Muhasabah (Cinta)

Muhasabah (Cinta)
17. Pindahan


__ADS_3

Ai sebenarnya punya tebakan di dalam hatinya, namun ia tidak mau mengungkapkannya kepada suaminya. Ia ragu bila tebakan di dalam hatinya ini benar.


"Itu karena aku berencana ingin segera menikahi mu." Ustad Vano menjawab pertanyaannya sendiri.


Saat itu ia benar-benar memiliki pemikiran ingin segera menghalalkan Ai, memintanya secara langsung kepada Ayah Ali karena terdesak kerinduan. Namun, karena pertolongan Allah dan dalam lindungan Allah pula ia masih mampu menahan kerinduannya. Menahannya sampai akhirnya berbulan-bulan kemudian mereka disatukan halal untuk satu sama lain.


"Sungguh, Mas?" Saat itu Ai masih berusia 18 tahun, usia yang masih sangat muda untuk naik ke jenjang pernikahan.


Namun ia masih senang mengetahui kabar ini karena itu artinya Ustad Vano benar-benar serius ingin menghalalkannya.


"Demi, Allah. Aku sangat bersungguh-sungguh. Akan tetapi kedua sepupuku memberikan ku saran untuk tidak terlalu ceroboh menikahi mu. Sebab, usiamu saat itu masih terbilang sangat muda. Dan di samping itu Ayah Ali juga belum memberikan tanda-tanda apapun mengenai janjinya sehingga aku hanya bisa lebih bersabar lagi untuk menikahi mu."


Ai mengambil tangan Ustad Vano dari wajahnya, mengecup ringan sebagai penghiburan kepada suaminya.


"Alhamdulillah, Allah tidak menyia-nyiakan kesabaran kita, Mas. Terutama untuk semua perjuangan Mas Vano agar bisa menikahi Ai, Allah tidak mengecewakan Mas Vano dan Allah juga menyatukan kita dalam sebuah ikatan suci bahtera rumah tangga. Mas, betapa bahagia hati ini mengetahui bahwa imam ku adalah dirimu, Mas. Laki-laki yang selalu ku rindukan siang dan malam dengan segala macam kecemasan. Aku sungguh bahagia, Mas." Ungkap Ai malu-malu namun sarat akan ketulusan.

__ADS_1


Jantung Ustad Vano berdebar kencang. Ia lantas melepaskan pelukan Ai dan mengungkungnya di bawah tubuhnya. Kedua mata mereka berdua bertemu dalam rona merah yang tidak bisa disembunyikan, tatapan lembut nan penuh kerinduan di mata masing-masing bagaikan tiupan angin yang semakin membesarkan nyala api di tubuh masing-masing.


"Ai, aku sangat mencintaimu. Kerinduan di dalam dadaku ini sangat serakah dan sulit dipuaskan. Jujur, aku bukanlah laki-laki yang sempurna akan ilmu dan agama karena seringkali aku membayangkan hal-hal intim seperti ini terjadi kepada kita. Aku sering membayangkan jika tangan-tangan ku ini menyentuhmu, membawamu ke dalam dekapan untuk berbagi kehangatan. Aku adalah laki-laki yang sangat lemah di hadapan mu, Ai."


Ai tersenyum manis, kedua mata persik nya menimbulkan riak-riak tipis. Membendung air mata yang ingin segera keluar karena rasa haru di hatinya.


"Tidak, Mas. Kamu adalah laki-laki yang kuat dan Inshaa Allah berjalan di dalam keridhoan Allah. Bila dirimu lemah seperti yang Mas katakan sebelumnya, maka Mas Vano pasti sudah gagal dalam ujian Ayah dan kita pasti tidak akan sampai pada titik ini. Kamu kuat, Mas, dan karena Mas kuat, Allah permudah jalan kita untuk meraih kebahagiaan. Mas Vano, suamiku yang tampan dan sholeh, aku mencintaimu. Aku sungguh sangat mencintaimu."


Ustad Vano tersenyum lebar, ia merendahkan kepalanya mencium kening Ai lama sebelum beralih menatap bibir ranum nan merah itu yang telah membuatnya candu.


Bisa jadi istrinya kelelahan atau bisa jadi istrinya masih merasa tidak nyaman karena kegiatan semalam sehingga ia mengajukan sebuah pertanyaan.


"Beribadah bersama Mas Vano adalah kewajiban ku sebagai seorang istri di samping aku memang menginginkannya. Mas Vano, ini adalah kewajiban ku kepadamu dan ini adalah ladang amal ku yang sangat berharga, maka di masa depan nanti Mas Vano tidak perlu bertanya bila memang menginginkannya karena aku sepenuhnya sudah menjadi milik mu, Mas."


Kata-kata Ai malam ini sangat berani, tidak bisa tidak membuat semangat Ustad Vano kian terpacu. Ia mengelus wajah cantik kemerah-merahan Ai, mengucapkan doa penyatuan sebelum mengecup bibir merah nan ranum Ai sebagai langkah pertama ibadah mereka malam ini.

__ADS_1


Malam ini tidak ada bedanya dengan malam sebelumnya ataupun malam-malam di masa depan nanti. Mereka melewatinya dengan rasa syukur yang tidak bisa digambarkan dengan kata-kata, saling merengkuh untuk berbagi kehangatan sambil mengharapkan ridho Allah mereka dapatkan dalam ibadah ini.


Ibadah yang membuat para bidadari surga menatap cemburu kepada Aishi Humaira, ibadah yang membuat para penghuni langit merasa kagum, sebab ibadah ini dilandaskan atas nama Allah dan untuk mencari keridhoan Allah.


Maka, betapa tulus cinta yang tumbuh kokoh di dalam hati mereka sehingga membuat para bidadari surga dan penghuni langit menatap cemburu bercampur kagum?


Hanya Allah yang mengetahui betapa indah perasaan itu.


...🍃🍃🍃...


"Kita akan tinggal di sini, Mas?" Ai bertanya ragu sambil menatap bangunan besar yang ada di depannya.


Menurut Ai rumah ini lebih cocok di sebut vila karena sangat luas untuk ukuran dua orang yang hidup bersama.


"Iya sayang, kita akan tinggal di rumah ini." Jawab Ustad Vano sambil mengulum senyum.

__ADS_1


__ADS_2