
"Ya Allah, jangan sungkan sama Bibi. Kamu kayak ngomong sama siapa aja. Bibi enggak repot kok masakin kalian berdua. Lagian kalian cuma berdua bukan sekampung, jadi Bibi enggak masalah." Bibi melambaikan tangan kanannya sambil tertawa terbahak-bahak.
Asri merasakan arus hangat mulai mengaliri isi hatinya. Dia sempat malu bertemu dengan keluarga di desa, takutnya mereka memiliki pendapat kepadanya karena tinggal di kota dan menikahi pria kaya. Tapi melihat senyuman ramah Bibi seperti biasanya, dia akhirnya tahu bahwa itu cuma ketakutannya saja. Faktanya keluarga masih memiliki sikap yang sama kepadanya.
"Karena Bibi sudah berkata begitu, maka jangan salahkan aku jika nanti malam aku membangunkan Bibi untuk membuat makanan." Asri bercanda.
Tawa Bibi semakin keras. Dia menepuk pahanya hingga menimbulkan bunyi yang nyaring. Asri sampai ngilu sendiri melihatnya.
"Baiklah, Bibi akan menunggu. Ngomong-ngomong badan kamu agak gendutan, Asri. Jauh lebih berisi dari beberapa bulan yang lalu, apakah kamu sudah isi?" Tanya Bibi setelah menyadari badan Asri tidak sekurus sebelumnya.
Asri sekarang agak berlemak. Pipinya gembil dan pergelangan tangannya enak digenggam, tidak seperti terakhir kali yang sering disebut sebagai tulang berjalan.
"Eh?" Pipi Asri semakin memanas.
Berat badannya memang naik tapi dia tidak tahu diangka berapa. Berbicara soal hamil Asri juga sangat berharap dia hamil. Dia curiga bulan ini isi karena belum datang bulan hingga sekarang. Telatnya sudah terlalu jauh. Padahal dia baik-baik saja dan tidak sakit, harusnya datang bulan juga lancar. Tapi bulan ini... mungkinkah?
Jantung Asri berdebar kencang.
__ADS_1
Dulu sewaktu Ai dan Mega baru hamil mereka berdua sangat suka tidur. Duduk sebentar langsung tidur, main sebentar merasa ngantuk. Intinya mereka mudah mengantuk dan tidur. Dan sekarang dia juga seperti itu. Sebelum datang ke desa dia sering mengantuk sampai suka ketiduran. Sempat berpikir itu karena masuk angin tapi masuk angin tidak seperti ini pikirnya. Belum lagi keinginannya untuk makan buah peach dan menolak makan makanan kesukaannya yang dibawa oleh Ibu, Asri memiliki tebakan samar di dalam hatinya.
Dia juga mengingat bagaimana Mega ngidam ingin makan masakan ustad Azam seburuk apapun itu. Dan semalam Asri tiba-tiba bangun ingin makan masakan Arka yang sangat langka.
Masalahnya ini tengah malam!
Selapar apapun dia dulu kalau udah tengah malam, dia selalu menolak makan karena tidak bagus untuk pencernaan. Tapi semalam...di memaksa suaminya untuk memasak!
Mungkinkah...ya Allah, mungkinkah aku hamil? Batinnya berharap.
Dia tidak menyadarinya selama ini karena mungkin setiap hari melihat Asri saat di kota sehingga tidak menyadari perubahan signifikannya. Bahkan walaupun disadari Ibu pasti berpikir kalau berat badan Asri naik gara-gara asupan makannya lengkap dan enak!
"Bu...aku kan udah bilang tadi." Asri diam-diam menyentuh perutnya.
Berharga ada buah hatinya dengan sang suami di sini.
"Kamu belum ngecek, Asri?" Bibi menebak.
__ADS_1
Bulan kemarin udah tapi sekarang belum.
"Aku enggak sempat, Bi." Mungkin karena sering mendapatkan hasil negatif, dia agak capek hingga tidak sempat ngecek untuk bulan ini.
"Ya Allah, Nak. Harus dibiasakan. Kalau perlu cek setiap sekali dua minggu." Kata Bibi gemas.
Asri nyengir malu.
"Nanti setelah mas Arka pulang." Di sini enggak ada tespek.
Ibu dan Bibi geregetan. Sayangnya mereka tidak punya tespek!
"Ya, harus diperiksa biar kamu enggak gegabah saat beraktivitas." Takutnya anak di dalam perut kenapa-napa.
Asri mengelus perutnya takut.
"Iya, Bi."
__ADS_1