Muhasabah (Cinta)

Muhasabah (Cinta)
Muhasabah (Cinta) - 78


__ADS_3

"Aku ingin mengakhiri semuanya sampai di sini! Aku tidak bisa mempertahankan pernikahan ini!"


Semua orang,"...." Jadi gadis ini adalah istri Pak Arka! Bila dia adalah istri Pak Arka maka siapa Lisa untuk Pak Arka? 


Arka gelagapan, ia mengulurkan tangannya ingin menjangkau tapi Asri tidak mau disentuh. Ia mundur beberapa langkah ke belakang.


"Sayang, dengarkan aku. Masalah ini bisa kita selesaikan di rumah." Bujuk Arka seraya berusaha menjangkau Asri tapi orang yang ingin dia jangkau terus saja membawa langkahnya ke belakang.


Dia tidak ingin disentuh ataupun dipegang oleh Arka..


Hatinya sudah terlalu kecewa.


"Aku tidak mau, Mas! Aku tidak mau mempertahankan pernikahan ini! Aku tidak mau terus terjebak dengan laki-laki yang tidak bisa menepati janjinya, berselingkuh di belakang ku dan bahkan..." Asri kesulitan untuk mengucapkan kata-katanya.


Dia sungguh sangat kesakitan saat ini.


Arka merasa bila Asri telah mengetahui sesuatu, maka buru-buru ia menjelaskannya kepada Asri sebelum terjadi kesalahpahaman yang lebih jauh lagi.


"Kamu salah paham, sayang. Kamu salah paham-"


"Bila Mas Arka memang tidak ingin memiliki anak dariku maka katakan saja semuanya dari awal! Katakan saja jika Mas Arka tidak mau mempertahankan pernikahan ini! Jadi Mas Arka tidak perlu bersusah payah menipuku, memberikan ku misi untuk membeli barang terlarang ini! Aku ingin kita bercerai, Mas!" Potong Asri, dia berteriak sekuat tenaga. Meminta berpisah secara langsung daripada harus menunggu Arka menceraikannya, itu pasti lebih menyakitkan.


Kepala Arka tiba-tiba berdengung, ia menatap Asri dengan tatapan tidak percaya sekaligus rasa marah yang memuncak ingin dilepaskan.


"Apa yang baru saja kamu katakan!" Teriak Arka tidak terima. Ia tidak bisa menerima begitu saja permintaan tidak berdasar istrinya.

__ADS_1


Semua orang yang mengenal baik Arka seketika tercengang melihat kemarahannya. Pasalnya Arka adalah orang yang cuek tapi sangat sulit marah. Namun sekalinya marah, dia akan sangat-sangat menakutkan.


Siapa yang berbohong?


Siapa yang berselingkuh?


Siapa yang mengatakan bila dia tidak menginginkan benihnya tumbuh di dalam rahim Asri?


Jika memang benar begitu lalu kenapa ia masih menikah dengannya?


Bukankah ini semua tidak masuk akal?


"Aku mengatakan..." Asri sangat ketakutan dengan tatapan tajam penuh marah Arka, tiba-tiba nyalinya langsung menciut dan keberaniannya yang berkobar tadi menguap entah kemana.


Asri memiliki harapan ingin segera pergi dari tempat ini, ia ingin segera pulang ke rumah.


Kedua mata cantiknya tidak pernah berpaling dari sosok pengecut Asri.


Berhubung Lisa datang mendekati suaminya, kemarahan Asri entah dari datangnya kembali berkobar. Ia mengeratkan genggaman tangannya seraya berkata,"Intinya aku ingin bercerai! Aku tidak mau mempertahankan pernikahan ini lagi." Lalu ia kabur melarikan diri secepat yang ia bisa.


Menghentikan sembarang taksi yang lewat dan pergi dengan mudah.


Sementara itu semua orang yang telah menyaksikan drama dengan khidmat tidak bisa tidak melongo menatap kepergian Asri.


Mereka pikir akan ada drama yang sangat mendebarkan setelah ini tapi siapa yang akan berharap bila drama selesai begitu saja.

__ADS_1


"Arka tenangkan dirimu-"


"Minggir!" Bentak Arka emosi seraya melepaskan kancing kerah bajunya.


Dia buru-buru membawa langkah panjangnya keluar dari perusahaan, akan tetapi itu hanya beberapa langkah sebelum ia berbalik melihat alat kontrasepsi yang berserakan dimana-mana dengan ekspresi muram juga geli.


Bahkan saat marah pun ia masih bisa dibuat tersenyum oleh kepolosan istrinya.


"Azam, kumpulkan semua barang-barang ini dan bawa pulang ke rumah." Perintah Arka tanpa lihat-lihat situasi, membuat Ustad Azam mati kutu ditempat.


"Siap, Pak." Sayangnya dia tidak bisa menolak.


Setelah itu Arka segera keluar dari perusahaan ingin mengejar sang istri yang sudah lebih dulu pulang.


"Arka! Arka, tunggu!" Lisa meraih tangan Arka namun segera ditepis olehnya.


"Berhenti di sini atau kamu akan menyesal." Ancam Arka tidak main-main.


Bahkan, para bodyguard yang selama ini bersembunyi melindungi Arka sampai harus keluar untuk berhadapan langsung dengan Lisa.


Lisa ketakutan, ia membawa kakinya mundur ke belakang menjauhi pria-pria kekar dengan senjata api di tangan masing-masing.


"Arka, tolong minta mereka menjauh. Aku sangat takut melihat senjata berbahaya itu." Mohon Lisa kepada Arka.


Namun Arka tidak perduli, ditambah lagi saat ini ia sedang sangat marah sehingga suasana hatinya menjadi buruk. Ia tidak bisa diajak berbicara apalagi bila orang itu adalah Lisa.

__ADS_1


"Mereka bergerak sesuai dengan tindakan mu. Jika kamu mundur, maka mereka akan mundur. Tapi jika tidak, maka mereka tidak akan pernah beranjak dari tempat ini." Jawabnya acuh tak acuh sebelum masuk ke dalam mobil dan menghilang dari pandangan Lisa.


Lisa tercengang, ia mengepalkan kedua tangannya menahan amarah. Menghentakkan kakinya, ia lalu pergi menjauh dari bodyguard Arka.


__ADS_2