Muhasabah (Cinta)

Muhasabah (Cinta)
Muhasabah Cinta - 202


__ADS_3

Melihat suaminya ada di sini, suasana hati Fina yang sedang buruk langsung menjadi lebih buruk. Dia menegakkan punggungnya tak mau memandang Doni. Entah dosa apa yang telah dia perbuat hingga berakhir menikah dengan laki-laki payah nan pengangguran. Pernah bercita-cita nikah sama laki-laki mapan, eh tahunya dapat pengangguran. Gimana hatinya enggak patah hati coba?


"Aku di sini ngapain ya terserah aku dong. Kenapa kamu yang sewot?" Katanya jengkel.


Doni mengira kalau wanita ini gila. Ditanya baik-baik malah dikira sewot. Padahal yang jelas-jelas sewot di sini siapa?


"Telinga kamu mungkin punya masalah pendengaran karena terlalu banyak kotoran. Pulang dari sini jangan lupa untuk membersihkannya biar enggak infeksi." Kata Doni dengan nada serius.


Fina merasa tersinggung. Doni jelas-jelas ingin menghina nya saat ini. Dan dia tidak akan pernah membiarkan itu terjadi!


"Kamu bilang aku budek?" Tanyanya marah.


Doni tersenyum kalem.


"Aku enggak pernah bilang." Senyuman kalemnya sangat menyebalkan di mata Fina.


"Kamu...kamu-"


"Doni, Fina. Kenapa kalian di sini? Ibu kira kalian sudah sampai sawah dari tadi." Bibi datang bersama paman sambil membawa keranjang bambu di atas kepalanya.

__ADS_1


Di dalam keranjang itu ada nasi dan lauk pauk untuk dimakan nanti sawah. Orang-orang desa biasanya suka membawa makanan ke sawah karena jarang pulang dan lebih banyak menghabiskan hari di sawah.


Fina enggan tapi dengan sopan memanggil bibi dengan sebutan Ibu.


"Ini, Bu, aku lagi liatin sesuatu. Aku kira ngeliat bahan obat, tahunya cuma rumput biasa." Jawabnya berbohong.


Dia sedikit menghargai bibi karena hubungan kekeluargaan dan ada karena Ibu juga. Kalau enggak, mana mau dia ngomong sama orang sekelas bibi.


"Oalah, di sini jarang ada bahan obat. Kalau kamu nyari ke gunung pasti ada, tapi jalannya terjal dan kamu mungkin enggak akan sanggup jalan." Gunung tidak dekat juga tidak jauh dari tempat ini.


Biasanya orang kota ke sana untuk berkemah.


Fina sangat tidak senang mendengar kata sawah. Dia memang disuruh ke sini sama Ibu mertuanya untuk membantu pekerjaan di sawah. Dia enggak setuju tapi bilang 'iya' dipermukaan. Begitu keluar dari rumah dia langsung melarikan diri dan berakhir bertemu dengan suaminya di sini!


Sungguh sial.


"Baguslah. Ayo pergi sebelum yang lain marah." Bibi melihat ketidakpuasan Fina tapi berpura-pura tidak melihatnya.


Doni tersenyum sambil melirik wajah kesal Fina.

__ADS_1


"Ayo pergi. Kamu bilang sudah lama ingin menanam padi seperti waktu kecil." Katanya asal-asalan, jelas ingin memprovokasi Fina.


Fina mengepalkan tangannya marah. Wajahnya memerah menahan amukan di dalam dada. Menyebalkan! Menyebalkan! Laki-laki miskin ini sangat menyebalkan!


Dia ingin marah tapi tidak bisa melampiaskan, rasanya sangat menyiksa!


"Eh, itu Asri dan Arka." Kata bibi mempercepat langkahnya.


"Asri!" Teriak bibi bersemangat.


Asri dan Arka ada di sawah, duduk jongkok sambil menunjuk sesuatu di dalam sawah yang belum selesai dibajak.


Asri dan Arka kompak menoleh ke arah sumber suara.


"Bibi." Balas Asri memanggil dengan suara ceria.


Bibi tertawa terbahak-bahak. Dia terlihat sangat antusias melihat Asri.


Fina kian tak senang. Kemarin waktu mereka bertemu, bibi tidak memiliki reaksi ini saat melihat ke arahnya. Sungguh tidak adil. Sebenarnya istri Doni siapa, dia atau Asri!

__ADS_1


__ADS_2