Muhasabah (Cinta)

Muhasabah (Cinta)
Muhasabah Cinta - 203


__ADS_3

Arka membantu istrinya bangun namun tidak berencana berjalan mendekat. Sikapnya yang intim dan perhatian kepada Asri tidak luput dari pengawasan mata tajam Fina. Setelah dipermalukan semalam oleh Arka, dia tidak berani menatap langsung ke arahnya. Ada rasa malu sekaligus penghinaan yang membara di dalam hati. Semuanya tidak bisa digambarkan dengan kata-kata. Tapi sekali lagi semua kesalahan dia limpahkan kepada Asri, pemenang segalanya.


"Bibi, mau ke sawah?" Sebenarnya pertanyaan basa-basi.


Bibi tersenyum.


"Iya, sawah sebagian sudah dibajak. Kamu sama Arka mau ikut? Mungkin aja Arka mau lihat-lihat kondisi pertanian kita karena di kota besar tidak ada sawah kan?" Saudaranya yang tinggal di kota telah berulang kali bercerita tentang lingkungan kota yang tidak memiliki sawah ataupun tempat pertanian.


Sejujurnya kota sangat panas dan tidak terlalu hijau. Tapi karena segala sesuatu maju di sana dan perekonomian tinggi membuat banyak orang mendambakan kota.


Asri melihat ke arah suaminya untuk bertanya melalui matanya. Arka tahu bila istrinya ingin jalan-jalan jadi dia mengangguk pelan.


Asri langsung tersenyum lebar.

__ADS_1


"Ayo jalan, bibi yang akan memimpin jalan." Bibi berjalan di depan.


Asri dan Arka berjalan di sampingnya sambil bercanda. Sementara Doni berjalan di belakang mereka dengan Fina. Sepanjang perjalanan Fina tidak pernah berbicara dan hanya menatap dingin ke arah punggung ramping Asri. Sikapnya yang cuek sangat menjengkelkan. Dia tidak pernah memanggil Asri, seolah-olah mereka berdua bukanlah sepasang saudara melainkan dua orang yang bermusuhan.


Asri tentu saja merasakan ketidakpuasan adiknya di belakang. Tatapan mata adiknya terlalu jelas yang agak sulit diabaikan.


"Abaikan saja dia." Bisik Arka lembut kepada istrinya.


Asri juga tahu. Tidak hanya Arka yang mengatakannya tapi juga kedua orang tua serta keluarga yang lain. Mereka semua memintanya untuk bersabar menghadapi adiknya. Namun tanpa dibilang pun Asri sudah bersabar sampai batas terakhir kali ketika Fina ingin menggoda suaminya waktu itu. Mereka bertengkar dan setelah itu belum pernah berbicara hingga hari ini.


Jangan tanya betapa marahnya dia.


Kalau dia tidak marah dia tidak mungkin mengabaikan Fina hingga saat ini dan bahkan belum mengucapkan ucapan selamat atas pernikahan kemarin.

__ADS_1


"Aku tidak mau berbicara dengannya, mas. Aku masih marah dan tidak nyaman saat melihatnya. Mas Arka juga jangan dekat-dekat sama dia!" Mungkin karena sedang sensitif makanya dia mudah tersinggung.


Kemarahannya kepada Fina yang terpendam rasanya kian membengkak saja.


Arka tercengang, lalu terkekeh geli. Istrinya ternyata sedang cemburu. Betapa manisnya.


"Ya Allah, istriku...kamu ngomong apa sih? Kamu tahu sendiri kalau aku ogah dekat-dekat sama dia. Setiap kali ngeliat dia semua pori-pori di dalam tubuhku langsung bereaksi membunyikan alarm agar aku segera menjaga jarak 10 mil jauhnya. Sungguh hina jika kamu sampai berpikir aku mendekatinya." Arka merasa merinding.


Memikirkan wajah sok cantik Fina yang memiliki wajah biasa-biasa saja membuat Arka berpikir, mungkinkah Fina belum pernah melihat cermin?


Asri tertawa geli. Dia mencubit hidung mancung suaminya gemas sekaligus merasa puas mendengar jawabannya.


"Mas, jangan berlebihan ah.."

__ADS_1


Arka merasa tidak berdaya.


"Siapa yang berlebihan. Adik kamu tuh... merupakan wabah yang harus segera dijauhi. Kamu juga tahu sendiri betapa bahayanya wabah itu. Hati-hati lho.."


__ADS_2