
"Istriku adalah gadis yang lembut, dia tidak suka keluar rumah apalagi sampai mengganggu orang lain. Sedangkan putriku yang masih sangat kecil belum mengerti cara dunia bekerja dan dia juga tumbuh menjadi anak yang pemalu. Maka bagaimana ceritanya istri dan anakku yang tidak tahu apa-apa, tiba-tiba diganggu oleh orang asing yang belum pernah dilihat sebelumnya. Nama baik istri dan anakku dicemarkan oleh putrimu, apakah kamu pernah memikirkan apa yang dirasakan istri dan anakku? Anakku dibully dan dijauhi teman-temannya karena putrimu, apakah kamu memikirkan beban psikologis yang ditanggung anakku? Istriku sedang hamil sekarang dan dokter mengintruksikan agar dia jangan terlalu banyak berpikir, tapi dengan masalah yang putrimu buat apakah kamu memikirkan resiko besar apa yang akan istriku dapatkan karena mengkhawatirkan anak kami? Dan bagaimana jika putrimu meninggalkan trauma untuk anakku, apakah kesehatan batinnya bisa dipulihkan kembali seperti sebelumnya? Dari semua yang ku tanyakan kepada mu, apakah kamu memikirkan satu saja dari pertanyaan ini? Tidak? Tidak. Kamu tidak memikirkannya dan terkesan meremehkan masalah ini. Tapi tidak dengan diriku. Kehidupan rumah tangga ku diganggu, istri dan anakku menjadi korban, lalu apa kamu pikir aku masih bisa duduk baik-baik saja melihat 'kesalahan kecil' putrimu mempengaruhi kehidupan rumah tanggaku?"
Ayah menundukkan kepala menyembunyikan rasa malu di wajahnya. Dampak sampai sedalam ini, dia memang tidak menganalisis dampaknya sampai sejauh ini. Dan dia mengakui jika seorang Ayah atau suami tidak akan diam saja melihat seseorang mengganggu keluarga kecilnya. Sama seperti Ustad Vano, mungkin dia akan sangat marah.
"Tolong maafkan putriku, Pak..." Mohon Ayah lemah.
__ADS_1
Tersenyum dingin,"Maaf mu diterima tapi hukum harus tetap berjalan. Aku melakukan ini untuk mengingatkan siapapun yang memiliki pemikiran untuk mengganggu kehidupan rumah tangga ku akan mendapatkan nasib yang sama dengan putrimu. Istri dan anakku harus mendapatkan keadilan." Ucap Ustad Vano bagaikan sebuah vonis hukuman mati untuk keluarga gadis itu.
Tidak ada jalan dan tidak ada solusi yang lain. Gadis itu harus menghadapi masalah ini di pengadilan dan hasil akhirnya semua orang tahu bila gadis itu akan menetap di dalam penjara selama dua atau tiga tahun yang sangat menyiksa.
Gadis itu tidak mau menerima hasil akhir ini. Bila dia di masuk ke dalam penjara, maka semua mimpi-mimpinya akan sirna. Dia tidak akan bisa mengejarnya lagi. Lalu setelah keluar pun dia harus menghadapi berbagai macam mata penuh cemoohan dari orang-orang di sekitarnya dan tidak menutup kemungkinan dia akan dijauhi oleh banyak orang karena dia adalah seorang mantan narapidana.
__ADS_1
"Kak Vano...aku minta maaf, aku janji tidak akan pernah mengulanginya lagi tapi tolong maafkan aku. Aku tidak mau masuk penjara, aku enggak mau hidup di dalam penjara!" Mohon gadis itu dalam isak tangisnya yang menyedihkan.
Ai juga tidak enak hati melihatnya seperti ini dan ingin mengatakan sesuatu tapi langsing dilarang oleh suaminya. Ustad Vano meremas pinggangnya untuk mengingatkan Ai agar jangan berbicara.
"Bahkan meskipun kamu tidak mau, aku akan tetap membawa masalah ini ke pengadilan karena kamu harus belajar mempertanggungjawabkan semua yang kamu lakukan di dalam hidup ini." Kata Ustad Vano dingin tanpa meliriknya.
__ADS_1
Gadis itu menggelengkan kepalanya tidak terima,"Aku begini...aku begini karena Kak Vano!" Teriak gadis itu menyalahkan Ustad Vano.