
Ustad Vano terdiam, ia meremat tangannya kuat menahan perasaan hangat nan bahagia yang kini tengah bergejolak di dalam hatinya.
"Bagaimana mungkin aku tidak mengizinkan? Aku senang kamu tidak merasa kesepian bila aku pergi bekerja nanti. Tidak apa-apa, istriku, kamu boleh melakukan apapun asalkan tidak mengundang murka Allah." Ustad Vano menarik Ai ke dalam pelukannya, memeluk Ai erat karena rasa syukur dan perasaan bahagia.
Ustad Azam juga tidak mau kalah dari Ustad Vano, ia dengan sikap berani dan tanpa malu-malu memeluk Mega. Mengucapkan beberapa kata-kata lembut nan hangat yang langsung membangkitkan rona merah terang di wajahnya.
Sedangkan pasangan Arka dan Ai, mereka tidak mengambil tindakan seperti yang lain. Mereka berdiri canggung dengan segaris senyuman manis dan lebar di wajah masing-masing.
"Yah, ini adalah sebuah langkah kecil." Ucap Arka lembut seraya menarik tangan Asri pelan-pelan, menyatukan kedua tangan mereka dan menggenggamnya lembut.
"Iya, Mas." Bisik Asri merendahkan kepalanya tidak berani menatap wajah tampan Arka.
Setelah obrolan itu mereka semua sepakat membagi tugas. Para istri akan bertugas membersihkan rumah dan memasak sedangkan para suami akan meluangkan waktu membantu bila tidak sibuk bekerja. Mereka sengaja tidak menggunakan pembantu karena ini adalah permintaan langsung Ai, Mega dan Asri. Mereka bertiga yakin bisa mengurus rumah bersama-sama. Lalu, untuk kamar yang akan di tempati, rumah ini terdiri dari 4 lantai. Kamar di lantai pertama akan ditempati oleh tamu yang datang menginap, jika tidak maka akan dibiarkan kosong. Lantai satu dikhususkan untuk aktivitas sehari-hari.
Selanjutnya lantai kedua akan ditempati oleh Ustad Vano dan Ai. Tidak ada alasan yang berarti kenapa mereka ingin tinggal di lantai dua. Kemudian lantai tiga akan ditinggali oleh Ustad Azam dan Mega, terakhir lantai empat akan ditinggali oleh Arka dan Asri.
Arka sendiri yang memutuskan untuk tinggal di lantai 4 karena di sanalah kamar Arka berada. Segala aktifitas mulai dari ruang kerja, perpustakaan ada di sana.
Semua sudah diputuskan dengan cepat dan terorganisir. Dengan cepat pula mereka membereskan barang masing-masing, membereskan tempat tinggal yang akan mereka tinggali dalam waktu jangka panjang.
Malamnya Ai, Mega, dan Asri turun ke dapur untuk memasak sesuatu. Mereka awalnya ingin memasak makanan sederhana yang mereka pelajari dari dapur umum pondok pesantren. Memasak makanan sederhana nan rumahan tapi sangat spesial untuk suami masing-masing. Namun, mimpi ini segera menguap ketika sebuah petaka datang menghampiri mereka.
Prank
Suara pecahan piring disusul dengan teriakan histeris Ai, Mega, dan Asri.
"Akh...api...api!" Mereka berteriak histeris, menggemparkan seisi rumah bahkan juga terdengar sampai ke tetangga sebelah.
__ADS_1
"Astagfirullah... kebakaran! Tolong ada kebakaran!" Asri berteriak keras dengan wajah yang sudah basah oleh air mata dan...cairan bening nan lengket yang keluar dari lubang hidungnya.
"Haruskah kita menyiram air ini ke sana?" Tanya Ai ragu kepada Mega.
Karena panik Ai langsung mengambil air keran mengunakan baskom tapi tidak memiliki keberanian untuk menyiramkan air ini ke dalam kobaran api.
Mega tanpa pikir panjang menjawab,"Lempar saja airnya ke sana."
Dia juga mengambil panci kosong sebagai wadah untuk mengumpulkan air untuk memadamkan api-
"Astagfirullah, apa yang terjadi-" Ustad Vano seketika tidak mampu menyelesaikan ucapannya.
Dia sangat panik mendengarkan teriakan istrinya dari dapur, ia pikir ada sesuatu atau hal besar yang terjadi di sini tapi ternyata...
Semua kepanikannya langsung menguap entah kemana.
Mega menganggukkan kepalanya kaku, tubuh dan wajahnya masih kaku menatap kobaran api yang belum dipadamkan.
"Kalian tidak bermaksud menghancurkan dapur ini'kan?" Tanya Arka tiba-tiba merasa sakit gigi melihat betapa kacau dapur saat ini.
Asri masih menangis sesenggukan, ia mengusap ingusnya tanpa malu-malu dan menunjuk kobaran api yang masih belum menghilang.
Arka, Ustad Vano, dan Ustad Azam kompak mengikuti arah jari telunjuknya.
"Kebakaran..." Katanya sesenggukan,"Tiba-tiba apinya keluar dan membakar mangkuk plastiknya."
Asri tidak tahu darimana apinya berasal. Dia hanya menaruh mangkuk plastik yang menampung sayur timun di atas meja tapi api besar tiba-tiba melahapnya.
__ADS_1
Arka, Ustad Vano, dan Ustad Azam gatal ingin tertawa,"...."
"Ini adalah kompor listrik." Kata Arka seraya menekan tombol off dan yah, api besar tadi langsung menghilang menyisakan mangkuk plastik yang telah meleleh.
Asri, Mega, dan Ai,"....oh."
"Ini...kompor listrik di rumah ku tidak seperti ini." Kata Ai canggung di depan suaminya.
"Benar, kompor listrik di rumah ku juga tidak seperti ini." Mega membuat alasan yang sama.
Lain dengan Asri yang sudah mengelap wajahnya hingga tidak basah lagi- oh, jangan lupakan jejak ingusnya yang masih tertinggal.
"Aku tidak pernah memasak menggunakan kompor listrik karena di desa aku memasak menggunakan kayu bakar. Jadi..." Ia tidak bisa menyelesaikan kata-katanya.
Arka menghela nafas panjang. Ia menggulung lengan bajunya,"Tidak apa-apa, aku dan yang lain akan membersihkan semuanya."
"Apa yang Paman katakan benar, kalian tunggulah di luar dan biarkan kami yang akan mengurus dapur."
Mereka bertiga tidak melawan, patuh, mereka keluar dari dapur dan dengan patuh pula berdiri di luar dapur memperhatikan para suami membersihkan dapur.
Mereka bekerja sangat cepat, dalam waktu singkat dapur telah bersih. Tidak sampai di sana saja, setelah membersihkan dapur mereka lalu mulai menyiapkan bahan-bahan dan memasak.
Sontak saja, hal ini membuat para istri berdecak kagum karena ini pertama kalinya mereka melihat secara langsung proses memasak dari suami masing-masing.
"Apa yang sedang kalian lakukan?" Suara manis seseorang mengintrupsi mereka bertiga.
Menoleh, mereka menemukan seorang gadis cantik yang tampak mirip dengan Asri.
__ADS_1
"Kakak yang harusnya bertanya, dek, kamu ngapain ke sini?" Tanya balik Asri.