Muhasabah (Cinta)

Muhasabah (Cinta)
Muhasabah (Cinta) - 83


__ADS_3

"Mas Arka mau ngapain?" Melihat Arka seperti ini memunculkan pikiran yang tidak-tidak di dalam kepala Asri. Bagaimana mungkin mereka masih bisa melakukan hal 'itu' disaat hubungan pernikahan mereka berada diujung tanduk.


"Kamu masih bertanya?" Arka melemparkan bajunya ke sembarang arah, menampilkan sosoknya yang maskulin dan seksi.


Ya Allah, dada Asri langsung dibuat kacau karenanya. Asri ingin berpaling untuk menyembunyikan rasa malu tapi dia sungguh tidak bisa karena Arka terlalu luar biasa!


"Kenapa? Kamu menyukainya?" Tanya Arka puas.


Asri sontak memalingkan wajahnya gugup,"Mas Arka ngomong apa sih!" Dia sungguh sangat malu.


Em, sejujurnya dia ingin menyentuh dada itu. Dada bidang yang selalu tersembunyi dengan baik di dalam pakaian Arka, ia sungguh ingin menyentuhnya!


Arka terkekeh geli,"Awalnya aku ingin memberikan malam yang indah untukmu nanti malam, tapi aku tidak menyangka kamu adalah orang yang tidak sabaran."


Terdengar suara gemerincing dari- ah, wajah Asri kian panas saja rasanya! Dia tidak memiliki keberanian menoleh menatap Arka meskipun pikirannya saat ini sudah terbang ke tempat lain memikirkan hal yang 'halal' tentunya.


"Mas Arka mau ngapain?" Tanya Asri mencicit.


Arka tidak memberikan balasan yang membuat Asri kian gugup dan cemas, lalu ranjang yang ia duduki tiba-tiba agak tenggelam menandakan ada beban tambahan. Arka naik ke atas ranjang, mendekati istrinya yang sedang berpaling menatap ke arah lain.


"Mas Arka- hah?" Arka mendorong Asri hingga terbaring di ranjang, mengungkungnya dengan kedua tangannya agar Asri tidak bisa melarikan diri ataupun melakukan tindakan konyol lainnya.


"Mas Arka." Asri memalingkan wajahnya tidak berani bertatapan langsung dengan sang suami.

__ADS_1


Rasanya sungguh mendebarkan, berada sedekat ini dengan Arka sungguh sangat menguji Asri. Apalagi ketika ia menghirup wangi khas Arka yang sudah menjadi candu untuknya, Asri benar-benar terbuai dibuatnya.


"Tidakkah kamu ingin menyelesaikan masalah kita?" Tanya Arka dengan suara seraknya yang seksi.


Asri di bawah menganggukkan kepalanya pelan,"Iya Mas, tapi kita bisa membicarakannya baik-baik, kan?"


Bagaimana mungkin mereka bisa berbicara seperti ini? Asri sungguh tidak bisa memikirkannya.


"Benar, kita bisa membicarakan masalah itu dengan baik-baik. Tapi pertama-tama, aku harus menjawab keraguanmu mengenai bayi kita." Kata Arka membuat pipi Asri kian merona.


"Lihat, aku." Perintah Arka berusaha sekuat mungkin menahan lonjakan panas di dalam dirinya.


"Aku... tidak mau, Mas." Asri menggelengkan kepalanya menolak tapi dipaksa menoleh oleh suaminya. Arka jelas mulai kehilangan kendali, ia menarik wajah cantik Asri agar bisa bertemu pandang dengannya.


Istrinya tidak perlu menggunakan pakaian seksi atau minim untuk menarik hasratnya, istrinya tidak perlu menggunakan wewangian keras untuk menarik keinginan biologisnya, istrinya tidak perlu menggunakan banyak makeup untuk menarik dirinya memberikan nafkah batin.


Tidak, istrinya tidak perlu menggunakan itu semua. Justru penampilan sederhana, pemalu, dan sorot gugup itu sudah cukup menarik semua keinginannya itu.


Semua itu sudah lebih dari cukup.


"Kita akan melakukannya hari ini." Bisik Arka seduktif seraya menghirup wangi semerbak istrinya yang telah menjadi candu.


"Aku ingin menanam benih ku di dalam dirimu." Bisiknya lagi dengan suara detak jantung bergemuruh di dalam telinganya.

__ADS_1


Asri tertegun, ia menatap Arka dengan tatapan kebingungan. Disadari atau tidak, cairan bening itu kembali keluar dari sudut matanya.


"Mas Arka, bohong! Mas Arka awalnya gak mau punya anak dari-"


"Ini sepenuhnya kesalahpahaman," Potong Arka lembut.


"Sudah aku bilang, masalah ini akan kita bicarakan setelah menyelesaikan semua prosedur pembuatan bayi." Kata Arka diselingi tawa kecil.


Jari-jari panjangnya bergerak ringan menghapus jejak air mata yang keluar dari dalam sudut mata Asri.


"Jadi, berhentilah menangis." Bujuk Arka.


Asri sangat malu diperlakukan selembut ini oleh Arka. Ia juga sebenarnya tidak ingin menangis tapi air matanya terus menerus keluar tanpa bisa ia kendalikan.


"Air matanya gak bisa berhenti keluar, Mas." Kata Asri mengadu.


Dia terlihat sangat menggemaskan di mata suaminya.


Lagi-lagi Arka tertawa geli, ia mengelus ringan wajah cantik Asri sebelum menundukkan kepalanya mencium kening Asri lama.


"Aku sudah tidak tahan, istriku." Bisiknya sebelum beralih mengecup kedua mata Asri lembut.


Asri meremas kedua tangannya yang sudah basah untuk menahan gugup- akan tetapi tangan besar milik Arka mulai melingkupi tangannya. Menjerat tangan ramping yang agak kasar karena sering digunakan bekerja di sawah, dan mengecupnya ringan.

__ADS_1


"Jangan gugup." Bisik Arka pada istrinya.


__ADS_2