
"Bagaimana mungkin..." Ia menyentuh kaki kurus anak itu, di sana masih meninggalkan jejak darah kering yang artinya jika perlakuan ini sudah terjadi lebih dari satu kali.
"Sayang, tenangkan dirimu. Kita akan segera membawanya ke rumah sakit dan dia juga akan mendapatkan penanganan langsung dari dokter hebat." Ustad Vano berusaha menenangkan istrinya agar tidak kalut meskipun ia sendiripun sulit merasa tenang.
"Anak ini... persis seperti aku 14 tahun yang lalu, Mas. Jika aku...jika aku tidak ditemukan oleh Bunda dan Ayah maka nasibku tidak akan lebih buruk dari anak ini--"
"Aishi Humaira, tenangkan lah dirimu, sayang. Semua itu adalah masa lalu dan yang terpenting sekarang kamu telah bertemu dengan orang-orang baik, kamu bertemu dengan Papa dan bahkan menikah denganku. Tenanglah, semua itu ada di masa lalu. Kejadian itu tidak akan pernah menimpamu dan tidak akan terulang lagi pada anak ini, apa kamu mengerti?" Ustad Vano tahu bila istrinya terguncang karena penampilan anak ini memang sedikit mirip dengan Ai.
Hanya saja saat itu, Ustad Vano bertemu dengan Ai yang sudah agak gembil dan lebih bersih, dibandingkan dengan anak ini, penampilan Ai saat itu jauh lebih baik.
"Sekarang tenanglah karena kita akan ke rumah sakit." Bisik Ustad Vano lembut.
Ai menganggukkan kepalanya berkali-kali, memegang erat tangan dingin anak itu untuk berbagi kehangatan.
"Baiklah, kita pergi sekarang."
__ADS_1
...🍃🍃🍃...
Ini adalah sebuah takdir pikir Ai dan Ustad Vano bersamaan saat melihat laporan dari dokter yang menangani anak itu. Dokter mengatakan bila anak itu mengalami trauma yang cukup berat dari lingkungan di sekitarnya. Karena terlahir sebagai Hermaprodhit, anak itu mendapatkan perlakuan tidak pantas dari orang-orang.
Seperti yang dilakukan oleh anak laki-laki berseragam SMA itu, tidak hanya mempe*kosa anak itu, namun mereka juga melakukan sodom kepada anak itu. Menggunakan alat kelamin dan lubang pembuangan kotoran anak itu sekaligus untuk memuaskan hasrat seksual mereka. Bagaimana tidak, orang yang meminta bagian lebih dari dua orang sehingga mereka harus bergiliran untuk dipuaskan, sedangkan anak malang itu, anak yang masih belum mengerti aturan dan cara kerja dunia harus menanggung siksaan itu sendirian.
Dia kesakitan, dia sangat kesakitan. Alat kelamin ataupun bagian belakangnya mengalami pendarahan, darah merah nan segar terus saja mengalir dari kedua tempat itu akan tetapi orang-orang berpikiran bej*t itu seolah tidak mengerti apa yang anak itu rasakan.
Mereka terus menyiksanya sebagai alat pemuas nafsu dan memperlakukannya seperti sampah tidak berguna setelah selesai digunakan.
"Trauma anak itu..." Ustad Vano memeluk erat istrinya yang kini sedang sesenggukan menangis di dalam pelukannya.
Hati Ai dan Ustad Vano kian hancur rasanya mendengar vonis dari dokter. Mereka memang bukanlah orang tua kandung anak itu tapi hati nurani mereka sebagai manusia terus memanggil untuk meminta keadilan, menolong dan menyelamatkan anak itu dari penyiksaan berkelanjutan.
"Apakah kami bisa menggunakan terapi untuk membantu anak ini?" Tanya Ustad Vano berharap menemukan solusi.
__ADS_1
Dokter itu tersenyum,"Dia bisa, terapi teratur dapat membantunya kembali mengenal dunia anak-anaknya yang sempat hilang."
Ini adalah kabar baik, setidaknya anak itu tidak akan terjebak dalam trauma masa lalu.
"Lalu...lalu bagaimana dengan cidera di tubuhnya?" Tanya Ustad Vano lagi.
"Cideranya memang cukup berat tapi medis bisa menanganinya dengan hati-hati. Mungkin satu atau dua bulan perawatan, dia sudah bisa berjalan dengan normal dan berdiri dengan benar."
Satu atau dua bulan, itu akan memakan waktu yang cukup panjang tapi ini lebih baik daripada anak itu tidak melakukan perawatan untuk menyembuhkan luka-lukanya.
"Apa kalian adalah orang tua dari anak itu?" Dokter itu bertanya ragu.
Pasalnya pasangan suami istri di depannya ini terlihat sangat muda dan tampak berasal dari keluarga kaya jika dilihat dari penampilan mereka. Sedangkan usia anak di dalam sana sudah masuk 4 tahun dan terlihat sangat kurus juga kacau seperti anak yang terlantar.
Ustad Vano menggelengkan kepalanya,"Kami bukanlah orang tua maupun keluarganya, dok. Kami tadi tidak sengaja menemukannya di jalanan sedang..." Ustad Vano kesulitan melanjutkan kata-katanya.
__ADS_1
Dokter itu menghela nafas panjang,"Aku mengerti. Sungguh beruntung anak itu dipertemukan oleh kalian, karena jika kalian tidak menolongnya maka masa depan anak itu... pasti akan sangat tragis."
Ustad Vano tersenyum tipis,"Ini adalah pertolongan dari Allah, dok, bukan kami."