
"Apa Mas Vano serius?" Ai meragukan dirinya sendiri.
Ia menyentuh perut datarnya yang memang agak kembung tapi bila dilihat sekilas, orang lain akan berpikir bila perutnya masih datar seperti sebelumnya.
Ai juga tidak ingin menjadi orang yang munafik, sebagai seorang istri ia tentu saja ingin menjadi perempuan yang sempurna untuk suaminya. Menjadi istri yang berbakti dan Ibu yang penyayang, ia ingin memiliki dua gelar ini di dalam hidupnya.
Namun bila Allah tidak mengizinkan maka apa yang harus ia lakukan?
Tidak ada yang bisa ia lakukan karena ini adalah yang terbaik dari Allah, ini adalah garis yang Allah tetapkan untuk ia lewati di dunia ini.
"Demi Allah, istriku. Aku yakin bila kamu sedang hamil atas izin Allah karena tadi aku merasakan sebuah gerakan halus di dalam sana. Tidakkah kamu merasakannya?" Ustad Vano berbicara dengan senyuman lebar yang tidak pernah luntur dari wajah tampannya.
__ADS_1
Ia menatap sang istri penuh kasih, menggunakan kata-kata yang lembut dan bernada lembut pula untuk meyakinkan istrinya bahwa di dalam rahim istrinya ada benih mereka yang telah berkembang. Benih itu adalah hasil cinta mereka di malam-malam tanpa tidur karena mengharapkan ridho Allah SWT. Mereka beribadah sesuai dengan aturan yang Allah tetapkan, kemudian menegakkan sholat malam untuk berbicara kepada Allah bahwa mereka telah melakukan perintah-Nya, mereka telah mengikuti apa yang Allah perintahkan dan mereka juga memohon agar setiap langkah yang mereka ambil di dalam rumah tangga ini selalu dalam ridho Allah SWT terlepas mereka memiliki keturunan atau tidak, semuanya mereka serahkan kepada Allah SWT.
Dan sekarang inilah yang Ustad Vano dapatkan, buah manis dari keyakinan dan kesabaran. Meskipun belum terbukti jelas akan tetapi hati kecilnya berteriak dengan keras kepala bahwa di dalam rahim istrinya ada mahluk mungil yang sedang berproses menjadi mahluk hidup yang sempurna. Mahluk mungil itu Allah ciptakan perpaduan antara dirinya dengan sang istri, mashaa Allah, sungguh manis hati ini ketika membayangkan suatu hari ia, istrinya, dan sang bayi hidup dalam kedamaian. Hari-hari akan dilalui oleh suara tangisan bayi, tawa anak-anak, kemarahan seorang remaja, dan sikap dewasa seorang anak yang telah mengenal dunia. Dengan begitu ia dan Aishi tidak akan hidup kesepian seperti yang keluarga besarnya khawatirkan karena Allah telah menjamin kebahagiaan untuk mereka.
"Aku juga merasakannya, Mas." Kedua mata Ai memerah antara suka dan duka."Akan tetapi usia pernikahan kita baru dua bulan lebih 1 minggu sedikit. Jika benar aku hamil maka bayi di dalam perutku tidak mungkin membuat gerakan secepat ini. Butuh dua atau tiga bulan lagi sampai anak itu menyapa kita, Mas."
Ai tidak ingin menipu diri sendiri. Meskipun tidak pernah mengalaminya tapi bukan berarti ia tidak tahu-menahu mengenai orang hamil. Tidak, Ai tahu beberapa hal mengenai orang hamil karena ia ia telah mempelajari banyak hal ketika Bunda hamil kedua dan ketiga.
Ai tidak pernah mendengarnya dan ia pun yakin jika itu tidak pernah terjadi.
"Ini mungkin terdengar mustahil untukmu tapi tidak dengan Allah, istriku. Di dada ini," Ia membawa tangan istrinya menyentuh dadanya yang sedang berdebar kencang. "Ada suara yang terus-menerus berteriak di dalam sana memberitahuku bahwa kamu sedang mengandung anakku. Di dalam rahimmu ada benihku, istriku. Aku tahu mungkin terdengar tidak masuk akal tapi percayalah, inshaa Allah suara ini datangnya dari Allah dan bukan dari setan. Allah meyakinkan ku bahwa Dia telah menyiapkan hadiah untuk kita di dalam rahim mu."
__ADS_1
Ustad Vano tidak berkecil hati. Sekalipun usia pernikahan mereka baru dua bulan namun itu bukan berarti mereka tidak diizinkan untuk melihat Kuasa Allah, sungguh bila Allah mau di dunia ini tidak akan ada yang mustahil bagi-Nya.
"Aku.." Ai tidak bisa mengucapkan apa-apa.
Ia lalu melemparkan dirinya masuk ke dalam pelukan sang suami, memeluk suaminya erat untuk melampiaskan betapa gundah hatinya sekarang. Di dalam hati amat besar harapannya bila apa yang suaminya yakini itu benar bahwa ia sedang mengandung, mengandung buah dari cinta mereka.
"Tidak apa-apa, istriku. Kita akan menyerahkan semuanya kepada Allah SWT. Apapun hasilnya nanti kita akan bersabar karena semuanya adalah kehendak Allah. Jika tidak, maka kita akan semakin terpacu beribadah kepada-Nya dan jika pula memang iya, maka ibadah kita akan semakin terpacu agar lebih dekat dengan Allah. Hem, apapun hasilnya nanti semua itu bisa membuat kita semakin dekat dengan Allah. Bukankah ini sangat baik istriku?"
Di dalam pelukannya Ai mengangguk haru. Sungguh tegar suaminya, segala kekurangan dan kelemahannya diterima dengan ikhlas oleh sang suami, dan inilah yang membuat Ai semakin malu kepadanya. Jika dia tidak bisa memberikan keturunan untuk Ustad Vano, betapa ia merasa tidak berguna.
"Jadi kapan kita pergi melakukan pemeriksaan?"
__ADS_1