pernikahan ini?


Dia tidak bisa melakukan apa-apa.


...🍁🍁🍁...


Beberapa menit sebelum pergi ke masjid Ustad Vano masih menempeli Ai kemana-mana. Ia berbicara santai sambil sesekali membantu Ai melakukan sesuatu seperti memindahkan barang ini atau barang itu.


Intinya, dia tidak mau membiarkan Ai kesusahan.


"Mas, azan Subuh sebentar lagi berkumandang jadi berhenti mengikuti ku kemana-mana dan segera pergi ke masjid." Ai akhirnya tidak tahan lagi dengan kelakuan suaminya.


Ia mengambil sajadah dan menaruhnya di pundak Ustad Vano.


"Kamu akhirnya mau berbicara." Ustad Vano tiba-tiba merasa kewalahan menghadapi sikap istrinya ini sejak bangun tadi.


Istrinya memang irit bicara tapi dia tidak benar-benar irit bicara sampai harus tidak berbicara sama sekali.


Ai merasa bersalah,"Aku selalu berbicara-"


"Tidak, pagi ini kamu berbeda. Kenapa? Apakah kemarin terjadi sesuatu yang membuatmu tidak nyaman atau kamu memiliki keluhan yang ingin diluapkan?" Ustad Vano langsung memotong ucapan istrinya.


Dia tahu pasti ada sesuatu yang terjadi di belakangnya tapi apa?


Ustad Vano tidak bisa membuat tebakan buta.


Seperti yang Ai takutkan, suaminya adalah orang yang peka. Dan dia tahu cepat atau lambat masalah ini akan diketahui- tidak akan pernah terjadi selama Ai menutup rapat mulutnya.


"Tidak ada yang terjadi, Mas, dan aku baik-baik saja. Mas tahu...aku hanya merindukan Bunda dan Ayah saja, aku ingin bertemu dengan mereka."

__ADS_1


Ustad Vano meraih tangan istrinya agak tidak percaya,"Jika kamu memang merindukannya, maka baiklah, aku akan berusaha meluangkan waktuku untuk menemani ke rumah Bunda dan Ayah. Namun, kamu harus tahu istriku bila dihati dan pikiran mu ada masalah yang mengganjal maka jangan ragu untuk menceritakannya kepadaku. Ingat, kita adalah suami-istri sekarang, kita berdua saling membutuhkan untuk satu sama lain, maka sudah sewajarnya kita menyelesaikan setiap masalah bersama-sama agar di masa depan nanti tidak ada kesalahpahaman yang terjadi. Apakah kamu mengerti?"


Ai tersenyum kecil,"Aku mengerti, Mas."


__ADS_2