Muhasabah (Cinta)

Muhasabah (Cinta)
16. Beres-beres


__ADS_3

"Ini manis, Mas. Rasanya mirip dengan minuman ku. Meskipun minuman ku lebih kental dan berserat, tapi rasanya tidak jauh berbeda." Ucap Ai memberikan penilaian.


"Benarkah?" Ustad Vano mengambil gelas minumannya kembali dari Ai, menyesap minuman lewat jejak mulut istrinya.


"Hem, ini jauh lebih lezat dari yang aku pikirkan." Ucap Ustad Vano membuat rona merah terang kian terbentuk di kedua pipi Ai.


"Tapi Mama kok tumben buat jus ini? Sebelum-sebelumnya setiap pulang ke rumah Mama gak pernah buatin aku, deh." Bingung Ustad Vano karena ini pengalaman pertamanya minum jus ini.


"Ini adalah minuman buatan ku, Mas." Kata Ai mengakui.


"Aku sudah meminum minuman ini sejak kecil. Bunda bilang minuman ini sudah turun-temurun dari keluarga Ayah. Bunda dan Ayah juga bilang jika minuman ini harus diminum rutin, apalagi setelah menikah, mereka sangat menganjurkan Ai untuk tidak absen meminumnya." Ujar Ai menjelaskan.


"Terus Ai tahu gak minuman ini manfaatnya apa?"


Ai menggelengkan kepalanya tidak tahu.


"Ai pernah bertanya tapi Bunda bilang rahasia." 


Ustad Vano lantas tersenyum simpul,"Hem, ada baiknya ini dirahasiakan."


Sejujurnya dia sudah bisa menebak apa manfaat minuman ini untuk mereka berdua, ah, terutama untuk Ai sendiri.


"Mas Vano emangnya tahu apa manfaat minuman ini?" Dari ekspresinya saja Ai yakin juga suaminya ini sudah tahu.


"Jika kamu saja tidak tahu maka aku pun tidak lebih baik darimu." Karena yah, ini hanya tebakan saja. Benar atau tidaknya, seiring waktu berjalan pasti akan terjawab juga.

__ADS_1


Yang pasti mereka hanya perlu memasrahkan semuanya kepada Allah SWT karena Dia lah yang berkuasa atas semua urusan makhluk. Bila Allah berkehendak maka jadilah, jika Allah tidak berkehendak maka jadilah pula. 


Mereka hanya mahluk yang lemah, mahluk yang akan selalu bergantung kepada-Nya.


Ai tersenyum manis, menyesap kembali minumannya di bawah pengawasan mata sang suami. Setelah menghabiskan minumannya, Ai kemudian membantu Mama membersihkan meja. Sempat dilarang, tapi kali ini Ai tidak mau mengalah. Ia bersikeras membersihkan meja dan dibantu oleh suaminya.


Melihat Ai dan Ustad Vano menikmati waktu ini, Mama memutuskan untuk menyerahkan urusan membersihkan meja kepada mereka berdua. Pasangan pengantin baru memang seperti ini, apalagi jika nikahnya tanpa pacaran dulu. Maka segala sesuatu yang dikerjakan bersama akan terasa canggung tapi sarat akan perasaan manis.


Malam harinya, mereka telah selesai menyusun pakaian mereka di dalam koper. Menyiapkan barang-barang yang akan mereka bawa pindahan besok pagi.


"Mas, aku merindukan Mega dan Asri." Kata Ai setelah duduk di samping suaminya.


Ustad Vano menggeser tubuhnya lebih dekat lagi dengan Ai. Setelah dekat, ia membawa Ai ke dalam pelukannya untuk berbaring bersama di atas ranjang.


Hah, rasanya begitu nyaman berada sedekat ini dengan orang yang mereka cintai.


"Sungguh, Mas?" Ai sangat senang bisa bertemu lagi dengan mereka.


Ah, mengingat mereka membuat Ai merindukan masa-masa mondok. Masa ketika ia, Mega, dan Asri seringkali menciptakan masalah yang sesungguhnya tidak disengaja tapi berujung sebuah hukuman.


Ustad Vano tersenyum,"Inshaa Allah, istriku. Bila Allah ridho maka dalam waktu cepat kamu akan bertemu dengan mereka."


"Semoga Allah ridho, Mas. Sebab betapa rindu hati ini kepada mereka." Ai berdoa tulus.


"Lalu, bagaimana denganku? Tidakkah kamu merindukannya?" Ustad Vano mengerjai istrinya.

__ADS_1


Seperti yang ia bilang sebelumnya, sisi malu-malu Ai tampak begitu manis dan menenangkan jiwa. Ustad Vano akan merasa bersyukur berkali-kali setiap melihat tingkah pemalu istrinya itu.


"Mas Vano, ih!" Ai tidak berani menatap wajah suaminya.


Karena bagaimana bisa suaminya masih bertanya?


Sudah jelas-jelas hatinya tidak pernah lepas dari rasa kerinduan kepada suaminya.


"Apa? Kamu gak merindukan aku?" Ustad masih menjahili istrinya.


Malu, perlahan Ai mengangkat kepalanya menatap wajah tampan sang suami yang kini juga sedang memperhatikannya. Tatapan suaminya begitu lembut- mungkin lebih tepatnya sangat lembut, membuat Ai selalu merasa dicintai setiap kali bertemu pandang dengan sang suami.


"Mas Vano," Ai memanggilnya.


Ustad Vano menggeser kepalanya lebih dekat lagi dengan Ai,"Hem?"


Diam, sejenak Ai jatuh terpesona menatap betapa tampannya Ustad Vano. Dia selalu merasa belum cukup, ingin lagi dan lagi tanpa sadar.


"Demi Allah, Mas...aku selalu merasa bila diri ini terlalu berlebihan karena tidak bisa jauh dari mu, Mas. Aku akan berpikir dan bertanya-tanya dari dalam diam, apa yang sedang Mas lakukan jika jauh dariku? Apakah Mas Vano juga memikirkan bila jauh dariku? Bukankah ini terdengar berlebihan, Mas?"


"Siapa bilang?" Ustad Vano tertawa kecil tampak sangat bahagia.


"Ini tidak berlebihan sayang, dan sangat wajar untuk pasangan suami-istri seperti kita. Kamu harus tahu bahwa sebelum menikahi mu, hatiku selalu bertanya-tanya apakah sudah waktunya? Apa menikahi mu di usia semuda ini tidak masalah untukmu?. Sampai pada puncaknya kita bertemu di pondok pesantren, saat itu kamu sedang menjalani hukuman dariku di sawah. Dengan alasan ingin mengawasi pekerjaan yang kamu lakukan, aku lalu mendekati mu dan pernah melemparkan pertanyaan kepadamu. Apakah kamu masih ingat pertanyaan apa yang aku layangkan saat itu?" Tanya Ustad Vano seraya menyingkirkan helaian rambut Ai yang telah lancang mengganggu pandangannya dari wajah cantik Ai.


Ai menggelengkan kepalanya tidak ingat. Dia terlihat sangat menggemaskan dengan wajah merahnya.

__ADS_1


"Pagi itu aku bertanya berapa usia mu tahun itu, apakah kamu tahu kenapa aku bertanya seperti itu?"


Bersambung..


__ADS_2