
Setelah sholat subuh usai, Ai segera turun ke dapur menemani Mama membuat sarapan. Sekalipun ia tidak bisa memasak tetapi kehadirannya di dalam dapur membuat Mama sangat terbantu. Mama senang mengobrol dengan menantunya, padahal ia tahu bila kondisi Ai sedang tidak baik-baik saja karena 'ibadah' dan memintanya untuk beristirahat tapi menantunya ini keras kepala. Dia tetap bersikukuh membantu Mama di dalam dapur.
"Ai duduk di sini, kupasin Mama bawang merah sama bawang putih. Kalau udah selesai, Ai bantu Mama iris-iris bawangnya, yah." Kata Mama telah menemukan sebuah solusi untuk Ai.
Dia tidak tahan melihatnya bergerak ke sana kemari di dalam dapur sehingga dia memutuskan untuk mendudukkan Ai di kursi makan sambil bekerja mengupas bawang.
"Iya, Ma." Ai menurut dengan patuh.
Dia mengambil pisau yang sudah di atas meja dan mulai mengupas bawang. Sambil mengupas Ai sesekali akan memperhatikan bagaimana cara Mama memasak. Tangan-tangan Mama bergerak cepat menyiapkan alat masak atau bahan-bahan makanan. Gerakan tangannya terampil, sama seperti Bunda Safira ketika berada di dalam dapur.
"Nak, kata Vano besok pagi kalian sudah pindah ke rumah baru. Apa gak terlalu cepat kalian perginya? Mama sama Papa kan masih ingin tinggal sama kalian."
Putranya memutuskan untuk tinggal di tempat yang terpisah dari mereka. Selain karena ingin hidup mandiri, rumah putra dan menantunya sangat dekat dengan perusahaan sehingga Vano tidak perlu menghabiskan banyak waktu di dalam perjalanan ke kantor.
"Iya, Ma. Mas Vano tadi udah bilang ke Ai kalau kami akan pindahan besok pagi. Ai pikir itu juga terlalu cepat karena Ai juga masih ingin tinggal di sini. Tapi Paman Arka sudah menghubungi Mas Vano jika urusan kantor tidak bisa ditunda lebih lama lagi dan harus segera ditindaklanjuti."
Mereka tadi sempat membicarakan masalah pindahan ini setelah sholat subuh tadi. Ustad Vano sebenarnya tidak ingin terlalu cepat berpisah dari kedua orang tuanya tapi urusan kantor benar-benar mendesaknya. Jika saja perusahaan tidak jauh dari rumah kedua orang tuanya, Ustad Vano tidak akan mungkin memilih untuk pindah rumah dan menjaga jarak dari kedua orang tuanya.
Mama mendesah tidak berdaya, Ustad Vano memang sudah menjelaskan masalah ini sejak jauh-jauh hari. Hanya saja sebagai seorang Ibu, dia masih enggan melepaskan putranya untuk yang kedua kali. Pertama, itu saat Ustad Vano mondok bertahun-tahun di pondok pesantren dan sekarang itu karena tuntutan pekerjaan.
__ADS_1
"Sayang sekali." Mama tidak berdaya.
"Ini bukan salah Vano, Ma. Tapi salah Papa sendiri yang lebih milih jadi dokter daripada nerusin perusahaan Kakek." Ustad Vano masuk ke dalam percakapan setelah tidak sengaja mendengar percakapan mereka.
Masuk ke dalam, ia langsung menempeli istrinya yang tertunduk malu tidak berani menatapnya.
"Yah, Mama juga gak bisa komentar apa-apa- Vano! Kasian istri kamu dong jangan digangguin terus. Apa belum cukup kamu kerjain dia semalaman?" Goda Mama bercanda.
Ai merasa malu. Kedua pipinya bersemu merah mengingat 'ibadah' penyatuan antara ia dan Ustad Vano. Jujur, itu adalah pengalaman yang sangat mendebarkan meskipun awalnya agak sakit.
"Belum cukup, Ma. Vano sebenarnya mau nambah lagi tapi keburu Mama culik ke sini istriku." Ustad Vano sejujurnya malu, tapi untuk menyamarkannya ia ikut-ikutan membalas komentar ledekan Mamanya.
Setelah sarapan siap, Mama dan Ustad Vano tidak mengizinkan Ai membantu mereka memindahkan makanan ke ruang makan. Mereka meminta Ai duduk dengan manis di atas meja makan untuk menunggu hidangan. Ai awalnya tidak mau, tapi karena bujukan suami dan Mama mertuanya, ia akhirnya mau mengalah. Di samping itu juga ia masih belum nyaman dengan tubuhnya.
10 menit kemudian mereka sarapan bersama. Selama sarapan tidak ada yang berbicara atau memulai pembicaraan karena Islam menganjurkan untuk makan dalam keadaan diam.
"Enak, gak?" Tanya Ustad Vano setelah menyelesaikan sarapannya.
Ai menyesap lagi minumannya,"Enak, Mas. Mau coba?" Tanya Ai iseng.
__ADS_1
Ia pikir Ustad Vano akan menolak tapi siapa yang mengira jika suaminya malah mau.
"Boleh, dong." Ia mengambil gelas minuman Ai.
Mencari bekas bibir istrinya seperti yang pernah Rasulullah Saw lakukan kepada Aisyah dulu.
"Aku biasa minum dari gelas yang sama ketika haid, lalu Nabi saw mengambil gelas tersebut dan meletakkan mulutnya di tempat aku meletakkan mulut, lalu beliau minum." (HR. Abdurrazaq dan Said bin Manshur).
Ia menyesapnya ringan, memberikan kembali gelas itu kepada Ai sambil mengecap mulutnya beberapa kali untuk mengenali rasa.
"Rasanya mirip dengan milik ku, ini seperti jus kurma tapi disaat yang sama juga tidak." Kata Ustad Vano tidak yakin.
"Mau mencoba milikku?" Tersenyum simpul, Ustad Vano menawarkan minumannya kepada sang istri.
Ai mengangguk malu,"Boleh, Mas."
Di bawah pengawasan suaminya, Ai melakukan hal yang sama seperti yang Ustad Vano lakukan sebelumnya. Ia mencari bekas bibir Ustad Vano dan menyesapnya dari sana.
Meskipun masih canggung tapi keterbukaan Ustad Vano membuat Ai perlahan mulai membiasakan diri. Dia secara pelan-pelan namun pasti mulai bersikap intim dengan suaminya.
__ADS_1