
Terlepas dari ketidakhadiran Asri dan Arka yang sedang beristirahat di dalam kamar, acara resepsi tetap dilanjutkan hingga hingga semua orang pulang. Tidak ada yang mempermasalahkan ketidakhadiran mereka berdua kecuali beberapa orang yang memang tidak menyukai dan merasa cemburu. Salah satu orang itu adalah Fina. Wanita yang dipaksa menikah dengan sepupunya sendiri. Nyatanya dia telah bermimpi untuk menikah dengan orang kota dan memulai kehidupan yang makmur seperti orang-orang di kota. Jangan sampai dia kembali lagi ke desa setelah menginjakkan kaki ke kota. Karena merasa hidupnya lebih pantas dan berharga tinggal di kota daripada di desa yang terbelakang. Di kota banyak lamaran pekerjaan serta memiliki lingkungan yang sangat mumpuni dan layak untuk ditinggali. Sedangkan di desa, tidak perlu menyebutkan nya lagi karena rata-rata orang di sana adalah orang awam yang ketinggalan zaman dan kurang maju. Selain itu di kota juga ada banyak sekali pilihan laki-laki yang baik. Tidak hanya memiliki gaya hidup yang baik tapi laki-laki di kota juga perkosaan pekerja keras berbanding terbalik dengan orang-orang di desa yang pemalas dan pengangguran.
Fina sudah bercita-cita untuk menikah dengan orang di kota. Dia berpikir bawah tidak apa-apa jika suaminya tidak terlalu kaya selama memiliki sebuah rumah di kota dan gaji yang cukup untuk kehidupan sehari-hari. Tapi level pilihannya naik lagi ketika melihat para dokter yang mengajar di kampusnya. Mereka tampan dan memiliki jabatan yang tinggi di usia yang begitu muda. Di telah merancang banyak sekali skenario untuk mendekati orang-orang itu, hingga akhirnya Asri menikah dengan Arka. Levelnya berubah lagi. Tumbuh lah ambisi di dalam hatinya bahwa dia akan menaklukkan Arka. Karena semua yang Arka miliki mempunyai beranggapan bahwa harusnya dia yang menikah dengan Arka dan bukan Asri, jadi dia berusaha untuk menarik perhatian Arka tapi malah berujung di usir!
Tidak hanya di usir oleh Arka, tapi dia juga diseret ke kampung untuk menikah dengan sepupunya!
Ini adalah mimpi buruk!
__ADS_1
" Bu, dimana kak Asri?" Tanya Fina dengan nada masam.
Dia sangat penasaran ingin melihat bagaimana reaksi Arka ketika melihatnya bersanding dengan laki-laki lain, mungkinkah marah atau cemburu, dia mengharapkan perasaan ini ada di wajah Arka.
"Kakak kamu sedang tidak enak badan. Dia sedang beristirahat bersama suaminya di dalam kamar." Jawab Ibu tidak memperhatikan wajah masam putrinya.
"Oh." Lalu matanya menoleh ke pintu coklat yang kini telah tertutup rapat di ruangan lain.
__ADS_1
Bukankah ini tidak adil?
Tapi semua orang tidak memikirkan perasaannya karena mereka beranggapan bahwa Arka adalah seorang tuan muda dari keluarga kaya raya dan tidak mudah hidup ditempat seperti ini jadi sebisa mungkin mereka berusaha menyiapkan hal-hal yang baik untuk membuat Arka nyaman.
"Kakak aku selalu bahagia. Tidak seperti diriku yang dibuang di kampung untuk hidup menderita. Bapak dan Ibu sangat baik, aku nggak heran sih." Nada suaranya menyindir.
Dia sedang duduk dengan Ibu berdua, sementara suaminya tengah membantu orang-orang membereskan kekacauan di luar.
__ADS_1
Ibu sangat tidak senang mendengar apa yang Fina ucapkan.
"Jangan mengungkit masa lalu lagi. Awalnya dulu kamu memaksa kami untuk berhutang kepada saudagar Romlah untuk biaya pendidikan kamu di kota. Kami terpaksa melakukan untuk menuruti permintaan kamu. Tapi saat saudagar Romlah meminta pembayaran dengan sebuah pernikahan, kamu menolak untuk maju dan mengorbankan kakak kamu hingga dia harus putus sekolah. Lihatlah balasan yang Allah kirimkan kepada kakak kamu untuk menebus semua kesabarannya. Dia menikah dengan laki-laki yang baik dan memiliki kehidupan yang baik. Lalu setelah semua yang terjadi kamu mencoba lagi menghancurkan kehidupan kakak kamu dengan melenyapkan rumah tangganya, apakah kamu masih memiliki hati nurani? Jika kami tidak segera mengirim kamu ke sini maka sampai kapan kamu akan berulah lagi? Apakah kamu tidak malu diusir oleh Arka? Tidak bisakah kamu melihat betapa muak nya dia kepada kamu! Mungkin sebut saja dia merasa jijik, karena kamu selalu mengganggu nya. Jika kamu tidak mau, Nak, maka ketahuilah yang malu adalah Ibu dan Bapak. Kami tidak tahu harus menaruh di mana muka kami setiap kali bertemu dengan Arka!"