Muhasabah (Cinta)

Muhasabah (Cinta)
Muhasabah (Cinta) - 163


__ADS_3

Setelah ustadz Azam berangkat untuk melakukan perjalanan bisnis ke luar kota, tak berselang lama kemudian, Mama Azam datang ke rumah untuk menjemput Mega. Mega berpamitan kepada Ai dan Asri sebelum pergi ke rumah mertuanya. Setelah Mega pergi, giliran pasangan Asri dan Arka yang mengucapkan pamit kepada Ai juga ustadz Vano. Mereka berjanji akan membawakan oleh-oleh khas daerah yang mereka datangi ketika pulang nanti.


Kini tinggallah Ai, Alsi dan ustadz Vano di rumah. Hari ini ustadz Vano mengambil cuti 3 hari untuk menemani istri dan anaknya di rumah. Meninggalkan istri dan anaknya di rumah berdua, ustadz Vano tidak tenang dan selalu khawatir. Jadi daripada terus kepikiran dia memutuskan untuk mengambil cuti dan tinggal di rumah selama 3 hari. Padahal Mama dan Papa bersedia menemani Ai serta Alsi di rumah tapi ustadz Vano menolak. Karena dia merasa mampu melakukannya sendiri.


"Sayang, Alsi di mana?" Ustadz Vano datang ke halaman belakang dengan nampan buah-buahan dan makanan ringan.


Dia meletakkan nampan itu di atas meja sebelum duduk di samping istrinya. Melingkarkan tangan kuatnya di pinggang sang istri yang sudah mulai berisi, dan menariknya lebih dekat dengannya. Wangi istrinya sangat manis dan memabukkan. Ustadz Vano tidak bisa menahan diri setiap kali dekat dengan istrinya, jika tidak ada Alsi di rumah ini, maka istrinya sudah pasti dilahap.


"Alsi lagi ngambil air mas. Baru-baru ini Alsi suka banget menghabiskan waktu di halaman ini. Aku pikir dia kenapa-napa. Tapi untungnya dia baik-baik saja. Dan aku senang melihatnya mencintai tanaman. Mas Vano lihat aja, anak kita suka membeli beberapa benih bunga untuk ditanam di halaman ini. Dan apa mas tahu? Bunga yang paling disukai oleh anak kita adalah bunga mawar hitam. Bunga ini sangat sulit dicari karena langka. Namun bibi Annisa pernah menanam bunga ini di rumah Kakek dan masih hidup sampai dengan sekarang. Jadi kemarin aku mau menghubungi Bunda agar dia mengirimkan Alsi beberapa bibit bunga mawar hitam untuk ditanam. Alhamdulillah, bibitnya sudah dikirim dan sekarang putri kita sedang menanamnya." Setiap kali membicarakan Alsi, bibir ranum Ai tak pernah berhenti tersenyum. Alsi memang bukan anak kandung, tapi keberadaannya sangat penting di dalam hati.


Mungkin karena ajaran Bunda juga dia tidak pernah membeda-bedakan antara Alsi dengan anak di dalam kandungannya. Baginya semua saja. Alsi adalah anaknya dan bayi yang ada di dalam kandungannya juga adalah anaknya.


"Wah, putri kita hebat. Dia masih kecil tapi pikirannya sudah dewasa. Kenapa kita tidak datang membantunya?" Ustadz Vano berbicara sambil mengelus perut istrinya.


Ai merasa geli dengan tangan suaminya. Dan buru-buru menahan tangan besar suaminya agar tidak bergerak lagi.


"Aku mau mas tapi dia menolak. Alsi bilang dia ingin melakukannya sendiri." Kata Ai cemberut.

__ADS_1


Ternyata begini rasanya jadi orang tua. Melihat anak tidak membutuhkan orang tuanya, merupakan sesuatu yang sangat tidak nyaman bagi orang tua tersebut. Apalagi anak ini masih kecil tapi sudah pandai membuat keputusan. Ketidaknyamanannya berkali-kali lipat.


"Jangan cemberut, dia tidak mau melibatkan kamu karena dia tahu kamu tidak boleh melakukan hal-hal yang berat. Kamu sedang mengandung adiknya dan sebagai seorang kakak di tidak ingin mempersulit kamu serta calon adiknya. Jadi hormati pilihannya dan bersyukurlah karena putri kita tidak rewel seperti anak-anak yang lain." Ustadz Vano menghormati pilihan Alsi.


Kemungkinan besar karena derita hidup yang pernah dialami memupuk Alsi menjadi anak yang dewasa sebelum usianya. Ini memang terdengar menyakitkan, tapi juga ada hikmahnya.


"Apa yang mas Vano bilang malang benar. Aku seharusnya tidak terlalu banyak berpikir karena ini adalah pilihan putri kita sendiri. Aku hanya berharap agar putri kita melupakan masa lalu dan memiliki hidup yang lebih baik di masa depan. Tidak perduli apapun yang terjadi di masa depan, aku akan tetap berada di samping putriku. Paling buruk kita akan menghabiskan waktu tua kita untuk menjaga Alsi." Bisik Ai sendu.


Masa depan dia sudah memikirkannya dengan baik bersama suaminya. Jika Alsi tidak dipertemukan dengan jodohnya di dunia ini, maka mereka berdua sanggup membesarkan nya enggak akhir hayat. Toh, hari-hari tua yang akan mereka lalui tidak terlalu sepi karena ada Alsi di hari-hari terakhir mereka.


"Tentu sayang. Kita akan menjaganya seumur hidup kita."


"Sasa kamu di mana, dek?" Saat ini ustadz Azam sudah tiba di luar kota dia sedang menghubungi adiknya yang berjanji akan datang menemuinya.


Setelah putus dari pertunangannya Sasa memutuskan untuk melanjutkan kuliah di luar kota sembari memulai hidup baru. Dan kota yang ustadz Azam datangi sekarang adalah kota tempat adiknya kuliah.


Adiknya tinggal di asrama kampus jadi dia tidak bisa langsung menemuinya.

__ADS_1


"Bentar lagi aku sampai, kak. 5 menit lagi." Kata seorang gadis dari seberang sana.


Ustadz Azam meletakkan ponsel di dalam saku dan melirik jam tangan di pergelangan tangan kirinya. Sebentar lagi akan adzan ashar. Dia harus segera ke masjid agar tidak ketinggalan shalat berjamaah. Untungnya hotel yang dia datangi bersebelahan langsung dengan masjid di kota ini. Jadi dia tidak perlu susah-susah mencari masjid ketika adzan tiba.


Untuk perjalanan bisnis ini ustadz Azam tidak sendiri. Dia membawa 5 orang dengan masing-masing tugas. Tiga laki-laki dan 2 perempuan. Mereka adalah orang-orang yang paling memenuhi kualifikasi dalam proyek ini. Tidak hanya berprestasi di perusahaan, tapi akhlak mereka juga terjamin itulah alasan mengapa dia membawa kelima orang ini.


"Pak Azam, kami akan segera naik ke atas. Apakah Pak Azam punya instruksi kepada kami?" Seorang laki-laki dewasa datang menghampiri ustadz Azam.


Laki-laki itu bernama Dayat. Dia adalah asisten yang langsung dipilih oleh ustadz Azam dan akan menjadi asistennya selama menjalankan proyek ini.


"Tidak perlu. Kalian semua beristirahat saja. Jika ingin makan, makan saja dulu. Jangan menungguku. Karena aku akan pergi bersama adikku. Dan Dayat, untuk jadwal besok. Tolong kirimkan malam ini agar aku bisa menyiapkannya." Instruksi ustadz Azam kepada asisten pribadinya.


"Baik Pak, saya akan segera mengurusnya. Tolong hati-hati saat keluar nanti, Pak. Jaga keselamatan Anda."


Ustadz Azam mengangguk ringan.


"Ya, kamu bisa kembali."

__ADS_1


Setelah itu Dayat langsung masuk ke dalam hotel lagi bergabung dengan rekan-rekan yang lain. Sesuai dari instruksi atasannya, dan meminta rekan-rekannya untuk beristirahat dan pergi makan jika ingin makan karena hari ini mereka tidak punya kegiatan apapun. Dalam artian mereka bisa bersantai sebelum benar-benar sibuk besok.


"Kak Azam!" Suara manis Sasa menarik perhatian ustadz Azam dari pikirannya.


__ADS_2