
"Mas Vano ingin makan nasi goreng sekarang?" Ini cukup aneh untuk Ai pribadi.
Ustad Vano tersenyum lebar,"Hem, aku ingin segera memakan masakan mu malam ini. Lihat, sedari tadi mulutku sudah dipenuhi oleh air liur karena membayangkan nasi goreng buatan mu." Kata Ustad Vano terdengar membual untuk Ai.
Suaminya terlalu melebih-lebihkan masakannya.
Memang benar ia sudah agak bersahabat dengan dapur karena sempat belajar memasak dari Bunda dan dari buku-buku resep di rumah ini. Meskipun sulit ia dan kedua sahabatnya sangat menikmati proses belajar memasak.
"Baiklah... baiklah, aku akan turun memasak ke bawah bersama yang lainnya. Mas Vano tolong menunggu dengan sabar bersama yang lain." Kata Ai memutuskan untuk segera memasak.
Ia dan suaminya lalu turun ke bawah bersama-sama dengan senyuman manis yang tidak pernah terlepas dari wajah mereka.
"Ingatlah Aishi bila masakan ini khusus dibuat untuk ku." Ucap suaminya posesif.
Ai malu,"Aku membuatnya khusus untuk Mas Vano seorang!" Kata Ai kemudian melarikan diri dari Ustad Vano, ia buru-buru masuk ke dalam dapur meninggalkan sang suami yang kini sedang tertawa keras.
__ADS_1
Dia tertawa kencang, mengabaikan sekitarnya tanpa menyadari bila Ustad Vano dan Arka kini tengah menatapnya dengan tatapan konyol.
"Ekhem," Ustad Vano berdehem ringan.
Ustad Vano menoleh ke belakang,"Oh, sejak kapan kalian di sini?" Dia masih belum berhenti tertawa di depan kedua sahabatnya- meskipun Arka adalah Pamannya tapi Ustad Vano telah menganggapnya seperti sahabat sendiri dan demikian pula untuk Arka. Ia juga telah menganggap Ustad Vano sebagai sahabatnya, selain sangat dekat, usia mereka juga tidak jauh.
"Sejak kamu terus menerus menggoda istrimu yang malang." Kata Ustad Azam dengan ekspresi sembelit di wajahnya.
Jujur, dia ngilu melihat sikap lengket Ustad Vano yang tidak biasa. Padahal kesannya Ustad Vano selalu menjadi orang yang dingin dan datar seperti julukan yang disematkan oleh orang-orang pondok, kulkas berjalan.
"Jadi, kalian merasa iri kepadaku?" Tanya Ustad Vano percaya diri.
Mereka bertiga lalu pergi ke ke ruang keluarga untuk berbincang-bincang sembari menunggu para istri di dapur memasak.
Arka mendelik,"Jangan bercanda, tidak ada hal penting darimu yang bisa membuatku merasa iri. Ekhem, atau mungkin kalian berdua akan sangat iri kepadaku bila mengetahui apa yang kami lakukan hari ini." Kata Arka lebih percaya diri lagi.
__ADS_1
Dia sungguh yakin bila diantara mereka bertiga, satu-satunya orang beruntung adalah dirinya sendiri!
Ustad Azam tersenyum lebar,"Aku tidak iri dengan sekotak besar kontrasepsi pemberian istrimu. Oh, aku lupa mengatakannya. Kontrasepsi pemberian istrimu sudah aku amankan di dalam tas kerjaku, jadi aku harap kamu segera mengambilnya sebelum istriku salah paham." Secara tidak langsung Ustad Azam sedang menyindir keributan yang terjadi di perusahaan tadi.
Pertikaian antara pasangan suami-istri yang jauh lebih menarik daripada gosip-gosip murahan di kantor.
"Pfft..." Ustad Vano langsung membungkam mulutnya untuk menahan tawa.
Pasalnya pertikaian Arka dan Asri terkesan lucu bila diingat-ingat.
"Oh ya, ini hanya kesalahpahaman saja dan justru karena kesalahpahaman inilah aku mendapatkan sebuah kado istimewa yang tidak bisa kalian dapatkan!" Kata Arka tidak mau kehilangan wajah.
Intinya dialah yang paling beruntung hari ini! Dia telah melewati hari paling yang indah dalam hidup ini dengan istrinya!
Bersambung..
__ADS_1