
Aku tidak marah ataupun kesal, jujur aku juga manusia biasa. Aku menyayangkan kekhawatiran mereka kepadaku tapi terlepas dari semua itu aku mengetahui bila mereka sangat menyayangi ku.
"Skenario Allah tidak hanya indah dan tidak terduga tapi juga sangat menakjubkan. Ai dan Mega, aku bahagia kalian berdua bahagia. Dan aku juga berdoa bila suatu hari nanti Allah akan menitipkan amanah di dalam rahimku seperti kalian berdua." Asri melambungkan harapan dengan nada yang sangat tulus.
Di dalam hati aku mengaminkan doa ini dan berharap hari itu segera datang.
"Allah akan menepati janji-Nya, Asri, jadi jangan pernah berhenti berdoa dan berusaha." Kataku menyemangatinya.
Mega tiba-tiba berceloteh yang membuat kami bertiga sontak tertawa,"Iya, usaha terus biar cepat nyusul. Coba aja malam pertamanya jangan ditunda, pasti hari ini kita bertiga jadi trio bumil."
Wajah Asri sangat malu saat ini dan terlihat begitu merah. Dia pasti salah tingkah dengan apa yang Mega ucapkan tadi.
"Ugh, ini salah Mas Arka!"
"Hem, salah ku, ya?" Suara malas Paman Arka mengejutkan kami bertiga.
Aku, Mega, dan Asri langsung membeku di tempat. Kami bertiga secara kompak menutup mulut rapat tidak berani berbicara. Dibandingkan aku dan Mega, situasi Asri jauh lebih buruk dan menggelikan. Dia terlihat sangat gugup dan bahkan ekspresi sembelit di wajahnya seketika membuatku juga Mega ingin tertawa. Namun kami berdua berusaha menahannya, saling melirik dan melemparkan pemahaman diam-diam, aku lalu berdiri dari dudukku yang disusul juga oleh Mega.
"Aku...harus ke ruang makan karena Mas Vano pasti sudah lama menunggu." Kataku beralasan.
__ADS_1
Asri terlihat panik, dia bangun dan menjangkau tanganku.
"Jangan pergi dulu-" Asri berdiri dari duduknya tapi bahunya segera ditekan oleh Mega hingga ia jatuh kembali ke tempat duduknya.
Ya Allah, aku tidak tahan melihat ekspresi sembelit di wajah Asri. Aku ingin tertawa tapi takut membuat Paman Arka tersinggung, ugh...ini sungguh sangat menyiksa.
"Temani lah suamimu di sini sementara aku sama Ai harus menemui Mas Azam dan Ustad Vano di ruang makan. Mereka pasti kelaparan dan ingin segera sarapan." Potong Mega sengaja mempersulit Asri- sejujurnya ini bisa dibilang tidak mempersulit Asri karena setelah kami pergi mereka berdua bisa berduaan tanpa kami ganggu.
"Aku juga ingin ikut kalian..." Asri memelas.
Jarang sekali melihat Asri seperti ini, tapi aku dan Mega tidak bisa melakukan apa-apa karena di sini ada Paman Arka.
"Bagaimana bisa? suamimu jelas-jelas ada di sini. Bicaralah dan segera susul kami setelah pembicaraan romantis kalian selesai." Ucap Mega sengaja merendahkan suaranya di akhir kalimat.
Setelah itu aku dan Mega secara sopan keluar dari ruang keluarga. Kami langsung pergi ke ruang makan untuk menemui suami masing-masing sementara mengesampingkan dulu bagaimana keadaan Asri sekarang.
Kami tidak tahu apa yang mereka lakukan di sana dan kami tidak tahu apa yang mereka bicarakan di sana, tapi satu hal yang pasti bahwa kami tahu bila Paman Arka tidak akan pernah menyakiti Asri.
Paman Arka orangnya memang terkadang cuek dan suka sekali menjahili Asri, tapi meskipun begitu dia sangat tulus kepada Asri. Demi mempertahankan rumah tangga mereka, Paman Arka rela melepaskan Lisa, wanita yang Mas Vano sebut sebagai kekasih lama Paman Arka.
__ADS_1
"Assalamualaikum," Aku dan Mega kompak mengucapkan salam.
Saat masuk ke dalam ruang makan aku dan Mega langsung berpisah untuk mendatangi suami masing-masing. Mega duduk di samping Ustad Azam sementara aku duduk di sisi Mas Vano.
"Oh, kalian masih ingat mempunyai suami di sini?" Suara Ustad Azam dingin yang langsung dihadiahi pukulan main-main dari Mega.
Mereka bersikap intim seperti biasanya.
"Bagaimana, sudah lebih nyaman sekarang?" Perhatian ku seketika ditarik oleh Mas Vano.
Aku tersenyum malu dan menganggukkan kepalaku cepat,"Alhamdulillah, rasanya lega setelah mengobrol dengan Mega dan Asri." Kataku tidak berbohong.
Mas Vano langsung mengusap puncak kepala ku,"Alhamdulillah, aku senang mendengarnya. Mulai hari ini kamu harus banyak makan dan rajin berolahraga agar kamu maupun anak kita tetap sehat."
Aku mengangguk berulangkali mendengarkan nasihatnya sampai akhirnya topik Mas Vano berganti.
"Oh ya, kenapa Paman Arka dan Asri tidak kembali bersama kamu? Aku dengar dia tadi mengatakan keluar untuk memanggil kalian."
"Itu.." Aku berharap sahabatku tidak teraniaya di sana.
__ADS_1
Bersambung...